Global Value Chain Akan Diterapkan Pada UMKM

20150929_093734

ARCOM.CO.ID ,Bandung. Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat Soekowardojo mengatakan, saat ini Global Value Chain (GVC) baru diterapkan pada industri otomotif, namun ke depannya GVC akan diterapkan pada Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM) yang berorientasi ekspor, agar produknya bisa dipasarkan dengan harga yang lebih tinggi.

Hal ini dikatakan Soekowardojo saat membuka Seminar Nasional bertajuk, “Integrasi UMKM dalam Global Value Chain”, Selasa, (29/9/2015), di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah VI Jawa Barat dan Banten jalan Braga Bandung.

Seminar Nasional yang diselenggarakan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Pusat dan ISEI Bandung turut dihadiri, Direktur Pengawasan Bank Otoritas Jasa Keuangan Regional 2 Jawa Barat Riza Aulia Ibrahim, Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Bandung Koordinator Jawa Barat Aldrin Herwany, Peneliti Utama dari Kementerian Koperasi dan UKM Johny W Situmorang, Ketua FG UMKM ISEI Pusat Ina Primiana, dan Sekretaris Laboratorium Penelitian, Pengabdian pada Masyarakat dan Pengkajian Ilmu Ekonomi (LP3E) Arief Bustaman.

“Saat ini pertumbuhan ekonomi hingga Agustus 2015 mencapai 4,85 persen,” kata Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat Soekowardojo di awal paparannya, “Walaupun ada yang menahan Valas, perekonomian sedikit membaik,” katanya.

Lebih lanjut Soekowardojo mengatakan, saat ini kebijakan devaluasi uang, stabilisasi nilai rupiah dan sisi domestik perlu menjadi perhatian, “Fiskal dan El Nino pun mengakibatkan inflasi,” tegasnya.

Mengenai UMKM, Soekowardojo menegaskan, kebijakan Bank Indonesia perlu terus diperkuat, salah satunya kebijakan mengenai UMKM, “Saat ini 99,9 persen pelaku usaha adalah UMKM, atau 170 juta pengusaha,” ujarnya, “Sedangkan kredit UMKM di Jawa Barat mencapai Rp.97,6 triliun,” ungkapnya.

“Bank Indonesia sekarang tidak dapat lagi memberikan bantuan keuangan pada UMKM, hanya dukungan sistem perbankan sehat, penelitian dan pelatihan yang bisa BI berikan,” kata Soekowardojo

Di akhir paparannya Soekowardojo mengatakan UMKM di Jawa Barat masih bergerak di sektor tersier dan pengolahan, “Penyebaran UMKM di Bandung sudah mencapai 18 persen”, ujarnya.

Ketua FG UMKM ISEI Pusat Ina Primiana dalam seminar ini mengungkapkan beberapa fakta di Indonesia yang mengganggu efektivitas Global Supply Chain (GSC).

“Fakta yang mengganggu GSC diantaranya, keterbatasan infrastruktur, fasilitas alat angkut yang sudah tua, lamanya waktu pelayanan di pelabuhan, tingginya biaya pelayanan di pelabuhan, konektivitas, kepastian kebijakan, kelemahan sisi input, dan lemahnya koordinasi antara pusat dan daerah,” kata Ina.

Lebih lanjut Ina mengatakan, indikasi lemahnya penerapan Supply Chain diantaranya, tingginya biaya angkut, sering terganggunya pasokan barang, daya saing produk rendah, dan rendahnya kontribusi dalam perdagangan internasional, “Biaya logistik di Indonesia lebih mahal 30 persen dibandingkan negara lain,” ungkapnya.

“Dengan berbagai keterbatasan, UMKM nasional masih belum dapat berperan sepenuhnya dalam Global Supply Chain (GSC),” kata Ina, “Ada dua peluang bagi UMKM untuk berperan dalam GSC, yaitu menjadi pemasok bagi eksportir atau pemasok pengusaha asing,” tegasnya.

Di akhir paparannya Ina mengatakan, dengan jumlah UMKM terbesar di ASEAN, maka pelaku usaha harus mampu memanfaatkan pasar ASEAN ataupun pasar yang lebih luas dengan menggali kreativitas, inovasi produk, dan mengurangi berbagai hambatan.

“Memasuki Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), UMKM tidak bisa di Treatment secara generalisasi, perlu ada pengelompokan sesuai kebutuhan,” tegas Ina. (Bagoes Rinthoadi)

Comments are closed.