Disertasi Eko Budi Santoso Berkontribusi Tinggi Bagi Investor

IMG_20140626_124436ARCOM.CO.ID ,Bandung. Dosen Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Eko Budi Santoso akhirnya menyelesaikan Disertasinya pada Sidang Doktoral program studi Doktor Perencanaan Wilayah dan Kota.

Hal ini terungkap dalam Sidang Promosi Sekolah Pascasarjana Institut Teknologi Bandung (ITB) pada program studi Doktor Perencanaan Wilayah dan Kota, Kamis, (26/6/2014), di Ruang Multimedia 9311 Gedung Labtek VI ITB jalan Ganesha Bandung.

Sidang Promosi Doktor Eko Budi Santoso dihadiri Promotor Tommy Firman, Ko-Promotor Dewi Sawitri, dan Ko-Promotor Heru Purboyo.

Disertasi berjudul, “Perkembangan
Kawasan Persinggahan Transportasi Pada Sumbu Pengembangan (KPT pada SP)”, merupakan laporan hasil penelitian yang dilakukan Eko Budi Santoso sejak tahun 2012 sampai dengan awal 2014.

Penelitian Eko Budi Santoso memiliki kontribusi yang tinggi pada keilmuan perencanaan wilayah dan kota, karena penelitiannya mengisi kekosongan penjelasan teoritik dari berbagai teori yang telah ada dalam perencanaan wilayah dan kota, khususnya melengkapi teori Development Axes/Sumbu pengembangan yang pertama kali dinyatakan oleh Pottier pada tahun 1963 dan teori serta model Myrdalian cumulative causation (MCC) yang pertama kali dinyatakan oleh Myrdal (1957) dan dilanjutkan oleh Pred (1966), Keeble (1967), dan Goodal (1972).

Hasil penelitian ini mengisi kekosongan penjelasan mengenai perkembangan kawasan sepanjang sumbu pengembangan dimana pada terdapat aliran orang dan barang yang sama, tetapi pada kenyataannya menunjukkan perkembangan yang berbeda-beda.

Konsep yang menjadi dugaan awal penelitian adalah adanya daya tarik
kawasan (Node Attractiveness) sebagai suatu konsep yang dinamis, inovatif, dan kreatif yang dapat dikembangkan dan dikelola secara berkelanjutan oleh pelaku di kawasan.

Adanya daya tarik kawasan tersebut dapat dibuktikan dalam penelitian ini sebagai faktor yang mempengaruhi perkembangan kawasan pada sumbu pengembangan.

Konsep teori yang dihasilkan dari penelitian ini adalah konsep teori
mengenai perkembangan kawasan persinggahan transportasi pada sumbu pengembangan, dimana di dalamnya terdapat daya tarik kawasan sebagai faktor yang mempengaruhi perkembangan kawasan, dan berlakunya prinsip sirkuler.

Disertasi berjudul, “Perkembangan
Kawasan Persinggahan Transportasi Pada Sumbu Pengembangan (KPT pada SP)”, ternyata dapat digunakan oleh investor untuk berinvestasi, “Hasil penelitian ini dapat digunakan oleh investor untuk berinvestasi”, kata Eko, “Penelitian ini menjelaskan dimana sebaiknya berinvestasi, dan bagaimana menguntungkan investor dalam jangka waktu menengah panjang”, ujarnya.

Lebih lanjut Eko menjelaskan bahwa pemasaran yang berlebihan di suatu kawasan tidak menaikkan perkembangan kawasan secara cepat, dan itu merugikan investasi.

“Dari pemahaman hasil penelitian ini, saya mengkonsepsikan teori dapat diterapkan dalam membangun wilayah termasuk mengorganisasikan ruang, tapi yang dilalui sumbu pengembangan”, kata Eko.

“Sumbu pengembangan yaitu jalur regional yang menghubungkan kota-kota besar yang satu dengan kota yang lainnya”, ujar Eko, “Bagi pemerintah daerah konsepsi ini dapat diterapkan di dalam membangun kawasan-kawasan maupun kota-kota kecil menengah yang berada di sumbu pengembangan”, tegasnya.

“Dengan memanfaatkan konsepsi daya tarik tadi, hanya yang mampu mengembangkan daya tarik kawasanlah yang bisa berkembang”, kata Eko, “Persyaratan lain yaitu daerah yang masih kecil harus punya penduduk pendukung, dan memiliki kegiatan yang memicu perkembangan, juga harus memiliki kantung-kantung permukiman di bagian belakang yang menjadi wilayah Interland, baru kawasan tersebut dapat mengembangkan daya tarik kawasan”, ungkapnya.

Lebih lanjut Eko mengatakan bahwa daya tarik kawasan adalah konsepsi yang bersifat dinamis inovatif kreatif yang dapat dikembangkan oleh pelaku-pelaku kegiatan di kawasan secara berkelanjutan,dan terus menerus, supaya dapat menangkap orang -orang untuk singgah, “Hasil persinggahan itu meneteskan manfaat bagi perkembangan kawasan”, kata Eko.

“Manfaat yang didapat antara lain adanya potensial Demand, dan adanya potensial produser”, kata Eko, “Dari manfaat tersebut muncullah kegiatan- kegiatan, dan dari kegiatan maka kawasan akan tumbuh lebih besar”, tegasnya.

“Penelitian saya dilakukan di Jawa Barat, karena Tasikmalaya merupakan kawasan yang cepat berkembang, tetapi di Tasikmalaya juga ada yang tidak berkembang”, kata Eko, “Daerah yang tidak berkembang dapat disuntik daya tarik, dan pemerintah dapat masuk melalui infrastruktur serta pemberdayaan, supaya dapat meningkatkan daya tarik maupun ukuran besaran kawasan”, ujarnya.

Eko mengungkapkan bahwa konsepsi yang ia buat belum tersosialisasikan, “Sidang ini untuk mensosialisasikan teori ini”, kata Eko, “Disertasi ini sebagai suatu strategi pengembangan wilayah maupun nasional”, ujarnya, “Saya siap membantu pemerintah daerah”, tegasnya.

Mengenai kawasan Nagreg, Eko menjelaskan bahwa Nagreg tidak berkembang, padahal usianya sudah 27 tahun, “Nagreg tidak berkembang karena tidak mampu mengembangkan daya tarik, terutama sebagai rantai perjalanan, selain itu Nagreg tidak memiliki kebebasan berusaha karena dihilangkan disebabkan ada orang yang melarang orang lain berusaha di situ, baik dengan cara verbal maupun penguasaan lahan”, ungkap Eko, “Hal itulah yang membuat Nagreg tidak berhasil, selain itu pemerintah juga tidak masuk di kawasan Nagreg”, ujarnya.

“Yang dapat dikembangkan oleh konsep saya ini adalah wilayah-wilayah yang berada pada sumbu pengembangan yang menghubungkan kota besar yang satu dengan kota besar yang lainnya”, kata Eko, “Teori yang saya nyatakan ini lebih kepada wilayah-wilayah yang dilalui sumbu pengembangan atau jalan jalan arteri primer atau jalan nasional”, ujarnya.

Di akhir paparannya, Eko menegaskan bahwa dirinya akan terus berkarya membuat karya ilmiah yang lebih banyak, serta mengabdi kepada bangsa dan negara. (Bagoes Rinthoadi)

Comments are closed.