Unpad Merespons: Jokowi Adalah Orang Kecil Yang Tidak Punya Modal

IMG_20150604_035819

ARCOM.CO.ID ,Bandung. Peneliti dan penulis buku politik Fachry Ali mengatakan bahwa Joko Widodo (Jokowi) ketika menjadi Walikota Solo adalah orang kecil yang tidak punya modal, kemudian menjadi Gubernur DKI Jakarta, dan akhirnya mampu mengalahkan Megawati dan Aburizal Bakrie sebagai calon Presiden RI.

Hal tersebut dikatakan Fachry Ali saat menjadi pembicara di kegiatan Universitas Padjadjaran (Unpad) Merespons bertema, “Komunikasi Politik Kabinet Kerja Joko Widodo-Jusuf Kalla”, Rabu, (3/6/2015), di Executive Lounge Lantai 2 Gedung Rektorat Unpad jalan Dipati Ukur Bandung, turut hadir sebagai pembicara Chairman of Press Complain Commission Dewan Pers Muhammad Ridlo Eisy, dan Dosen Komunikasi Politik Fikom Unpad Evie Ariadne Shinta Dewi.

“Ketika Jokowi terpilih menjadi Presiden RI, artinya adalah preferensi partai politik yang dikuasai material dikalahkan unsur di luar politik,” kata Fachry di awal paparannya, “Inilah kemenangan di luar partai politik yang didukung oleh para sukarelawan,” tegasnya, “Ada sebuah perubahan sistem kepercayaan dan perubahan bersifat radikal di politik indonesia (Extra Political Party),” ujarnya.

Lebih lanjut Fachry mengatakan bahwa terpilihnya Jokowi dari luar partai menjadi Presiden RI, menunjukkan adanya ketidakpercayaan kepada partai politik dari kaum intelektual dan kampus.

“Aburizal Bakrie saja selama 2 tahun mengiklankan diri di televisinya sendiri tetap tidak bisa menjadi calon Presiden RI,” tegasnya, “Selain itu ketika pemilik MNC Grup Hary Tanoesoedibjo masuk Partai Nasdem harus kita lihat sebagai perpindahan modal kepada partai politik, namun Hary Tanoe kecewa kepada Partai Nasdem dan akhirnya ia membuat partai sendiri,” ujarnya.

Fachry mengamati bahwa saat ini Presiden Jokowi adalah tokoh baru yang sedang melakukan kontes kewibawaan dengan Megawati yang notabene anak Presiden pertama RI dan Ketua PDI Perjuangan, “Contoh nyata adalah ketika di Kongres PDIP di Bali, Jokowi berjas merah datang duluan Megawati belakangan, dan saat itu Jokowi tidak memberikan pidato,” ungkapnya.

Mengenai Wakil Presiden RI Jusuf Kalla, Fachry mengamati bahwa saat ini Jusuf Kalla tidak bahagia karena sebagian otoritasnya diambil oleh Kepala Staf Kepresidenan Luhut Binsar Pandjaitan, “Bahkan Wapres Jusuf Kalla dalam kasus PSSI berbeda pandangan dengan Jokowi yang mendukung langkah Menpora membekukan PSSI,” katanya.

Fachry Ali menyoroti rancunya komunikasi politik Jokowi dalam pemilihan menteri, “Ketika Menteri BUMN Rini Suwandi baru terpilih, anggota DPR RI Fraksi PDIP Effendi Simbolon sudah meminta Rini diganti,” ujarnya.

“Namun Surya Paloh dari Partai Nasdem adalah fenomena yang menarik, karena mampu memasukkan anak Unpad menjadi Menteri Agraria dan Tata Ruang yaitu Ferry Mursyidan Baldan,” katanya.

Di akhir paparannya Fachry tetap mengapresiasi Joko Widodo (Jokowi), karena walau bagaimanapun Jokowi adalah pemimpin besar di Asia Tenggara, dikarenakan jumlah penduduk indonesia adalah 240 juta jiwa.

IMG_20150604_035835

Praktisi Media dan Chairman of Press Complain Commission Dewan Pers Muhammad Ridlo Eisy dalam paparan singkatnya mengatakan bahwa saat ini Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) lebih kejam dari penjajahan Belanda, “Padahal yang buat UU ITE adalah DPR, dan sudah dibuat Judicial Review,” ungkapnya.

Mengenai maraknya Media Online di Indonesia, Ridlo Eisy menyatakan bahwa Media Online jangan terlalu cepat dipercaya, “Media konvensional pun harus dilihat siapa pemiliknya, bahkan di Amerika, pemilik Media lebih ditakuti daripada Presiden Amerika,” tegasnya.

“Di Indonesia kita punya UU Pers (UU no 40/1999), dan yang mengintervensi Newsroom bisa dipenjara 2 tahun,” tegasnya, “Tetapi siapa yang berani melawan pemilik media, karena hingga saat ini tidak ada wartawan yang berani melapor ke Dewan Pers karena diintervensi oleh pemilik media,” ungkapnya.

“Amati rentetan pemberitaan pada suatu kasus, nanti akan terbaca agenda seting yang sedang dimainkan suatu media dan sumber berita yang dipilihnya,” kata Ridlo Eisy di akhir paparannya.

IMG_20150604_035828

Kegiatan Unpad Merespons sendiri diselenggarakan untuk membahas blunder komunikasi antara Presiden Jokowi dan bawahannya serta berbagai komunikasi politik antara Joko Widodo dan Jusuf Kalla. (Bagoes Rinthoadi)

Comments are closed.