Bank Indonesia Fokus Kembangkan Klaster Sapi Potong

BIARCOM.CO.ID ,Sukabumi. Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah VI di tahun 2014 hingga beberapa tahun ke depan akan fokus dalam program pengembangan klaster sapi potong.

Hal ini terungkap dalam Penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) Klaster Sapi Potong antara Bank Indonesia dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Sukabumi, Jumat, (31/10/2014), di Desa Pagelaran, Kecamatan Purabaya, Kabupaten Sukabumi.

Turut hadir dalam acara ini, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Wilayah VI Dian Ediana Rae, Bupati Sukabumi Sukmawijaya, Ketua Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sukabumi Dana Budiman, dan perwakilan Kelompok Ternak Al Hasanah.

“Kehadiran Bank Indonesia di Sukabumi merupakan kesempatan yang cukup langka,” kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Wilayah VI Dian Ediana Rae di awal paparannya, “Di Garut dan Bandung Barat juga dilaksanakan acara yang sama seperti di Sukabumi,” ujar Dian.

Lebih lanjut Dian menjelaskan bahwa harga daging sapi yang naik turun menyebabkan inflasi, “Delapan puluh persen penyebab inflasi timbul di daerah, terutama pada produksi dan distribusi,” ungkapnya.

“Harga daging sapi sekarang berkisar 100 ribu rupiah per kilogram,” kata Dian, “Harga ini cukup bertahan lama padahal daya beli masyarakat berkurang,” ujarnya, “Saat ini perlu menambah suplai sapi, karena kebutuhan lokal hanya terpenuhi 19 persen, kondisi ini tidak sehat,” tegasnya.

“Kewenangan mengenai permasalahan sapi ada di pemerintah daerah, yang penting adalah kreativitas masyarakat,” kata Dian, “Semakin lama masyarakat akan terbiasa dengan kata klaster, dan kegiatan seperti ini akan terpola dan sistematis,” ujarnya.

Lebih lanjut Dian menjelaskan bahwa sebaiknya sapi harus dimasukkan ke kandang komunal agar kotorannya bisa ditampung dan bermanfaat, “Sapi di Indonesia lebih cocok digemukkan di dalam kandang,”kata Dian, “Di Semarang ada peternakan sapi yang berhasil, bahkan disana digabungkan dengan peternakan lele,” ungkapnya.

“Kebutuhan sapi di Indonesia saat ini mencapai jutaan ekor, maka ke depannya target pengembangan sapi potong harus masif,” kata Dian di akhir paparannya.

Bupati Sukabumi Sukmawijaya mengatakan bahwa acara Penandatanganan MoU Klaster Sapi Potong antara Bank Indonesia dengan Pemkab Sukabumi merupakan bentuk nyata pengendalian inflasi yang dibebankan kepada daerah.

“Saat ini masyarakat Sukabumi sadar makan daging sapi tapi daya beli kurang,” kata Sukmawijaya, “Berdasarkan catatan, kebutuhan daging sapi masyarakat Sukabumi 10 ribu ekor per bulan, namun pasokan sapi lokal hanya 10 persen,” ungkapnya, “Idealnya masyarakat Sukabumi dapat memenuhi kebutuhannya dari Sukabumi sendiri,” tegasnya.

Di akhir paparannya Sukmawijaya menjelaskan bahwa Kecamatan Purabaya Kabupaten Sukabumi merupakan kawasan agribisnis ternak, “Di Purabaya masih terdapat lahan seluas 1600 hektar,” katanya.

Ketua Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sukabumi Dana Budiman dalam paparannya mengatakan bahwa atas dorongan Bank Indonesia maka pada Januari 2014 dibentuk TPID Sukabumi, “Kami awalnya agak kaget, apa yang dapat kami lakukan untuk mengendalikan inflasi,” kata Dana.

“Langkah awal TPID Sukabumi untuk mengendalikan inflasi adalah menyiapkan produksi-produksi yang dihasilkan sumber daya alam di Sukabumi,” kata Dana, “Saat ini inflasi di Sukabumi masih dibawah 0,3 persen,” ungkapnya.

“Dengan adanya Klaster sapi yang digagas Bank Indonesia, maka diharapkan klaster ini akan memenuhi ketersediaan daging sapi di Sukabumi,” ujar Dana,

“Keinginan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) di Purabaya kepada Bank Indonesia saat ini adalah memohon diberikan bantuan lahan seluas 100 hektar untuk pengembangan sapi potong,” kata Dana di akhir paparannya.

Dalam melaksanakan program kerja klaster sapi potong di Sukabumi, Bank Indonesia melakukan tahap identifikasi awal, implementasi, dan monitoring serta evaluasi program.

Sasaran akhir yang ingin dicapai dari program pengembangan klaster sapi potong di Sukabumi yaitu, terbangunnya akses pasar melalui kemitraan UMK dengan usaha menengah/besar, serta terbangunnya akses bahan baku melalui kemitraan dengan sumber bahan baku. (Bagoes Rinthoadi)

Comments are closed.