Nus Nuzulia: Target Ekspor USD 190 Miliar Optimis Tercapai

IMG_20140827_111734

ARCOM.CO.ID ,Bandung. Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kementerian Perdagangan RI Nus Nuzulia Ishak menegaskan bahwa target pertumbuhan ekspor yang ditetapkan Kementerian Perdagangan di tahun 2014 senilai USD 190 miliar atau sebesar 4,1% optimis bisa tercapai.

Hal tersebut ditegaskan Nus Nuzulia dalam wawancara singkat seusai membuka Forum Konsultasi Teknis Koordinasi Program Pusat dan Daerah Tahun 2014, bertema: “Meningkatkan Sinkronisasi dan Sinergi Kegiatan Antara Pusat dan Daerah dalam Mendukung Capaian Target Ekspor Nasional”, Rabu, (27/8/2014), di Hotel Prama Grand Preanger jalan Asia Afrika Bandung.

Forum Konsultasi ini turut dihadiri Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Barat Ferry Sofwan Arif, Kepala Dinas Bidang Perdagangan Provinsi seluruh Indonesia, Pejabat Eselon II Ditjen PEN, Kepala Pendidikan dan Pelatihan Ekspor Daerah dari lima daerah di Indonesia, dan menghadirkan pembicara Lianti Rahardjo dari Universitas Bina Nusantara.

“Kementerian Perdagangan telah menetapkan target pertumbuhan ekspor di tahun 2014 sebesar 4,1 persen atau senilai USD 190 miliar, dimana khusus untuk non migas pertumbuhan ekspornya sebesar 5,5 sampai 6,5 persen atau sekitar USD 158-160 miliar”, kata Nus Nuzulia di awal wawancara.

“Kementerian Perdagangan akan bagi-bagi target ke seluruh Provinsi untuk mengawal pencapaian target ekspor tersebut”, ungkap Nus Nuzulia, “Dalam forum ini Kementerian Perdagangan melakukan sinergi dengan daerah dalam rangka pengembangan program ekspor”, ujarnya.

“Saat ini sekitar 60 persen kegiatan peningkatan ekspor ada di daerah”, kata Nus Nuzulia, “Dalam satu tahun ada 6000 Usaha Kecil dan Menengah (UKM) ekspor yang Kementerian Perdagangan bina”, ungkapnya, “Hal ini dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan pelaku UKM mengenai ekspor, adaptasi produk serta penyebaran informasi, misalnya permintaan hubungan dagang”, tegasnya.

“Selanjutnya pelaku usaha harus menindak lanjuti beberapa permintaan hubungan dagang dari beberapa negara”, kata Nus Nuzulia.

Lebih lanjut Nus Nuzulia menjelaskan bahwa kendala-kendala di UKM diantaranya masalah Continuously Product, “Untuk melakukan ekspor dibutuhkan eksportir yang tangguh dan yang betul-betul sudah kuat”, ujarnya, “UKM harus kita dukung agar lebih kuat lagi untuk memenuhi pasar ekspor”, tegasnya.

Mengenai semakin dekatnya Masyarakat Ekonomi ASEAN, Nus Nuzulia mengatakan bahwa sejak 2009-2013 perdagangan antara Indonesia dan Asean pertumbuhannya mencapai 9,2 persen, “Pertumbuhannya positif setiap tahunnya”, ungkapnya. “Ada beberapa negara di ASEAN yang menjadi Partner dan cukup positif pertumbuhan bilateralnya dengan Indonesia, diantaranya Myanmar sebesar 32 persen, disusul Vietnam, Thailand, dan Filipina”, kata Nus Nuzulia, “Komoditi kita hampir sama dengan ASEAN, komoditi yang positif pertumbuhannya diantaranya otomotif, produk pertanian, perkebunan, elektronik, perikanan, dan kayu”, ujarnya, “Kecuali satu yang mengalami penurunan yaitu karet yang turun minus 2,7 persen”, ungkapnya.

Lebih lanjut Nus Nuzulia mengungkapkan bahwa ada beberapa komoditi yang mengalami penurunan yaitu batu bara, “Batu bara kita targetkan ekspornya mencapai USD 25 milyar, tapi kenyataannya harga batu bara dunia turun, jadi targetnya kita Review menjadi USD 21 milyar”, katanya.

“Ada beberapa komoditi yang masih cukup bagus dan mencapai target yaitu produk makanan”, kata Nus Nuzulia, “Yang tidak disangka-sangka adalah otomotif, tadinya pertumbuhan otomotif hanya 4,5 persen tetapi bisa mencapai 5-7 persen”, ungkapnya, “Indonesia banyak ekspor otomotif ke delapan negara, diantaranya Kazakhstan”, ujarnya.

“Perhiasan kita mengalami kenaikan 96 persen untuk ekspor”, ungkap Nus Nuzulia, “Selain itu sekarang kita memberlakukan ijin untuk ekspor konsentrat tembaga yang memberikan tambahan sebesar USD 1 miliar, sedangkan batu bara memberi tambahan USD 900 juta”, ujarnya, “Jadi kita optimis target pertumbuhan ekspor di tahun 2014 senilai USD 190 miliar bisa tercapai”, tegas Nus Nuzulia di akhir wawancara.

Kinerja ekspor Provinsi Jawa Barat periode Januari-Mei 2014 nilainya sekitar USD 11,6 miliar atau naik 2,25 persen dibandingkan tahun 2013 di periode yang sama, namun ekspor non migas hanya mencapai USD 10,74 miliar atau turun 0,61 persen dibandingkan tahun 2013 di periode yang sama. (Bagoes Rinthoadi).

Comments are closed.