Roadshow Eagle Awards 2016 di Bandung Tidak Berjalan Mulus

20160526_110720-1

ARCOM.CO.ID ,Bandung. Roadshow Eagle Awards Documentary Competition (EADC) 2016, di kota Bandung tidak berjalan mulus, dikarenakan alat pemutar film dokumenter tidak berjalan dengan baik.

Hal ini terungkap dalam Roadshow Eagle Awards Documentary Competition 2016, Kamis, (26/5/2016), di Gedung Serba Guna (GSG) Salman Academy ITB jalan Ganesha Bandung.

Sekitar 100 mahasiswa dari berbagai kampus di kota Bandung yang memenuhi GSG Salman Academy ITB harus menelan kekecewaan, karena film dokumenter “Dokter Untuk Bangsa” hanya ditayangkan beberapa menit, dan harus terhenti karena pemutar film mengalami kendala teknis.

Film dokumenter berjudul “Dokter Untuk Bangsa” dengan pemeran utama dokter Asmayanti Asrum, sempat beberapa kali nge-Hang, dan akhirnya terhenti sama sekali.

Karena pemutar film mengalami kendala, akhirnya Talk Show Eagle Awards Documentary Competition 2016 menjadi pelipur lara para mahasiswa.

Talkshow Eagle Awards Documentary Competition 2016, di Gedung Serba Guna (GSG) Salman Academy ITB menghadirkan Sekjen Eagle Institut Indonesia Bambang Hamid Sujatmoko, dokter Lucas C. Hermawan sebagai pembicara, dan Stephanie Silitonga dari Metro TV sebagai pemandu acara.

“Kesehatan merupakan berita yang ‘Sexy’, sama dengan berita Crime,” kata Sekjen Eagle Institut Indonesia Bambang Hamid Sujatmoko di awal paparannya, “Kesehatan akhirnya menjadi tema Eagle Awards Documentary Competition 2016,” ujarnya.

“Kesehatan menjadi berita ‘Sexy’ karena memenuhi dua unsur, yakni kesehatan mengancam keselamatan dan membutuhkan biaya,” kata Bambang, “Tinggal bagaimana kita mengemasnya dengan baik,” ujarnya.

Lebih lanjut Bambang mengatakan, saat ini film dokumenter belum mempunyai festival seperti Festival Film Indonesia (FFI), “Padahal film dokumenter itu merekam sejarah,” katanya, “Karena hal itulah kami membuat Eagle Awards Documentary Competition (EADC) selama 12 tahun,” ujarnya.

“Banyak karya film dokumenter anak bangsa yang fenomenal dan akhirnya memenangkan berbagai penghargan di Korea, Malaysia, Iran dan Prancis,” ungkap Bambang, “Ada juga film dokumenter EADC yang menang di FFI yakni film dokumenter berjudul Dolanan,” ujarnya.

Mengenai Eagle Awards Documentary Competition (EADC), Bambang mengungkapkan, setiap tahun EADC berganti tema, “Hal ini dilakukan agar mendapat inspirasi baru,” ujarnya, “EADC tahun lalu (2015) bicara tentang persatuan, dan tahun 2016 bicara tentang kesehatan,” katanya.

Pembicara Roadshow Eagle Awards Documentary Competition 2016 dokter Lucas C. Hermawan mengatakan, masalah kesehatan bukan hanya menjadi tanggung jawab orang kesehatan, “Kesehatan merupakan tanggung jawab dan upaya kita semua,” katanya.

“Kesehatan berhubungan dengan perilaku masyarakat,” kata Lucas, “Perilaku adalah nomor satu, tanpa perilaku yang baik, sulit mendapatkan kesehatan,” ujarnya, “Ada komponen non kesehatan yang ikut berperan,” tegasnya. (Bagoes Rinthoadi)

Comments are closed.