Prodia Menggelar Seminar Diabetes Melitus di Bandung

Prodia

ARCOM.CO.ID ,Bandung. Laboratorium Klinik Prodia terus berupaya mengkampanyekan pencegahan diabetes melitus melalui Roadshow Seminar Dokter bertajuk, “Good Doctor for Preventive Medicine-Focus on Managing Prediabetes”.

Seminar ini diadakan di 15 kota besar di Indonesia, untuk kota Bandung berlangsung, Sabtu, (2/5/2015), di Fave Hotel Paskal Hyper Square jalan Pasirkaliki Bandung.

Sebagai narasumber, Prodia menghadirkan dr. Agusta YL Arifin, SpPd-KEMD, dr. Nanny N. M. Soetedjo, SpPD-KEMD, Emmy Harefa, S. Si., M.kes, dan DR. dr. Hikmat Permana, SpPD-KEMD sebagai moderator.

Dalam sesi Press Conference, dr. Augusta mengatakan bahwa terdapat 5,7 persen penduduk Indonesia yang mengalami penyakit diabetes melitus, “Namun baru 2 persen yang diketahui mengidap penyakit diabetes melitus,” ujar dr. Augusta.

Lebih lanjut dr. Augusta mengatakan bahwa apabila ada satu kasus penyakit yang ditemukan di Indonesia, maka masih ada empat kasus yang belum terungkap.

“Sebanyak 9 dari 10 orang di dunia tidak menyadari bahwa mereka merupakan penderita prediabetes,” kata dr. Augusta, “Padahal 70 persen kasus prediabetes akan berkembang menjadi diabetes melitus, bahkan satu dari tiga penyandang diabetes juga mengalami hipertensi,” tegasnya, dr. Augusta menjelaskan bahwa di Indonesia prevalensi prediabetes cukup tinggi, yaitu mencapai 10,2 persen atau sekitar 24 juta penduduk Indonesia, “Pemeriksaan prediabetes dini sangat diperlukan,” tegas dr.Augusta di akhir paparannya.

Prediabetes sendiri adalah suatu keadaan di mana kadar gula dalam darah di atas normal, tetapi masih di bawah batasan kadar gula darah untuk diagnosis diabetes, pada prediabetes tubuh menjadi resisten terhadap kerja insulin dan tidak mampu mengolah gula dari aliran darah seperti yang seharusnya.

Dr.Hikmat mengungkapkan bahwa diabetes dibagi menjadi dua, yaitu diabetes tipe satu dan tipe dua, “Diabetes tipe dua hingga saat ini tidak ada obatnya,” kata Dr. Hikmat, “Obat hanya mampu memperlambat dan mencegah diabetes, itupun digunakan sebelum terkena diabetes, karena kalau sudah terkena diabetes maka akan susah sembuh,” ujarnya.

“Apabila pasien diabetes memiliki kadar gula tinggi, maka kuman-kuman akan cepat tumbuh, sehingga sel-sel anti bodi tidak bekerja optimal,” ujar Dr.Hikmat, “Akibatnya peradangan susah diatasi sehingga luka akan cepat meluas, dan suatu saat dilakukan diamputasi,” kata Dr.Hikmat di akhir paparannya.

Emmy Harefa dalam penjelasan singkatnya mengatakan bahwa pencegahan diabetes adalah satu-satunya cara untuk mengurangi kasus diabetes melitus dan komplikasinya, “Dengan melakukan identifikasi prediabetes dan intervensi dini, progresivitas prediabetes menjadi diabetes dapat dihambat dan bahkan dicegah,” tegasnya.

“Pola hidup teratur, gaya hidup sehat, dan aktivitas fisik sangat penting untuk mencegah diabetes,” ujar dr.Nanny, “Untuk mencegah diabetes dianjurkan makan banyak sayur-sayuran,” ujarnya.

“Makan biskuit anti diabetes satu buah tidak masalah, tetapi jika makan banyak, maka kadar gula dalam tubuh akan bertambah lagi,” kata dr. Nanny di akhir penjelasannya.

Melalui seminar ini Prodia berupaya memberikan informasi mengenai faktor risiko dan pentingnya manajemen prediabetes sejak dini.

Menurut World Diabetes Foundation (WDF), satu dari sepuluh orang di dunia akan menderita diabetes melitus, penyakit diabetes melitus sendiri merupakan penyakit yang dapat menyebabkan berbagai jenis komplikasi mematikan seperti penyakit jantung dan stroke.

Hingga tahun 2014, WDF mengungkapkan bahwa sebanyak 382 juta jiwa di dunia hidup sebagai penyandang diabetes, di Indonesia sendiri, Halmahera harus mendapat perhatian serius, karena penderita diabetes di Halmahera mencapai 11 persen.

Sehingga tidak salah jika banyak dokter yang mengatakan bahwa awal yang manis dapat berakhir tragis (Bagoes Rinthoadi)