Budhiana: Media Online Isinya Chaos

Sapto Anggoro
Sapto Anggoro

ARCOM.CO.ID ,Bandung. Kepala Bidang Pengembangan Media Digital Pikiran Rakyat Budhiana Kartawijaya menegaskan bahwa saat ini berita-berita di Media Online kebanyakan isinya Chaos, sedangkan koran (media cetak) memberikan ketenangan bagi para pembaca setianya.

Hal ini diungkapkan Budhiana selaku Narasumber pada Diskusi Publik bertajuk, “Tata Kelola Infrastruktur Internet serta Kaidah Pertukaran Informasi Melalui Internet”, Jumat, (14/2/2014), di Executive Lounge Gedung Rektorat Universitas Padjadjaran (Unpad) jalan Dipatiukur Bandung.

Turut hadir pembicara lainnya seperti Sekjen Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) Sapto Anggoro, Pakar Teknologi Informasi Onno W. Purbo, dan Dekan Fakultas Hukum Unpad Sigid Suseno.

“Saat ini banyak Hoax yang ‘dimakan’ oleh Media Online”, kata Budhiana di awal paparannya, lebih lanjut ia menyoroti perkembangan Citizen Journalism, “Citizen Journalism di Amerika sudah lama ditinggalkan karena beritanya sulit diverifikasi”, ungkapnya.

Budhiana pun menyoroti peringkat rating yang dilansir Alexa.com bagi Media Online, “Bagi saya selaku pelaku media cetak, peringkat Alexa tidaklah penting, karena ‘Hit’ tidak menjadi duit”, tegasnya, “Saingan media cetak adalah Internet dan Televisi”, ujarnya.

Lebih lanjut Budhiana mengungkapkan bahwa, koran Pikiran Rakyat saat ini memiliki riset dan data terlengkap tentang klub sepakbola Persib, “Koran nasional di Indonesia, dan Media lainnya tidak memiliki data lengkap Persib selengkap Pikiran Rakyat”, tegasnya, “Media lokal tetap akan menjadi raja di daerahnya”, kata Budhiana di akhir paparannya.

Sekjen Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) Sapto Anggoro yang juga bekerja di Media Online Merdeka.com dan Kapanlagi.com mengatakan bahwa masa depan adalah Media Online, “Hukum dengan sendirinya akan mengikuti teknologi”, ujar Sapto, “Kita tinggal memilih menjadi obyek yang tergilas atau menjadi subyek”, tegasnya.

“Penduduk Indonesia tahun 2013 tercatat 248 juta jiwa, dan yang menggunakan Internet sebanyak 71 juta jiwa”, ungkap Sapto, “Pengguna Internet terbanyak di Indonesia rata-rata berusia 20 sampai 24 tahun”, ujarnya.

Di akhir paparannya  Sapto mengungkapkan bahwa penggunaan terbanyak Internet tahun 2013 di Indonesia adalah untuk menerima dan mengirim Email (95,75%).

Pakar Teknologi Informasi Onno W. Purbo dalam paparannya mengatakan bahwa rakyat Indonesia memiliki hak akses baik dalam level infrastuktur maupun informasi

Onno menceritakan masa kelam teknologi di Indonesia 14 tahun yang lalu, ketika para pengusaha diharuskan membayar 23 juta rupiah / tahun / akses poin (Hotspot) kepada pemerintah.

“Sebagai pengguna Internet terbesar di dunia, maka masyarakat Indonesia harus terpelajar agar selalu mengakses konten Internet yang baik”. Kata Onno, “Saya sedih saat ini mata pelajaran komputer di sekolah dihapus oleh pemerintah”, ujarnya.

Onno pun mengungkapkan keanehan dalam sistem pendidikan di Indonesia, “Setiap tahunnya Sekolah Dasar di seluruh Indonesia menerima 5,5 juta siswa, namun secara bersamaan yang lulus Sarjana hanya 600 ribu”, ungkapnya

Di akhir paparannya Onno menyarankan masyarakat Internet melakukan konsensus agar masa depan Internet di Indonesia semakin baik. (Bagoes Rinthoadi)