Herry Dim Gelar Pameran Cosmogony di Bale Motekar

Herry DimARCOM.CO.ID ,Bandung. Pelukis kebanggaan kota Bandung Herry Dim kembali melakukan eksperimen dengan menggelar pameran lukisan bertajuk “Cosmogony”. Hal ini terungkap dalam Press Conference Pameran Seni Cosmogony karya Herry Dim, Minggu, (29/3/2015), di Bale Motekar jalan Banda Bandung, turut hadir Budayawan Jakob Sumardjo, dan Kriminolog Universitas Padjadjaran (Unpad) Yesmil Anwar.

“Sebenarnya setelah karya lukisan Cosmogony diluncurkan, maka hak bicara saya sudah tidak ada lagi,” kata Herry Dim di awal paparannya, “Saya membuat pameran Cosmogony tidak egois, tapi melibatkan beberapa seniman,” ujarnya.

Lebih lanjut Herry menjelaskan bahwa apabila Cosmogony tidak ditarik ke ruang pengetahuan maka yang terjadi adalah tahayul, “Pengetahuan membuat tahayul dan sihir menjadi sebuah pemahaman, dan Cosmogony tidak menjadi tahayul dan barang sakti, tapi jadi pengetahuan dan Healing Art,” tegasnya, “Walaupun pengetahuan sendiri ada hubungannya dengan Magic Semesta,” ujarnya.

“Di dalam karya ada tanda tanda visual yang menjadi konsensus tertentu, seperti di sebuah buku ada tanda-tanda mirip rambu lalu-lintas,” ungkap Herry, “Sebagai contoh rambu tanda stop membuat otak bekerja, tanda stop membuat gerakan pikiran dan kesadaran, serta memunculkan tindakan,” ujarnya.

Herry menjelaskan bahwa karya serial Cosmogony melibatkan kehadiran dan restu semesta alam, “Serial karya Cosmogony sejatinya merupakan kesemestaan kita,” ujarnya.

“Proyek kerja Cosmogony ini mulai dicita-citakan dan memasuki proses percobaan pada akhir 2013,” ungkapnya, “Kemudian muncul ajakan simpatik dari Rektor Unpad Ganjar Kurnia yang menawarkan gedung baru Bale Motekar untuk dijadikan tempat pameran lukisan Cosmogony, sejak itu langkah-langkah perencanaan pameran lukisan Cosmogony mulai dijalankan,” kata Herry di akhir paparannya.

Budayawan Jakob Sumardjo mengatakan bahwa Cosmogony ada hubungannya dengan mitologi-mitologi tua, “Kosmogoni diartikan ‘The Origin or Generation of the Universe’ dan bermakna proses atau gerak dinamik yang mengarah kepada kosmologi atau ketataan keberadaan yang kurang lebih tetap,” kata Jakob.

Lebih lanjut Jakob mengatakan bahwa cara Herry Dim memanifestasikan dirinya dalam lukisan Cosmogony dapat mengandung dua teori semesta yang saling berseberangan yaitu teori Big Bang dan teori Alam Tetap, “Herry Dim lebih melihat mandalanya sebagai gerak perubahan terus menerus dengan maknanya sendiri yang kurang lebih tak terbatas,” kata Jakob.

“Herry Dim seperti seniman-seniman lain lebih tertarik pada dinamika konflik berupa belitan-belitan masalah, tetapi belitan tersebut diletakkan dalam pola besar yang jelas sistem hubungan kesatuannya,” ungkap Jakob, “Setiap masalah atau konflik dalam lukisan Cosmogony Herry Dim dapat dikenali asal-usul maknanya,” katanya.

Di akhir paparannya Jakob menjelaskan bahwa Cosmogony berhubungan dengan sunda,” Sejumlah angka 25 selalu disebut dalam pantun sunda,” kata Jakob, “Selain itu suatu keadaan selalu terdiri dari tiga nilai kekuasaan, dan Mandala selalu terdiri dari 8, sebagai contoh 25 adalah hasil 8 dikalikan 3, dan ditambah satu sebagai pusatnya, itulah asal usul Cosmogony,” kata Jakob.

Aspek rupa di dalam karya-karya Herry Dim memang merujuk pada pola-pola purbawi, dan gambaran-gambaran yang sangat dikenal oleh setiap orang karena telah menjadi bagian dari alam bawah sadar kolektif (Archetype).

Gambaran-gambaran tersebut diolah kembali dengan prinsip “Badingkut” sehingga memunculkan sejumlah struktur baru yang bisa dikomunikasikan kepada masyarakat modern ataupun kontemporer.

Bahan dasar karya-karya Cosmogony yang ditampilkan Herry Dim di Bale Motekar (12 April – 19 Mei 2015) berasal dari sampah kertas koran dan bekas kantong semen.

Hal penting dalam pameran Cosmogony ini yaitu bagaimana agar seniman dapat ambil bagian di dalam masalah pemanasan global, penebangan hutan (Deforestasi), dan masalah lingkungan hidup.

Berikut Susunan Acara Pameran Cosmogony karya Herry Dim di Bale Motekar jalan Banda Bandung.

Minggu, (12/4/2015): Pembukaan Pameran.

18.30-19.30 WIB : Jentreng dan tembang lagu-lagu Buhun

19.30-20.00 WIB : Pidato sambutan dan pembukaan pameran oleh Menteri Pariwisata RI Arief Yahya

20.00-20.10 WIB : Jentreng, tembang, dan puisi

Rabu, (22/4/2015): Sehari Ruwatan Bumi

10.00-12.00 WIB : Kendang Penca

13.00-15.10 WIB : Helaran Seni Reak dan Komunitas Jeprut Jaya

16.00-17.00 WIB : Ade  “Idea” Rudiana main perkusi interaktif dengan tema “TataluNgagebah Bala”

17.00-18.00 WIB : Ketuk Tilu dan Jaipong

19.45-20.00 WIB : “Mother Earth” Blues Akustik bersama Harry Pochang dan Blues Libre

20.00-20.30 WIB : Pidato Kebudayaan oleh Ganjar Kurnia

20.30-21.00 WIB : Ensamble Tikoro

21.00-22.00 WIB : Wayang Motekar lakon “Si Acung Ngosmogoni” dalang: Sukmana

Rabu, (29/4/2015): Perbincangan

16.00-18.00 WIB : Prospek dan Tantangan Ekonomi Kreatif (Hario Soeprobo) , Ekosistem Industri atau Ekonmi Kreatif ? (Irvan A. Noe’man), Indonesia dalam Industri Seni Dunia (Triawan Munaf)

20.00-22.00 WIB : “Mother Earth Blues Akustik II bersama BBS

Kamis, (14/5/2015): Bincang Karya

15.00-18.00 WIB : Kosmogoni Salawe Nagara Herry Dim (Jakob Sumardjo), Kosmogoni Indonesia (Eep Saefulloh Fatah), Melacak Kosmogoni Jeprut dan Badingkut (Tisna Sanjaya), “Belum Ada Judul” (Hawe Setiawan), Moderator: Gustaff  Hariman Iskandar

20.00-22.00 WIB : “Ibu Pertiwi” Balad Akustik bersama Mukti-Mukti

Selasa, (18/5/2015): Tutup Lawang Kosmogoni

19.30-19.45 WIB : Puisi ‘Ar-Rahman” (Ahmad Faisal Imron)

19.45-20.30 WIB : “Pulsating Star” (Flukeminix, Ine Arini, Budi Dalton, Gustaff  Hariman Iskandar). (Bagoes Rinthoadi)

Comments are closed.