Unpad Merespons: Pemerintah Tidak Membuat Cetak Biru Sistem Logistik Pertanian

Unpad 2ARCOM.CO.ID ,Bandung. Kepala Departemen Sosial Ekonomi Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran (Unpad) Tomy Perdana mengkritisi pemerintahan  Joko Widodo yang hingga saat ini tidak membuat cetak biru sistem logistik pertanian.

Hal ini dikatakan Tomy saat menjadi pembicara di kegiatan Unpad Merespons bertema, “Ketahanan Pangan dan Pemberdayaan Masyarakat”,  Selasa, (26/5/2015), di Executive Lounge Lantai 2 Gedung Rektorat Unpad jalan Dipati Ukur Bandung.

Turut hadir menjadi pembicara dalam acara ini Kepala Bidang Kelembagaan Infrastruktur Dewan Ketahanan Pangan Jawa Barat Uung Gumilar, dan Dosen Kimia Fakultas MIPA Unpad Abdul Mutalib.

“Bulan Januari hingga Februari 2015 harga beras tinggi, namun ketika sekarang harga beras turun pemerintah diam,” kata Tomy di awal paparannya, lebih lanjut Tomy menjelaskan bahwa harga beras befluktuasi karena masalah produksi, “Saat ini beras lagi surplus karena harga beras belum terlalu tinggi,” ujarnya.

“Semua komoditas strategis di Indonesia saat ini harganya di atas rata-rata harga internasional,” ungkap Tomy, “Maka di pasar Cipinang Jakarta dapat ditemukan beras impor yang lebih murah dari beras lokal, hal ini terjadi karena daya saing kita bermasalah,” tegasnya.

Lebih lanjut Tomy mengungkapkan bahwa harga bawang merah dan bawang putih di Indonesia kini dihabisi China karena harga bawang merah dan putih di Indonesia empat kali lebih mahal dari harga internasional.

Untuk mengatasi hal tesebut, Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran mencoba mengatasinya dengan cara Scientific, “Melalui cara Scientific akhirnya Unpad mendapat dugaan bahwa apabila pemerintah masih melakukan penyuluhan seperti saat ini, maka yang akan terjadi adalah kematian penyuluhan pertanian,” tegas Tomy, “Celakanya pemerintah sekarang tidak membuat cetak biru sistem logistik pertanian,” ujarnya.

“Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran telah menghasilkan desain rantai pasok inklusif,” kata Tomy, “Namun begitu diterapkan, tidak bisa serta merta dilakukan,” ujarnya, “Selain itu  kita telah menghasilkan transformasi konsolidator menjadi layanan logistik pertanian di pedesaan, dan pengembangan klaster agribisnis,” tegasnya, “ini semua sudah kita jalankan,” katanya.

Tomy mengungkapkan bahwa Fakultas Pertanian Unpad telah bekerjasama dengan para petani di Pangalengan Jawa Barat, “Kita membangun dari benih hingga menjadi pasar, dan hasilnya dari 12 petani berkembang menjadi 120 petani,” ujarnya, “Inovasi kita adalah Tomat Beef Grafting serta wortel dengan merek Baby Carrot, dan dua belas komoditas yang kita hasilkan sudah bersertifikasi” katanya, “Pemasaran kita sudah menembus Singapura, namun kita masih kalah dari negara Kenya,” ungkapnya.

Mengenai pasar wortel di Indonesia, Tomy mengungkapkan bahwa ibu-ibu yang sering berbelanja sayuran lebih senang dengan wortel berwarna oranye dan berbentuk silindris, “Sedangkan bentuk wortel kita bentuknya tidak jelas, namun akhirnya Unpad mampu menghasilkan Baby Carrot yang juga diekspor ke Singapura dengan harga Rp.19.850 per 0,5 kilogram,” katanya.

Di akhir paparannya Tomy mengungkapkan bahwa saat ini Unpad telah mempunyai merek bersama yang diberi nama Katata, “Kita bekerjasama dengan Hero Supermarket, dan telah menembus 7 supermarket yang ada di kota Bandung, dan di Jakarta kita sudah menembus banyak sekali supermarket,” ujarnya, dan yang patut dibanggakan Unpad telah diminta oleh pemerintah untuk membuat 1000 desa organik di Garut dan Tasikmalaya.

Unpad 30Kepala Bidang Kelembagaan Infrastruktur Dewan Ketahanan Pangan Jawa Barat Uung Gumilar dalam paparan singkatnya mengatakan bahwa distribusi pangan di Jawa Barat saat ini tidak mengalami gangguan, “Sekarang harga beras di atas HPP (Harga Pembelian Pemerintah), selain itu kita melakukan stabilitas harga dengan memberikan masing-masing Rp.125 juta kepada 138 Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), “ ungkapnya.

Di akhir paparan, Uung menyoroti masyarakat Jawa barat yang kurang mengkonsumsi sayuran dan buah, “Jawa Barat berada di posisi ke-22 di antara provinsi yang ada di Indonesia dalam hal konsumsi sayuran dan buah,” tegasnya, “Masyarakat Jawa Barat lebih menyukai makanan Instant,” tegasnya.

Unpad 3Kegiatan Unpad Merespons dengan tema, “Ketahanan Pangan dan Pemberdayaan Masyarakat” dilaksanakan untuk melihat kondisi di lapangan dan untuk melihat apakah ada yang salah dengan kebijakan pemerintah saat ini.

Isu ketahanan pangan sendiri bukanlah hal yang baru, karena sejak negeri ini berdiri tekad ketahanan pangan selalu menjadi cita-cita yang ingin diwujudkan,  namun kenyataannya ketahanan pangan masih tetap menjadi sebuah tekad dan belum menjadi kenyataan. (Bagoes Rinthoadi)

Comments are closed.