Menteri Siti Nurbaya Batal Hadiri Diskusi Tempo Institute di Bandung

20160519_142500-1

ARCOM.CO.ID ,Bandung. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar batal hadir di acara diskusi Tempo Institute di Bandung karena sakit.

Rencananya Menteri LHK menjadi pembicara utama dalam diskusi bertema, “Mendorong Kebijakan Publik Berbasis Riset” yang digagas Tempo Institute bersama Knowledge Sector Initiative (KSI), Kamis, (19/5/2016), di Hotel Sensa jalan Cihampelas Bandung.

“Karena ibu menteri sakit sejak semalam, maka Menteri LHK tidak bisa menghadiri diskusi kebijakan publik berbasis riset di Hotel Sensa Bandung,” kata panitia diskusi Dahlia Rera.

Akhirnya acara diskusi dibatalkan dan diganti dengan acara Workshop komunitas peneliti ‘Forum Nulistik’, dengan pembicara Direktur Eksekutif Tempo Institute Mardiyah Chamim.

“Media Konvensional merupakan amplifier,” kata Mardiyah di awal paparannya, “Bila media konvensional bagus dalam mengolah data, maka bisa sustain dan diikuti liputan yang lebih dalam,” ujarnya.

Lebih lanjut Mardiyah mengungkapkan beberapa tahun lalu Indonesia dihebohkan berita tentang Jilbab Hitam, “Saat itu Jilbab hitam menuding Tempo mempermainkan berita karena iklannya ditolak oleh Bank Mandiri,” ujarnya.

20160519_145921

Mardiyah menegaskan, Tempo adalah media yang Pruralisme, anti korupsi, dan mengungkap sesuatu yang sulit, “Kita harus paham Mapping Media, kalau Kompas sudah jelas banyak memberitakan tentang rakyat kecil, jadi kalau ingin tahu harga pupuk dan gabah ya baca Kompas,” katanya.

“Tempo biasa melewatkan sebuah berita apabila rilisnya biasa-biasa saja,” kata Mardiyah, “Yang pasti di Tempo, judul dan paragraf pertama harus bagus,” tegasnya, “Jika ada berita yang bagus biasanya 30 persen masuk Online, 20 persen masuk koran, dan 10 persen masuk majalah, dan tidak semua peristiwa di seminar dan Press Conference harus ditayangkan oleh Tempo apalagi jika Angle-nya tidak menarik,” tegasnya.

Mengenai materi berita, Mardiyah mengingatkan materi harus dikemas bahasanya, “Membuat Press rilis harus menarik,” katanya.

“Media itu tidak ada Funding, oleh karenanya Angle di Media tidak boleh datar-datar saja, harus ada News Value, karena aktual dan penting itu menarik,” kata Mardiyah, “Sebuah berita itu harus berdampak pada masyarakat banyak,” tegasnya, “Yang harus diingat ‘Mutiara’ dalam suatu berita jangan di simpan di bawah tetapi harus diletakkan di atas,” ujarnya.

Mardiyah mengapresiasi lembaga Kontras dalam membuat suatu berita, “Berita-berita di Kontras bagus dan kreatif karena memperlihatkan Feeding cerita, Kontras lebih menyoroti orang bukan persoalan,” tegasnya.

Mengenai Peneliti, Mardiyah mengingatkan, prestasi terbesar seorang peneliti apabila beritanya dicover di majalah dan bukan di Media Online, “Tetapi bukan Advetorial,” kata Mardiyah di akhir paparannya.

Komunitas Forum Nulistik sendiri beranggotakan para peneliti di 16 lembaga riset yang menjadi mitra KSI, antara lain, Smeru, Akatiga, Sayogo Institute, Pusad, PPIM UIN, dan PPH Atmajaya. (Bagoes Rinthoadi)