Nuffic NESO Gelar Holand Scholarship Info Sesion di ITB

20160201_144101

ARCOM.CO.ID ,Bandung. Organisasi non profit yang ditunjuk resmi dan didanai pemerintah Belanda untuk menangani berbagai hal yang berkaitan dengan pendidikan tinggi Belanda, Netherlands Education Support Office (Nuffic NESO), untuk kesekian kalinya menggelar Holand Scholarship Info Sesion, Senin, (1/2/2016), di Aula Barat Institut Teknologi Bandung (ITB) jalan Ganesha.

Turut hadir dalam acara ini, Direktur Kantor Kemitraan dan Hubungan Internasional ITB Dr. Edwan Kardena, Direktur Nuffic NESO Indonesia Mervin Bakker, Koordinator Beasiswa Neso Indonesia Indy Hardono, dan 250 profesional muda serta mahasiswa dari Bandung dan sekitarnya.

“Siswa yang belajar di Belanda berkesempatan membangun jejaring dengan lingkup internasional karena universitas di Belanda memiliki standar kualitas pendidikan tinggi kelas dunia dan bermuatan internasional,” kata Direktur Nuffic NESO Indonesia Mervin Bakker dalam paparannya.

Lebih lanjut Mervin mengatakan, Belanda merupakan negara yang sangat toleran dan aman, “Pelajar dengan kewarganegaraan dan agama apapun sangat diterima,” tegasnya.

“Kedekatan hubungan historis dan budaya antara Indonesia dan Belanda menjadikan Belanda sebagai ‘Home Away from Home’ untuk orang Indonesia,” kata Mervin.

Mervin mengungkapkan, unsur Value for Money dari sisi investasi menjadikan Belanda tujuan studi yang semakin populer di Indonesia, “Banyak sekali peluang beasiswa baik dari pemerintah Belanda maupun Indonesia,” tegasnya, “Saya yakin kesempatan ini direspon baik oleh warga Bandung, karena Bandung merupakan salah satu basis pendidikan berkualitas di Indonesia,” kata Mervin di akhir paparannya.

Koordinator Beasiswa Neso Indonesia Indy Hardono mengatakan, beasiswa StuNed merupakan beasiswa penuh bagi warga negara Indonesia dari pemerintah Belanda, yang terdiri dari program Master, Short Course, dan Tailor Made Training, “Kriteria Seleksi StuNed yang merupakan beasiswa kompetitif menitikberatkan pada faktor keunggulan, dan keterkaitan dengan area prioritas kerjasama antara Indonesia dan Belanda,” katanya.

“Area prioritas tersebut diantaranya, bidang perdagangan internasional, keuangan dan ekonomi, transportasi, (Agro)logistic dan infrastruktur, keamanan dan penegakan hukum, air, agro-pangan dan hortikultura, serta manajemen kesehatan,” kata Indy.

“StuNed juga memperhitungkan sisi non-akademis termasuk prestasi dan penghargaan yang pernah didapat oleh siswa,” kata Indy.

Lebih lanjut Indy menjelaskan, pendaftaran beasiswa StuNed program master telah dibuka dan ditutup pada 1 April 2016, “Untuk program Short Course ditutup pada 1 Oktober 2016,” ujarnya.

Di akhir paparannya Indy mengatakan, syarat utama pendaftaran StuNed, pelamar harus memiliki ‘Letter of Acceptance/LoA (surat pernyataan penerimaan) dari Universitas Belanda, “Bagi calon pelamar dihimbau mendaftar sesegera mungkin ke Universitas Belanda,” tegasnya.

Hingga saat ini 13 Universitas di Belanda masuk ke dalam 200 ranking besar dunia.

Jumlah mahasiswa Indonesia yang kuliah di Belanda saat ini meningkat hingga 50 persen sehingga menempati ranking 2 di Asia, dan ranking 6 dari seluruh dunia.

Namun disayangkan mahasiswa Indonesia yang berkuliah di luar negeri setiap tahunnya hanya 40.000 orang, sedangkan Vietnam setiap tahunnya mengirimkan 60.000 mahasiswanya ke luar negeri. (Bagoes Rinthoadi)