Menristek Dikti: Doktor ‘KW’ Mengganggu Sistem

20151008_150430

ARCOM.CO.ID ,Bandung. Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti) M. Nasir menegaskan, Doktor-Doktor ‘KW’ (kualitas rendah/tiruan/palsu) yang ada di Indonesia telah mengganggu sistem yang ada, dikarenakan tidak berkontribusi pada pendidikan tinggi di Indonesia.

Hal ini ditegaskan Nasir saat didaulat menjadi pembicara utama Talkshow, “Indonesia Mencari Doktor”, Kamis, (8/10/2015), di Aula Barat Institut Teknologi Bandung (ITB) jalan Ganesha Bandung, turut hadir Rektor ITB Kadarsyah, dan Walikota Bandung Ridwan Kamil.

“Doktor itu harus melakukan riset dengan baik,” kata Menristek Dikti M. Nasir di awal paparannya, “Riset unggul para Doktor akan menjadi sebuah inovasi,” ujarnya.

Lebih lanjut Nasir mengatakan, seharusnya tunjangan kehormatan para Doktor harus ditarik kembali, karena banyak Doktor setelah menjadi Guru Besar kemudian berhenti, “Guru Besar seharusnya berdedikasi kepada negara dan pendidikan tinggi,” tegasnya.

Selain itu, Nasir menyoroti mahasiswa asing yang belajar di Indonesia, “Masih banyak mahasiswa asing di indonesia memakai visa kunjungan,” katanya, “Pemerintah harus mengambil sikap yang jelas,” tegasnya.

Mengenai dunia farmasi, Nasir kecewa karena 95 persen obat yang ada di Indonesia berasal dari luar negeri, “Hal ini sangat salah, dan terjadi dikarenakan kurangnya keberpihakan,” ujarnya.

Di akhir paparannya Nasir mengatakan, hingga akhir 2013, tenaga dosen tetap yang tercatat di Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi sebanyak 154.968 dosen, dan Doktor hanya sebesar 11 persen, “Jumlah Doktor perlu ditingkatkan hingga 20 persen, dan untuk mencapai hal tersebut diperlukan waktu 14 tahun,” tegasnya.

20151008_161511

Walikota Bandung Ridwan Kamil dalam acara Talkshow “Indonesia Mencari Doktor” menantang para Sarjana, Magister maupun Doktor yang hadir untuk membuat inovasi aspal yang dapat menyerap air hujan, “Saya dengar sudah ada yang mampu membuat aspal tersebut, kalau ada akan langsung kami beli dan seluruh jalanan di kota Bandung akan kami ganti dengan aspal tersebut,” tegasnya.

Saat ini pendidikan tinggi di Indonesia masih kalah bersaing dengan negara lain, hal ini terlihat dari minimnya perguruan tinggi di Indonesia yang masuk daftar perguruan terbaik dunia.

Selain itu publikasi ilmiah internasional yang dihasilkan perguruan tinggi di Indonesia masih rendah.

Faktor yang menghambat kemajuan pendidikan tinggi di Indonesia adalah kurangnya jumlah dosen dengan kualifikasi mumpuni, selain itu kendala pendanaan menghambat para dosen untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang doktoral. (Bagoes Rinthoadi)