Direktur Utama Bank BJB Bien Subiantoro Akhirnya Lengser

IMG_20140512_183211

ARCOM.CO.ID ,Bandung. Direktur Utama Bank BJB Bien Subiantoro akhirnya lengser sejak, Jumat, 9 Mei 2014 akibat gagal dalam Fit and Proper Test yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Hal ini terungkap dalam Press Conference Bank BJB, Senin, (12/5/2014) di Praoe Sea Food jalan Sumatera Bandung.

Bien Subiantoro tidak sendirian gagal dalam uji layak dan kepatutan ini, Direktur Consumer Bank BJB Arie Yulianto dan Direktur Operasional Bank BJB Djamal Muslim ikut gagal dalam Fit and Proper Test yang dilakukan oleh OJK.

OJK menganggap ketiga mantan Direktur Bank BJB tersebut dianggap tidak menegakkan prinsip kehati-hatian.

Akibat kejadian ini Bank BJB mengalami kekosongan tiga Direktur, dan hanya memiliki Direktur Kepatuhan, oleh karenanya kegiatan operasional Bank BJB akan dilaksanakan oleh Komisaris Bank BJB.

“Menurut surat edaran dari OJK, kami bertiga sudah tidak diperkenankan berada dalam kepengurusan, dan tidak boleh menjadi pemegang saham Bank BJB selama tiga tahun”, ujar Bien”, “OJK telah melakukan strategi yang benar dengan eksekusi yang baik”, kata Bien di awal paparannya.

Bien mengklaim bahwa selama tiga tahun kepemimpinannya bersama Direktur Consumer Bank BJB Arie Yulianto, Bank BJB mengalami pertumbuhan yang sangat baik dan berkelanjutan.

Dalam kesempatan ini Bien menjelaskan beberapa keberhasilan selama menjadi Dirut Bank BJB, “Total Aset Bank BJB di tahun 2010 hanya 43,4 triliun rupiah, namun di bulan April 2014 menjadi 81,8 triliun rupiah”, kata Bien.

“Laba bersih Bank BJB di tahun 2010 hanya 890,1 miliar rupiah, menjadi 1,3 triliun di akhir 2013”, tegas Bien, “Aset Bank BJB naik 88 persen”, ujarnya.

Lebih lanjut Bien mengatakan bahwa pada tahun 2010 jaringan kantor Bank BJB hanya 297 kantor, “Akhir 2013 jaringan kantor Bank BJB meningkat menjadi 1346 kantor”, ungkap Bien.

“Saya menjunjung tinggi integritas”, kata Bien”, “Dahulu sebelum menerima jabatan menjadi Dirut Bank BJB, saya melihat Bank BJB merupakan bank daerah yang bisa menjadi bank nasional”, ungkapnya, “Sekarang Bank BJB menjadi bank nasional dan sistemik”, katanya.

Mengenai banyaknya kasus-kasus dan berita miring mengenai Bank BJB, Bien menjelaskan secara gamblang, “Saya merasa tidak tergelincir, karena keputusan-keputusan saya tidak menimbulkan kerugian terhadap Bank BJB”, kata Bien, ” Terbukti laba Bank BJB naik terus”, tegasnya.

Mengenai pembangunan BJB Tower, Bien mengatakan bahwa hal tersebut dilakukan untuk membuat Bank BJB semakin besar, “Saya terinspirasi Presiden Soekarno yang membangun Monas, Masjid Istiqlal dan Gelora Bung Karno”, ungkap Bien, “BJB Tower di Jakarta akan menjadi Landmark Bank BJB”, tegasnya.

Setelah tidak menjabat menjadi Dirut Bank BJB, Bien mengungkapkan langkah selanjutnya, “Selama enam bulan ke depan, saya tidak akan mengambil posisi profesional”, kata Bien, “Walaupun telah banyak perusahaan besar nasional yang telah meminta saya”, ungkapnya.

“Saya akan melakukan Fasting Periode minimal enam bulan”, ungkap Bien, “Fasting Period adalah meninggalkan kebun”, ujarnya, “Ketika saya masuk Bank BJB, saya sudah ikhlas”, kata Bien di akhir paparannya.

Di bawah kepemimpinan Bien Subiantoro, Bank BJB telah meraih 26 penghargaan, namun apa mau dikata sebelum masa jabatannya berakhir di tahun 2015, Bien harus berhenti di tengah jalan. (Bagoes Rinthoadi)

Comments are closed.