Unpad Buka Pendidikan Multi Kampus di Pangandaran

20160725_141628

ARCOM.CO.ID ,Bandung. Universitas Padjadjaran akhirnya melaksanakan tugas dari Pemprov Jabar dengan mengadakan pendidikan multi kampus di Kabupaten Pangandaran.

Hal ini terungkap dalam Jumpa Pers Sosialisasi Seleksi Mahasiswa Unpad Program Diploma 4, Pendidikan Multi Kampus dan Dokter Layanan Primer, Senin, (25/7/2016), di Executive Lounge Kampus Unpad DU jalan Dipati Ukur Bandung.

Turut hadir, Rektor Unpad Tri Hanggono Achmad, Warek Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Unpad Arry Bainus, dan para Dekan Unpad.

“Unpad membuka pendidikan multi kampus di Kabupaten Pangandaran atas kepentingan kebutuhan wilayah tersebut,” kata Rektor Unpad Tri Hanggono Achmad di awal paparannya, “Unpad yakin percepatan wilayah membutuhkan kekuatan akademik, dan Pangandaran tidak punya itu,” ujarnya.

Lebih lanjut Tri mengatakan Program Studi (Prodi) yang dibuka di Kabupaten Pangandaran adalah, Administrasi Bisnis (Fisip), Peternakan (Fapet), Ilmu Komunikasi (Fikom), Keperawatan (FKep), dan Perikanan (FPIK), “Unpad menerima 30 mahasiswa setiap prodi tersebut, tetapi 50 persen mahasiswanya adalah warga Pangandaran dan diberi beasiswa,” kata Tri, “Sedangkan 50 persen lainnya biaya sendiri dengan uang kuliah tertinggi (UKT),” ujarnya.

Tri mengatakan mahasiswa asal Pangandaran tidak perlu tes tertulis, “Cukup nilai rapot dan hasil UN,” ujarnya, “Program multi kampus akan dimulai tahun 2016, dan pendaftaran secara online mulai 28 Juli hingga 6 Agustus 2016,” kata Tri.

“Dalam waktu dekat Unpad akan rapat khusus dengan Bupati Pangandaran, Bupati Banjar dan Bupati Ciamis untuk sosialisasi dan penjaringan mahasiswa Multi Kampus,” kata Tri, “Ke depannya kampus Unpad di Pangandaran akan bertransformasi menjadi Universitas Pangandaran,” ujarnya.

Mengenai Program Diploma 4, Tri mengatakan, landasan Prodi Diploma 4 atau Sarjana Terapan adalah sudah terlalu banyak lulusan D2 dan D3 di desa-desa, “Kebutuhan lulusan D4 semakin besar,” kata Tri, “Sarjana itu ruang lingkupnya akademik, namun di dunia nyata aplikatif lebih dibutuhkan,” ujarnya.

“Secara tradisi di desa ingin ada sarjana, padahal yang dibutuhkan adalah sarjana terapan,” kata Tri, “Sarjana terapan dibutuhkan untuk menghadapi globalisasi dan Masyarakat Ekonomi ASEAN,” ujarnya.

“D4 itu ada di level 6 sedangkan D3 di level 5, setelah di level D4 lulusannya bisa ambil S2. Terapan atau S3 terapan, sedangkan D3 tidak bisa ambil S2 terapan,” ungkap Tri.

“Tahun 2016 dirintis dari jenjang D3 menjadi D4, karena bila tidak dilakukan kita akan ketinggalan di terapan,” kata Tri, “Di indonesia pendidikan terapan banyak di pendidikan bidan,” ujarnya.

“Program Studi Diploma 4 atau Sarjana Terapan yang dibuka Unpad yaitu Akuntasi Perpajakan (Fakultas Ekonomi dan Bisnis), Administrasi Pemerintahan (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik/Fisip), Administrasi Publik (Fisip), Bahasa dan Budaya Tiongkok (Fakultas Ilmu Budaya) dan Manajemen Produksi Media (Fakultas Ilmu Komunikasi),” kata Tri, “Program Studi Kebidanan sudah lebih dahulu dibuka,” ungkapnya.

Mengenai Program Studi baru Dokter Layanan Primer Fakultas Kedokteran (setara spesialis), Tri mengatakan, UKT S1 sama dengan tahun 2015, “Program Studi baru ini dibuka dengan target memenuhi kebutuhan dokter di Jawa Barat,” kata Tri.

Di akhir paparannya Tri mengatakan, persyaratan tambahan untuk Program Pendidikan Masa Transisi (dokter yang telah praktik lebih dari 5 tahun) adalah, membuktikan telah melakukan pengalaman pemberdayaan masyarakat, melakukan pengalaman manajemen fasilitas pelayanan kesehatan primer, berpengalaman menjadi pimpinan, dan berpengalaman menangani kasus klinik. (Bagoes Rinthoadi)

Comments are closed.