Salim Segaf Al Jufri: BLT Diperlukan Ketika BBM Naik

mensosARCOM.CO.ID ,Bandung. Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri menegaskan bahwa Bantuan Langsung Tunai (BLT) bagi orang miskin diperlukan ketika harga Bahan Bakar Minyak (BBM) naik.

Hal tersebut ditegaskan Salim Segaf dalam sesi wawancara seusai menghadiri Wisuda Magister Pekerjaan Sosial Spesialis ke-7 dan Sarjana Sains Terapan Pekerjaan Sosial ke-48 Tahun Akademik 2014/2015 STKS, Selasa, (14/10/2014), di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) jalan Taman Sari Bandung.

“Saat ini terdapat 30 juta penduduk di Indonesia yang masuk kategori sangat miskin,” kata Salim Segaf di awal wawancara, “Maka ketika BBM naik, BLT sangat diperlukan bagi orang miskin karena dipastikan daya beli orang miskin akan berkurang,” ujarnya.

“Kita harus menjaga dan mendampingi orang-orang miskin,” kata Salim Segaf, “Selain itu orang miskin harus tahu apa saja haknya,” ujarnya, “BLT bukan berupa subsidi barang tetapi harus berupa tunai bagi orang-orang yang membutuhkan,” tegasnya.

Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri mengungkapkan bahwa di Kementerian Sosial terdapat dana Bantuan Sosial (Bansos) senilai Rp 5,5 triliun, “Saat ini terdapat dana Bansos senilai Rp 91 triliun yang berasal dari APBN, namun dana tersebut disebar untuk 16 kementerian dan lembaga,” ungkapnya, “Sebaiknya dana tersebut disebar hanya untuk 2 sampai 3 lembaga, atau perlu dana bansos senilai Rp 91 triliun dikelola semua oleh Kementerian Sosial,” tegasnya.

Lebih lanjut Salim Segaf mengatakan bahwa masih ada 4,1 juta anak terlantar di Indonesia, sedangkan jumlah lanjut usia mencapai 2,9 persen dari penduduk Indonesia.

Mengenai pemerintahan baru di era Presiden Joko Widodo, Salim Segaf berharap agar pemerintahan baru tidak menghilangkan program-program nasional yang telah dibuat Kementerian Sosial, “Program Keluarga Harapan jangan dihilangkan,” tegasnya, “Prioritas Nasional jangan dihilangkan dan program yang bagus dipertahankan,”katanya.

Salim Segaf berharap pemerintahan baru harus bergandengan tangan dengan semua pihak dalam menjalankan program nasional, “Tanpa ada kolaborasi, program nasional tidak akan tercapai,” ujarnya, “Banyak ide-ide Kementerian Sosial yang perlu dijalankan tanpa menunggu tahun depan,” tegasnya.

Mengenai Sumber Daya Manusia (SDM) di bidang pekerjaan sosial (peksos), Salim Segaf menegaskan bahwa peksos merupakan faktor strategis dalam perubahan sosial di masyarakat, “Peksos harus melibatkan diri dalam perubahan tersebut,” tegasnya.

Lebih lanjut Salim Segaf berharap Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) dapat meningkatkan kualitasnya agar mampu menghasilkan peksos yang kompeten dan profesional, “STKS harus mengembangkan pendidikan yang responsif terhadap kebutuhan yang menyentuh permasalahan di masyarakat,” ujarnya.

“Dosen, mahasiswa dan lulusan STKS harus selalu melakukan kajian atau penelitian yang lebih inovatif dalam menangani masalah kesejahteraan sosial,” kata Salim Segaf, “Selain itu praktek berbasis bukti Evidence Based Practice (EBP) harus terus dilakukan,” ujarnya.

“Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) merupakan momen penting bagi keberadaan profesi peksos,” ujar Salim Segaf, “Peksos Indonesia berpeluang memasuki area peksos internasional, namun dengan syarat peksos Indonesia mempu meningkatkan kapasitas kompetitif,” kata Salim Segaf di akhir wawancara.

Saat ini terdapat 38 kampus di Indonesia yang membuka jurusan kesejahteraan sosial baik D1 maupun D4, kebutuhan peksos mencapai 155.000 orang, dan hingga kini STKS telah memenuhi kebutuhan peksos hampir 12.000 orang. (Bagoes Rinthoadi)

Comments are closed.