Eka Santosa: Jawa Barat Darurat Lingkungan

20151223_114412

ARCOM.CO.ID ,Bandung, Ketua Gerakan Hejo Eka Santosa menegaskan, saat ini Provinsi Jawa Barat mengalami banyak kerusakan lingkungan, maka dapat dikatakan Jawa Barat merupakan provinsi di Indonesia yang memiliki lingkungan darurat.

Hal tersebut ditegaskan Eka Santosa di sela-sela acara, Saresehan Masyarakat Perikanan Jawa Barat bertajuk, “Darurat Lingkungan dan Potensi Ikan Endemik, Rabu, (23/12/2015), di Alam Sentosa Pasir Impun Kabupaten Bandung.

“Dari data yang ada, saya sepakat dengan Dewan Pemerhati Lingkungan dan Kehutanan Jawa Barat, yang mengatakan bahwa hutan lindung di Jabar tinggal 20 persen, dan terus menurun dalam kurun waktu satu tahun terakhir,” kata Eka Santosa, “Bahkan hutan di Daerah Aliran Sungai (DAS) tinggal 600 ribu hektar,” tegasnya.

Lebih lanjut Eka mengatakan, secara faktual sungai di Jawa Barat rusak parah, “Sebanyak 50 persen sungai sudah tidak berfungsi secara baik, termasuk di daerah Jatigede yang sumbernya dari sungai Cimanuk Garut,” katanya.

“Tetapi yang sangat memprihatinkan, sungai di perkotaan 95 persen hancur, maka sungai bukan lagi sumber kehidupan, tetapi sungai di perkotaan menjadi tempat pembuangan sampah, pembuangan limbah industri dan septic tank,” ungkap Eka.

“Saat ini kita memiliki sungai terkotor di dunia, dan kita harus segera menyikapinya dengan diplomasi nasional, bahkan bila dibiarkan terus kita bisa dibahas di Unesco,” tegas Eka.

Mengenai kondisi pantai di Jawa Barat, Eka mengungkapkan, kondisi pantai dari Tegal Buleud Sukabumi hingga ke Pangandaran sudah tinggal sisa-sisa akibat eksploitasi yang sporadis dari penambangan pasir besi, “Kita unnasionalis, karena batas negara berubah gara-gara eksploitasi tersebut,” katanya.

“Tetapi yang lebih memprihatinkan, ekosistem di pantai rusak, dikarenakan fungsi pantai saat ini hanya untuk kepentingan tertentu, dan bukan untuk kepentingan rakyat,” tegas Eka.

“Begitu pula di pantai utara, mangrovenya kini dipenuhi depot-depot Pertamina yang ketika musim hujan menjadi banjir, hal ini terjadi karena di pantai utara terjadi abrasi yang luar biasa,” kata Eka.

“Maka Gerakan Hejo dilahirkan untuk mengajak semua pihak agar bergerak terus dari tatanan masyarakat, pemerintah hingga ke dunia luar,” tegas Eka, “Gerakan Hejo akan terus melakukan gerakan 3E yaitu, ekologi, edukasi, dan ekonomi,” katanya.

Lebih lanjut Eka menegaskan, para pelanggar lingkungan sudah saatnya disikapi secara tegas, “Pemerintah tidak boleh mengalah karena kebiasaan, tetapi harus melakukan pemaksaan peraturan,” katanya.

“Saat ini permasalahan sampah tidak pernah kunjung tuntas dan terus mengalami kemunduran, bahkan saya tidak mengerti mengapa Walikota Bandung Ridwan Kamil bisa mendapat pengakuan dan penghargaan,” kata Eka, “Mungkin yang memberikan penghargaan tidak pernah melihat daerah Cicadas, jangankan sampah yang bertumpuk, trotoar saja tidak beres” ujarnya, “Yang memberikan penghargaan harus obyektif,” tegasnya, “Trotoar itu tempat jalan manusia, dan hingga saat ini Walikota Bandung tidak bisa menyelesaikannya,” ungkapnya.

20151223_110900

Mengenai perikanan di Jawa Barat, Eka mengungkapkan, kultur masyarakat di Jabar sangat dekat dengan perikanan, “Di Tasik, hingga Sumedang, setiap rumah pasti ada kolam, begitu pula di pesisir,” katanya.

“Agenda berikut Gerakan Hejo, dan secara informal sudah disampaikan kepada Menteri Kelautan, yakni saya akan menggelar Festival Budaya Masyarakat Pesisir,” ungkap Eka.

Mengenai sungai Citarum, Eka mengatakan, Citarum keadaannya semakin buruk, “Citarum seperti gadis cantik yang ‘diperkosa’ beramai-ramai,” ungkapnya, “Bila permasalahan Citarum tidak diselesaikan, maka Gerakan Hejo akan berbicara di pusat negara, bahkan kami sudah membuat jaringan dengan masyarakat internasional, dan kami akan bawa masalah Citarum ke Unesco,” tegasnya.

“Saat ini tidak ada industri yang ditindak karena membuang limbah ke sungai Citarum,” ungkap Eka, “Bahkan hulu Citarum sudah dikuasai pemilik modal, yaitu Indofood,” katanya.

Mengenai Sungai Cikapundung, Eka mengungkapkan, hulu Cikapundung saat ini menjadi tempat pembuangan kotoran ternak, “Saya dengar, ternak sapi di hulu Cikapundung itu binaan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, apa iya peradaban kita seperti itu,” ujarnya.

“Hingga saat ini ada upaya menutup-nutupi para pembuang limbah di sungai Cikapundung,” ujar Eka, “Mereka lebih jahat dari teroris, bila teroris mengebom radiusnya terukur, maka para pembuang limbah mengakibatkan kematian di mana-mana hingga ke anak cucu kita,” kata Eka di akhir paparannya. (Bagoes Rinthoadi)

Comments are closed.