PLTSa Jangan Dibangun Di Bandung Karena Menimbulkan Kanker

IMG_20140829_111459

ARCOM.CO.ID ,Bandung. Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) berbasis Insinerator sebaiknya tidak dibangun di kota Bandung karena akan menimbulkan penyakit kanker.

Hal tersebut ditegaskan pegiat lingkungan Internasional dari Bali Fokus Foundation / IPEN Yuyun Ismawati saat Media Gathering Bandung Cleanact!on, Jumat, (29/8/2014), di Le Marly Pantry jalan Citarum Bandung, turut hadir Executive Board Bandung Cleanact!on Ria Ismaria, dan Founder Gemericik M.Satori.

“Kami sudah menegaskan sejak tahun 2007 sebaiknya PLTSa tidak di bangun di kota Bandung”, kata Yuyun di awal wawancara, “Dikarenakan Bandung lokasinya berada di cekungan, selain itu kualitas udara di Bandung sudah cukup buruk”, ujarnya, “Tanpa PLTSa pun udara Bandung kurang baik, contohnya saat ini banyak anak-anak yang alergi dan terganggu pernapasannya”, ungkapnya.

“Insinerator atau PLTSa yang akan dibangun di Bandung (Gedebage) lokasinya terletak di pemukiman”, kata Yuyun, ” Meskipun tata ruangnya sudah dirubah, realita dan kenyataannya PLTSa masih berada di tengah dan dikepung pemukiman”, tegasnya.

“Pembangunan PLTSa harus menjadi tanggung jawab Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) juga”, tegas Yuyun, ” Seharusnya KLH memberikan arahan lokasi pembangunan PLTSa dan boleh atau tidaknya PLTSa”, ujarnya, “Hal ini harus menjadi perhatian pemerintah pusat, karena dampaknya terhadap kesehatan dan lingkungan sekitar itulah yang sebetulnya sangat penting”, katanya.

“Insinerator PLTSa tidak memecahkan masalah sampah sama sekali, karena insinerator hanya membakar sampah, dan hal itu hanya merubah bentuk sampah dari wujud solid menjadi abu atau gas”, kata Yuyun.

Lebih lanjut Yuyun menjelaskan bahwa pengalaman di negara lain, sampai dengan radius 30 km terdeteksi kasus-kasus kanker akibat Insinerator atau PLTSa, “Hal tersebut terjadi di benua Eropa, Amerika, Inggris dan Iceland, dikarenakan abu hasil Insinerator terlepas dari udara dan turun ke tanah”, kata Yuyun, “Hasilnya peternakan-peternakan sapi di Eropa tercemar Dioxin”, ungkapnya.

“Pencemaran Dioxin tidak terlihat dampaknya sekarang, tetapi dalam waktu lima hingga sepuluh tahun akan terlihat”, kata Yuyun, “Khusus di Inggris, dalam jangka waktu 7 tahun, kasus-kasus kanker di sekitar lokasi 12 insenerator meningkat drastis”, ungkapnya.

Menurut Yuyun untuk memecahkan permasalahan sampah di kota Bandung diperlukan strategi di tingkat masyarakat, “Kita harus meminimalisasi sampah dari sumbernya”, tegas Yuyun, “Keluarga harus memilah dan, mengomposkan sampah, hal tersebut realistis dan bisa dilakukan”, ujarnya.

“Bila masing-masing keluarga di kota Bandung bisa meminimalkan sampah sampai 50 persen, maka sampah yang diangkut dari TPS ke TPA juga akan berkurang, sehingga beban TPA pun bisa jauh berkurang hingga 20-30 persen”, kata Yuyun di akhir wawancara.

Saat ini konsep membuang sampah di kota Bandung adalah kumpul angkut dan buang, dahulu pengelolaan sampah di kota Bandung masih primitif dikarenakan kota Bandung tidak memiliki lahan yang besar.

Satu tahun Ridwan Kamil menjadi Walikota Bandung, tetap saja kota Bandung belum bersih, dan 50 persen pelayanan kebersihan di kecamatan-kecamatan di kota Bandung masih buruk.

Dibandingkan dengan kota Balikpapan, efektifitas pengangkutan sampah di kota Bandung masih jauh tertinggal, efektifitas pengangkutan di Balikpapan mencapai 85 persen, sedangkan kota Bandung hanya 31 persen.

Fakta di lapangan, jumlah TPS di kota Bandung masih kurang dan status lahannya tidak jelas, selain itu jumlah gerobak sampah di kota Bandung seadanya dan reyot, parahnya gerobak tersebut masih ditarik oleh manusia, dan yang paling menyedihkan gaya hidup masyarakat kota Bandung masih menyampah. (Bagoes Rinthoadi)

Comments are closed.