BPPK Kemenlu RI Gelar Seminar Internasional Indonesia-Africa Relations di Bandung

KemenluARCOM.CO.ID ,Bandung. Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan (BPPK) Kementerian Luar Negeri RI dipastikan akan menghadirkan Direktur Brenthurst Foundation Dr.Gregory Mills di kota Bandung pada Seminar Internasional bertema, “Indonesia-Africa Relations”.

Hal ini terungkap dalam acara pembahasan internal seminar internasional Indonesia-Africa Relations bersama Media, Rabu malam, (20/1/2016), di Braga Permai Resto jalan Braga Bandung, turut hadir Kepala Pusat Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kawasan Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri RI Mohamad Hery Saripudin, dan Kepala Bagian Tata Usaha Kementerian Luar Negeri RI Berlian Helmy.

“Seminar Internasional bertema Indonesia-Africa Relations akan berlangsung Kamis, (21/1/2016), mulai pukul 08.30 sampai 12.00 WIB di Ruang Pameran Museum Konferensi Asia Afrika,” kata Kepala Bagian Tata Usaha Kementerian Luar Negeri RI Berlian Helmy dalam penjelasannya, “Seminar Nasional ini akan menghadirkan Direktur Brenthurst Foundation asal Afrika Selatan Dr.Gregory Mills, dan Direktur Afrika Kementerian Luar Negeri RI Lasro Simbolon,” ujarnya.

Lebih lanjut Berlian mengatakan, rencananya Seminar Internasional di Bandung yang membahas hubungan Indonesia dengan Afrika akan dibuka oleh Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Yuri Thamrin, akan tetapi batal dikarenakan Yuri Thamrin memiliki agenda lain, “Pembukaan seminar internasional ini akan dilakukan Plt Kepala BPPK Kementerian Luar Negeri RI Salman Al Farisi,” katanya.

Kepala Pusat Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kawasan Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri RI Mohamad Hery Saripudin mengatakan, seminar internasional ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat dan para pemangku kepentingan mengenai keadaan dan prospek Afrika bagi pencapaian target diplomasi ekonomi Indonesia.

“Benua Afrika telah menjadi magnet bagi negara-negara di kawasan lainnya,” tegas Hery, “Afrika secara umum mulai melepaskan diri dari predikat kawasan yang dekat dengan kemiskinan, kelaparan, dan rawan konflik dengan menunjukkan potensi yang dimilikinya,” ujarnya, “Sumber daya alam yang melimpah dan situasi demografi yang mendukung pertumbuhan ekonomi telah menciptakan daya tarik sendiri kepada Negara lain untuk berlomba-lomba mengembangkan kerja sama di berbagai bidang dengan negara-negara Afrika,” kata Hery di akhir paparannya.

Amerika Serikat dan Negara-negara Uni Eropa telah lama menjalin kemitraan dengan kawasan Afrika, sementara Negara-negara di Asia juga telah menginisiasi forum-forum kerja sama serupa, misalnya Republik Rakyat Tiongkok (RRT) telah membentuk Forum on China-Africa Cooperation (FOCAC), selain itu Jepang juga telah memiliki forum Africa-Japan Business Investment Forum, begitu juga dengan India, Korea Selatan, Turki, Malaysia, dan Vietnam yang juga turut serta menjangkau Afrika dalam cakupan politik dan ekonomi internasionalnya.

Saat ini Indonesia ‘tertinggal’ dalam menjangkau Afrika dalam berbagai lapisan, maka diperlukan kesadaran dan komitmen seluruh pihak yang terlibat agar Indonesia dapat meraih manfaat sosial dan ekonomi di kawasanAfrika, maka tidaklah berlebihan bila wacana pembentukan Forum Bisnis Indonesia Afrika terus digulirkan.

Sebenarnya Indonesia memiliki sejarah panjang dalam hubungan dengan kawasan Afrika, namun hingga saat ini Indonesia belum dapat merealisasikan kedekatannya, padahal sesungguhnya Indonesia memiliki modalitas yang cukup kuat setelah penyelenggaraan Konperensi Asia Afrika (KAA) yang diselenggarakan tahun 1955. (Bagoes Rinthoadi)

Comments are closed.