Universitas Padjadjaran Gelar Diskusi Tradisi Mudik

20160630_161730

ARCOM.CO.ID ,Bandung. Universitas Padjadjaran kembali menggelar Diskusi Unpad Merespons yang kali mengambil tema, “Mudik, Antara Tradisi dan Kekinian”, Kamis, (30/6/2016), di Executive Lounge Lantai 2 Gedung 2 Kampus Unpad jalan Dipati Ukur Bandung.

Turut hadir dalam diskusi ini, Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Barat Dedi Taufik, Guru Besar FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Elly Malihah, Dosen Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unpad Ferry Hadiyanto, Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Unpad pakar bidang Kajian Budaya Dadang Suganda, dan Dosen Administrasi Negara FISIP Unpad Yogi Suprayogi sebagai moderator.

“Tradisi mudik hanya ada di Indonesia,dan mudik merupakan budaya,” kata Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Barat Dedi Taufik, “Kita harus bangga karena nanti yang menguasai dunia adalah budaya,” ujarnya.

Lebih lanjut Dedi mengatakan, ketika Long Weekend sebanyak 200 ribu kendaraan masuk ke wilayah Jawa Barat, “Hal ini akan menimbulkan transaksi ekonomi yang tidak sedikit,” ujarnya.

Dedi mengungkapkan, fenomena di lapangan saat menjelang Natal, 24 Desember hingga 25 Desember ada kenaikan lonjakan 38 persen di Tol Cikarang menuju Bandung, “Biasanya hanya ada 78.000 kendaraan yang melintas,” ujarnya.

Dedi menyayangkan hingga saat ini belum ada sistem logistik nasional padahal pergerakan angkutan barang cukup tinggi, “Mengapa cabai masuk Bandung dahulu baru ke Garut padahal Cost produksi harus ditekan,” ujarnya.

“Saat ini yang terjadi adalah budaya macet, karena yang terjadi adalah pertumbuhan jalan hanya 1,2 persen, sedangkan pertumbuhan kendaraan sebesar 12 persen,” kata Dedi.

Mengenai tradisi mudik, Dedi mengatakan mudik adalah Budaya Culture Shock, “Saya sudah mengusulkan agar jalan tol H-14 memberikan spesial diskon kepada para pemudik, namun usul saya belum terealisasi,” ujarnya.

“Public Transport harus dikuasai negara, karena negara-negara maju masyarakatnya menggunakan Public Transport,” kata Dedi, “Bila masyarakat masih menggunakan kendaraan pribadi, maka bukan negara maju,” ujarnya.

Di akhir paparannya Dedi mengatakan Dishub Jabar telah menyiapkan 38 unit CCTV 38 di jalur mudik.

Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Unpad pakar bidang Kajian Budaya Dadang Suganda mengatakan mudik merupakan watak kepribadian bangsa Indonesia, “Semua bermula dari habitus,” ujarnya.

“Kebutuhan manusia itu ada tujuh, yaitu kebutuhan aktualisasi diri, estetika, intelektual, penghargaan, sosial, keamanan, dan fisik,” kata Dadang, “Silaturahmi merupakan kebutuhan sosial, dan di Jawa Barat kita biasa mendengar istilah sabatur, salembur, sasumur, sadapur, dan sakasur,” pungkasnya.

Guru Besar FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Elly Malihah mengatakan, menurut hasil mini riset dari 40 responden, sebanyak 82 persen responden sudah mendengar istilah mudik semenjak kecil, “Sebanyak 85 persen responden mengatakan pernah mudik dan dilakukan pada momen hari raya,” ujarnya.

Elly mengungkapkan, sebanyak 76 persen responden mengatakan tujuan mudik mereka adalah menengok keluarga, karena tidak cukup mengucapkan selamat hari raya kepada orang tua melalui HP dan Media Sosial.

“Mudik itu mempererat tali silaturahmi, dan momen kita bertemu dengan orang tua yang kita cintai,” kata Elly, “Mudik merupakan suatu momen yang ditunggu-tunggu bagi orang-orang sibuk untuk berkumpul dengan keluarga besar,” ujarnya.

“Mudik dengan segala dinamikanya menyimpan potensi yang bila dikelola dengan baik dapat menjadi modal sosial untuk membangun masyarakat di tengah gejolak medernitas,” pungkas Elly.

Dosen Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unpad Ferry Hadiyanto mengatakan, dalam logika ekonomi, mudik adalah suatu cara mengexpose kemakmuran masyarakat dan mengecilkan makna kemiskinan, “Masyarakat yang mudik ingin menunjukkan status sosial yang lebih baik dan memperlihatkan pekerjaannya lebih baik daripada di kampung halaman,” ujarnya.

“Transmisi mudik membawa dampak transfer aktivitas ekonomi ke daerah,” kata Ferry, “Pemudik menunjukkan kekayaan yang lebih besar dengan konsumsi yang berlebihan,” ujarnya.

Ferry mengatakan, dampak mudik dalam perspektif ekonomi diantaranya, Bank Indonesia menambah jumlah uang beredar, pemerintah harus menyediakan Supply barang dan jasa lebih besar, belanja pemerintah (APBN/APBD) meningkat, dan suntikan THR, “Nantinya sektor transportasi meningkat dan masyarakat banyak yang menarik simpanan di Bank,” ujarnya.

“Output mudik adalah, pertumbuhan ekonomi yang menyebar sampai perdesaan, inflasi meningkat, dan transfer uang dan zakat ke perdesaan,” kata Ferry.

Di akhir paparannya Ferry mengatakan, mudik merupakan periode dimana pertumbuhan ekonomi meningkat dibanding periode lainnya karena membesarnya Aggregate Demand dan Aggregate Supply, “Fenomena inflasi selalu akan terulang, pungkas Ferry. (Bagoes Rinthoadi)

Comments are closed.