Festival Budaya Masyarakat Adat Jabar Digelar Tanpa Dukungan Pemprov

IMG_20150501_023918

ARCOM.CO.ID ,Bandung. Penanggung jawab Festival Budaya Masyarakat Adat Jawa Barat (FBMAJB) ke-2 sekaligus Pangaping Baresan Olot Masyarakat Adat (BOMA) Jawa Barat Eka Santosa mengungkapkan bahwa gelaran FBMAJB tahun 2015 akan berlangsung tanpa dukungan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat.

Hal ini diungkapkan Eka Santosa saat Konferensi Pers BOMA Jabar, Kamis, (30/4/2015), di Teater Terbuka Kawasan Eko Wisata dan Budaya Alam Santosa jalan Pasir Impun Atas Kabupaten Bandung, turut hadir Ketua Panitia FBMAJB ke-2 Deni Tudiraharja atau biasa disapa Ozenk Percussion.

Eka mengungkapkan bahwa ketika dirinya menjelaskan persiapan Festival Budaya Masyarakat Adat Jawa Barat (FBMAJB) ke-2 kepada Wakil Gubernur (Wagub) Jawa Barat Deddy Mizwar yang juga merupakan Budayawan dan Seniman beberapa waktu lalu, Eka mendapat jawaban dari Wagub Jabar bahwa acara tersebut sebaiknya dibicarakan dan diurus oleh Walikota Bandung Ridwan Kamil.

Tentu saja Eka Santosa kaget mendengar jawaban Wagub, padahal acara FBMAJB akan melibatkan sekitar 500 Mahasiswa dari Benua Asia dan Afrika (53 Negara), dan 23 Kampung Adat, tetapi yang patut digaris bawahi adalah para mahasiswa tersebut merupakan tamu yang datang jauh-jauh ke bumi Pasundan.

Namun Eka Santosa tidak cengeng mendapat jawaban tak terduga dari Wagub Jabar, walaupun Festival Budaya Masyarakat Adat Jawa Barat tidak mendapat dukungan finansial dari Pemprov Jabar, acara ini akan tetap berlangsung demi menjaga nama baik Jawa Barat.

“Bupati Bandung Dadang M. Nasser saja dalam dua hari memberi bantuan perbaikan jalan di depan Alam Santosa,” kata Eka di hadapan para wartawan, “Selain itu untuk menjamu para tamu mancanegara, saya sudah mendapat sumbangan ikan, buah nanas, dan beras satu ton,” ujarnya, “Padahal festival budaya ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit,” tegasnya.

Lebih lanjut Eka menjelaskan bahwa untuk memperkenalkan budaya sunda kepada 500 mahasiswa Asia Afrika, maka BOMA Jabar akan menghadirkan atraksi seni budaya dari 23 kampung adat se-Jawa Barat, “Nantinya akan ada kesenian Kampung Badu dari Pangandaran, Kuda Renggong, Pencak Silat, Bajidor, Jipeng dari Kabupaten Sukabumi, Tarawangsa dari Kabupaten Sumedang, Terbang Sajak dari Kampung Adat Sanaga Tasikmalaya, dan kesenian lainnya,” kata Eka.

Eka mengatakan bahwa digelarnya Festival Budaya Masyarakat Adat Jawa Barat (FBMAJB) ke-2 ada hubungannya dengan rangkaian
Konperensi Asia Afrika (KAA) ke-60, “Festival Budaya ini dalam rangka menyambut kunjungan mahasiswa Asia-Afrika yang telah mengadakan Kongres KAA ke-60 di Bandung,” kata Eka, “Selain itu para Olot yang tergabung di BOMA Jabar merupakan sahabat Museum KAA,” ujarnya.

Mengenai rangkaian acara, Eka menjelaskan bahwa Festival Budaya ini akan berlangsung Sabtu, (2/5/2015) di Kawasan Eko Wisata dan Budaya Alam Santosa sejak pukul 09.00 hingga 23.00 WIB, “BOMA Jabar nantinya akan mengadakan Rajah, Patali Banyu (mendatangkan air dari semua sumber air masyarakat adat), penanaman pohon langka (Kelor, Dadap), dan pembuatan prasasti dari 50 batu yang akan ditandatangani oleh 50 perwakilan Mahasiswa Asia-Afrika,” ujarnya.

Eka Santosa mengungkapkan bahwa Festival Budaya Masyarakat Adat Jawa Barat (FBMAJB) ke-2 akan diselingi peresmian Lapang Asia Afrika yang berlokasi di Alam Santosa, serta pemberian anugerah kepada sejumlah tokoh nasional yang memiliki kepedulian khusus terhadap perjuangan masyarakat adat di Jawa Barat dan Indonesia, “Para penerima anugerah tersebut diantaranya, Wakil Presiden Jusuf Kalla (Papayung Agung Nusantara), Anggota Wantimpres Jan Darmadi (Lanang Jembar Panalar), Budayawan Guruh Soekarno Putra (Pangagung Terah Sang Fajar), KSAL Ade Sopandi (Satria Samudra Nusantara), dan Kapolda Jabar M.Iriawan (Lanang Raksa Buana),” kata Eka.

“Selain itu warga negara Perancis Didier Care akan ditahbiskan sebagai Duta Sawala Masyarakat Adat untuk Benua Eropa,” kata Eka, “Didier Care punya nama khusus dari BOMA Jabar yaitu kang Didi Masagi,” ujarnya.

Di akhir paparannya Eka mengungkapkan bahwa Festival Budaya Masyarakat Adat Jawa Barat (FBMAJB) ke-2 merupakan media perjuangan Baresan Olot Masyarakat Adat (BOMA) Jawa Barat, “Ada keresahan di kalangan Tetua Olot, karena selama lebih dari 400 tahun Belanda ketika menjajah Indonesia tidak pernah mengusik dan mengusir para Olot, tetapi saat ini para Olot yang telah menjaga hutan selama ratusan tahun malah dikriminalisasi oleh Menteri Kehutanan dan diusir oleh Perhutani,” kata Eka.

Di akhir Konferensi Pers, Kapolda Jawa Barat M.Iriawan berkesempatan hadir mengunjungi Alam Santosa dan melihat-lihat bangunan serta hutan di sekitar Alam Santosa dengan mengendarai motor sambil membonceng Eka Santosa, Kapolda Jabar pun sempat berdialog dengan para wartawan perihal ancaman bom menjelang peringatan KAA ke-60 di Bandung.

Festival Budaya Masyarakat Adat Jawa Barat (FBMAJB) ke-2 atau disebut Pinton Ajen Karancagean diprediksi dihadiri 2000 orang, dan diharapkan festival budaya ini mampu melestarikan, dan mengembangkan akar budaya bangsa. (Bagoes Rinthoadi)