Manajemen ibis Bandung Trans Studio Kunjungi Yayasan Kanker

20160615_183834

ARCOM.CO.ID ,Bandung. Manajemen ibis Bandung Trans Studio di bulan Ramadhan 1437 H berkesempatan mengunjungi dan memberikan bantuan kepada anak-anak penderita kanker yang tinggal di Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI) Bandung.

Hal ini terungkap pada acara buka puasa manajemen ibis Bandung Trans Studio bersama YKAKI Bandung, Rabu, (15/6/2016), di Rumah Singgah YKAKI jalan Taman Curie No.23 Bandung, turut hadir Hotel Manager ibis Bandung Trans Studio Nanan Sulaeman, dan Kepala YKAKI Bandung Ina Lintang.

“Sebenarnya kerjasama ibis Bandung Trans Studio dan YKAKI Bandung sudah memasuki tahun kedua, dan kami setiap bulannya memberikan sumbangan berupa makanan, obat obatan, popok bayi, minyak goreng, dan beras,” kata Hotel Manager ibis Bandung Trans Studio Nanan Sulaeman di awal paparannya.

Lebih lanjut Nanan mengatakan, kerjasama ibis Bandung Trans Studio dengan YKAKI Bandung menjadi program kedua selama bulan Ramadhan, “Kami kemarin sudah melakukan program buka puasa bersama Anak Yatim di lingkungan ibis Bandung Trans Studio,” kata Nanan.

20160615_184507

“Program ini berkelanjutan dan tidak akan berhenti sampai disini, ke depannya kami akan terus bekerja sama dengan yayasan lainnya,” ujar Nanan.

“Kita memberikan perhatian kepada anak penderita kanker karena anak-anak ini menggerakkan hati kami, mengingat dari 600 anak, 10 persennya terkena kanker,” ujar Nanan, “Kami akan terus menggalang dana dan memberi motivasi kepada anak-anak penderita kanker,” kata Nanan di akhir paparannya.

Kepala Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI) Bandung Ina Lintang mengatakan, yayasan yang berdiri sejak 12 Desember 2012, selalu meng-cover obat-obatan anak penderita kanker yang tinggal di rumah singgah YKAKI Bandung, “Apabila anak penderita kanker meninggal, kami juga menyiapkan mobil Ambulance,” kata Ina.

“Kami memungut biaya Rp.5000 per keluarga, itupun kalau sanggup, apabila tidak sanggup boleh semampunya,” kata Ina, “Bila benar-benar tidak mampu pasien kanker kami bebaskan biaya,” ujarnya.

Lebih lanjut Ina mengatakan, anak-anak penderita kanker (usia satu hari sampai 17 tahun) yang tinggal di YKAKI diberi makan tiga kali sehari, “Kami juga menyiapkan ruang untuk bersekolah,” kata Ina.

20160615_185516

“Kami berharap anak-anak penderita kanker mendapat pengobatan yang layak, karena sebelum bergabung di YKAKI mereka mengontrak rumah, dan tinggal di lorong Rumah Sakit,” Kata Ina, “Namun setelah adanya Rumah Singgah mereka dapat pengobatan yang layak dan menjalani pengobatan yang tidak sebentar yaitu dua sampai empat tahun pengobatan,” ujar Ina.

Ina mengatakan, saat ini YKAKI Bandung bekerja sama dengan RS Hasan Sadikin, “Kami diberi ruangan 2×4 untuk bersekolah, jadi pasien walau memakai infus bisa bersekolah, namun yang kondisinya kurang baik, guru akan mengajar Bed to Bed,” ujarnya.

“Dokter RSHS selalu merekomendasikan pasien kanker ke rumah singgah kami, hal ini dilakukan agar pasien kanker tidak terkatung-katung dan tidak terkena calo,” kata Ina, “Syaratnya mendapat surat dari dokter yang menyatakan pasien terkena kanker,” ujarnya.

Mengenai jumlah pasien kanker di YKAKI Bandung, Ina mengatakan saat ini yang aktif ada 100 anak, “Namun mereka datang dan pergi, karena jadwal kemoterapi ada yang tiap hari, tiap minggu dan tiap bulan,” ujarnya, “Apabila yang kemoterapi dua bulan sekali, mereka pulang, namun yang setiap hari kemoterapi mereka tinggal di sini,” kata Ina.

20160615_184038

“Kapasitas rumah singgah kami 14 Bed, namun bisa dimaksimalkan sampai 25 Bed,” kata Ina, “Disini ada anak-anak penderita Leukemia, kanker darah, kanker mata, kanker ginjal, dan kanker otak,” ungkapnya, “Penderita kanker ada yang berasal dari Merak hingga Cirebon, untuk kasus tertentu ada dari Lampung dan Palembang, untuk pasien kanker tenggorokan berasal dari Samarinda,” kata Ina.

“Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI) Bandung mandiri, dan tidak ada bantuan dari mana-mana, bahkan mengontrak rumah di Taman Curie harganya luar biasa,” kata Ina, “Kami membuka pintu lebar-lebar bagi para donatur yang peduli kanker,” ujarnya, “Beruntung kami mempunyai donatur tetap yaitu ibis,” kata Ina.

Ina mengungkapkan, bantuan serta kunjungan dari Pemkot Bandung dan Pemprov Jabar ke YKAKI hingga saat ini belum ada, “Kami tidak pernah menyodorkan proposal, namun kami membuka pintu bila Pemkot dan Pemprov mau memberi bantuan,” ujarnya.

“Kami menyadari, persentase penyakit kanker sangat kecil dibandingkan penyakit lain, mungkin hal itulah yang membuat Pemkot dan Pemprov belum memberikan bantuan kepada anak-anak penderita kanker, padahal kami membutuhkan biaya yang besar,” kata Ina di akhir paparannya. (Bagoes Rinthoadi)

Comments are closed.