Sudirman Saad: Masa Depan Indonesia Ada di Laut

Sudirman SaadARCOM.CO.ID ,Bandung. Direktur Jenderal Kelautan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KP3K) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Sudirman Saad mengatakan bahwa masa depan dunia dan Indonesia ada di laut.

Hal ini dikatakan Sudirman pada acara Rapat Koordinasi Nasional Akselerasi dan Bimbingan Teknis Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, Minggu, (15/6/2014), di Hotel Grand Royal Panghegar jalan Merdeka Bandung.

“Sesuai mandat UU No. 27/2007 jo UU No. 1/2014 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, maka Pemerintah Daerah baik Provinsi dan Kab/Kota diwajibkan menyusun Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP-3-K)”, kata Sudirman di awal sambutannya.

“RZWP-3-K perlu dilegalkan dalam bentuk Peraturan Daerah (Perda),karena RZWP-3-K memuat alokasi ruang di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil untuk jangka waktu 20 tahun” tegas Sudirman, ”

“Dengan adanya Perda RZWP-3-K maka akan memberikan jaminan dan kepastian hukum terhadap alokasi ruang di perairan laut, selain itu dapat dijadikan rekomendasi pemberian perizinan pemanfaatan ruang di perairan laut”, kata Sudirman.

Lebih lanjut Sudirman mengatakan bahwa meskipun UU No. 27/2007 jo UU No. 1/2014 telah berlaku tujuh tahun, tapi baru empat provinsi dari 34 provinsi, dan 12 Kab/Kota dari 319 Kab/Kota yang telah mempunyai Perda tersebut, diantaranya Jawa Barat, DI Yogyakarta, Jawa Timur, dan Sumatera Barat.

“Daerah yang belum memiliki Perda belum memahami pentingnya zonasi tersebut”, ungkap Sudirman, “Padahal rencana zonasi merupakan basis untuk melakukan kegiatan laut”, ujarnya, “Hal ini menunjukkan pemahaman terhadap Undang-Undang ini di daerah masih sangat terbata”, katanya.

“Perda Zonasi ini sangat penting di masa sekarang dan di masa depan”, tegas Sudirman, “Sebagai ilustrasi tahun 2050 bumi akan dihuni 9 miliar manusia, maka kebutuhan pangan akan meningkat, sehingga dibutuhkan ratusan juta hektar lahan pertanian yang mengakibatkan reklamasi pantai dan pergerakkan ke pesisir”, ungkapnya.

“Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil akan percuma dilakukan bila masih ada konversi lahan pertanian”, kata Sudirman, “Maka harus distop konversi lahan pertanian, dan mulai melakukan budi daya perikanan dan rumput laut, karena masa depan dunia dan Indonesia ada di laut”, tegasnya.

“Saat ini Indonesia telah berkomitmen di tahun 2020 akan menkonversi lautnya seluas 20 juta hekta”, kata Sudirman.

“Menyusun rencana zonasi tidak boleh hanya duduk di kursi serta tidak boleh berdasarkan insting dan order, tetapi harus berdasarkan Scientific Base, kajian dan survei”, tegas Sudirman.

Lebih lanjut Sudirman mengungkapkan bahwa saat ini kabel dan pipa bawah laut di perairan Indonesia sangat semrawut seperti sarang laba-laba, “Hal ini dirancang negara tetangga agar Indonesia tidak bisa berkembang, akibatnya di Batam dan Karimun tidak bisa dibangun pelabuhan”, kata Sudirman, “Bahkan di pulau Madura pernah mati lampu selama dua minggu karena kabel bawah laut terkena jangkar”, ujarnya.

Di akhir paparannya Sudirman mengatakan bahwa pembuatan Perda Zonasi tidak mudah karena terlalu banyak kepentingan di dalamnya, “Di dalam peta perairan laut ada peta pertambangan, kawasan strategi pariwisata, perhubungan, kelautan, dan lingkungan hidup, bila peta di Overlap maka akan terjadi konflik kepentingan”, kata Sudirman. (Bagoes Rinthoadi)

Comments are closed.