Peneliti Jepang Siap Murnikan Air Kotor di Kota Bandung

IMG_20160728_152346

ARCOM.CO.ID ,Bandung. Peneliti asal Jepang Takashi Sato (40 thn) dari Non Goverment Organitation (NGO) Ecological 1st-AID dan NGO Indonesia Ryu Kensei yang diwakili Abraham Suryapratama (Bram) melakukan penelitian kolaboratif di kota Bandung dalam rangka menuju proses pemasangan alat pemurni air bernama “You” di awal tahun 2017.

Hal ini terungkap dalam Press Conference Ecological 1st-AID, Rabu, (27/7/2016), di Gedung Indonesia Menggugat (GIM) jalan Perintis Kemerdekaan Bandung.

Peneliti asal Jepang Takashi Sato yang didampingi Bram sebagai penerjemah mengatakan, sebelum ke kota Bandung dirinya yang juga bekerja sebagai pengajar di Universitas Jepang telah meneliti air kotor di India, “Saya memilih kota Bandung karena Bram membawa saya ke kota Bandung untuk bersama-sama menciptakan alat untuk menjernihkan air kotor di kota Bandung,” kata Takashi.

Lebih lanjut Takashi mengungkapkan sebelum acara Press Conference dirinya telah meneliti air kotor di Leuwi Panjang, “Setiap ketemu sungai saya dan Bram berhenti untuk mengecek air di daerah tersebut,” ujarnya, “Hal ini dilakukan dalam rangka menentukan titik-titik untuk alat yang akan dibawa dari Jepang, apakah cocok atau tidak dipasang di tempat tersebut, karena alatnya harus sesuai titik tuju,” kata Takashi.

“Ke depannya kami ingin melakukan pelatihan dengan masyarakat agar bisa membuat alat sendiri, dan memeliharanya, supaya alat pemurni air “You” tersebut nantinya betul-betul menjadi milik masyarakat,” kata Takashi.

Takashi mengungkapkan dirinya dahulu pernah menjadi pendamping orang-orang Jepang yang ketergantungan obat dan orang-orang yang mencoba bunuh diri, “Oleh karena itu saya ingin memberikan pertolongan pertama pada lingkungan,” kata Takashi, “Saya ingin menyembuhkan luka hati pada alam yang paling dalam,” ujarnya, “Maka saya menamakan NGO saya Ecological 1st-AID,” ujarnya, “First AID di sini seperti plester penutup luka yang murah, gampang dan penolong pertama kali,” kata Takashi.

“Kami ingin menolong lingkungan secara murah dengan memurnikan air kotor di Bandung dengan menawarkan teknologi yang belum pernah ada di Indonesia,” kata Takashi.

Takashi mengungkapkan teknologi pemurni air yang ada saat ini adalah klorin, “Namun menjernihkan air dengan klorin dipastikan setelah penjernihan ada sisa klorin,” kata Takashi, “Dengan klorin menjadi masalah baru yaitu gatal karena bahan kimia,” ujarnya.

“Mulai sekarang saya tidak akan menjernihkan air dengan bahan kimia,” kata Takashi, “Bisa saja memurnikan air di Bandung dengan program filter air, tetapi dengan program filter air harganya sangat mahal seharga dua kamera Digital SLR,” ungkapnya.

“Januari 2017 saya akan melakukan pemurniaan air-air kotor di Bandung dengan menggunakan yang ada di alam namun membutuhkan proses yang lama yaitu mikroba,” kata Takashi, “Nantinya air kotor akan dimakan oleh mikroba sehingga air kotor menjadi jernih, dan memang prosesnya rumit yaitu satu tahun,” ujarnya.

Takashi mengatakan pihaknya hanya menawarkan dan mengajarkan teknologi, “Material alat penjernih air banyak tersedia di Bandung seperti bambu bekas,” kata Takashi, “Kita tidak memberikan alat karena prototipe dibuat di Bandung,” ujarnya.

“Nantinya alat yang diberi nama ‘You’ dalam sehari mampu membuat air bersih sebanyak 30 ton,” kata Takashi, “Atau sebanyak 150 Bath Tub kapasitas 200 liter,” ujarnya, “Alat pemurni air You digerakkan pompa dan akan dirakit Januari 2017 di Bandung,” kata Takashi.

“Mikroba penjernih air akan diciptakan setelah air kotor diteliti,” kata Takashi, “Bahkan kita punya mikroba baik di dalam tubuh kita,” ujarnya, “Yang harus dihindari dalam penciptaan mikroba adalah tempat-tempat lembab, maka harus ada sinar matahari,” tegasnya, “Setiap tempat punya empat hingga lima mikroba spesial untuk menjernihkan air asalkan ada matahari,” ujarnya.

“Namun bakteri tidak bisa menjernihkan air kotor yang terkontaminasi mercuri (air raksa) dan nuklir,” kata Takashi, “Karena membersihan nuklir harus dengan nuklir lagi dan mercuri dengan mercuri lagi,” tegasnya.

“Sejak 2011 saya telah meneliti lindi air di tempat pembuangan sampah di jepang,” kata Takashi, “Saya memiliki sertifikat penjernihan air dari Jepang,” pungkasnya.

Abraham Suryapratama yang biasa disapa Bram dari NGO Ryu Kensei mengatakan mahasiswa teknik kimia Universitas Parahyangan (Unpar) yang belum lama ini berhasil memurnikan air kotor di masjid untuk digunakan berwudlu akan ikut bergabung bersama NGO Ecological 1st-AID dan NGO Ryu Kensei untuk memurnikan air kotor di kota Bandung awal 2017.

“Tujuan kegiatan ini adalah menjadikan program penelitian dan pengembangan yang memiliki daya ubah pada kehidupan masyarakat,”kata Bram, “Kegiatan ini bersifat berkelanjutan, sehingga warga mampu mengembangkan dan merawat alat, bahkan mampu menyebarkan cara pemurnian dan menjaga sumber air kepada warga masyarakat lainnya,” ujarnya, “Warga pun menjadi lebih peka, partispatif, dan mandiri,” pungkas Bram.

Kegiatan sosial yang dilakukan Ecological 1st-AID dan Ryu Kensei dinilai dapat memberikan manfaat yang sangat besar bagi masyarakat kota Bandung.

Penelitian sendiri dilakukan di Desa Parakan Muncang RT 02 RW 04 Desa Sindang Pakuon Kabupaten Sumedang, dan penelitian dijadwalkan berlangsung selama setahun sejak Januari 2016 hingga Januari 2017.

Penelitian pertama dilakukan pada 23 Januari 2016, dan setelah tim peneliti mendapat data awal maka akan diproses untuk menuju langkah penelitian selanjutnya.

Penelitian dilakukan di TPA Leuwi Gajah, Bojong Tanjung, Cukang Genteng, dan sejumlah titik-titik lainnya.

Nantinya tim ahli dari Analis Kimia dan Tehnik Lingkungan akan memeriksa parameter uji yang dibutuhkan alat pemurni air “You”, yaitu COD, NO3, NH4, S(H2S), ORP, dan memeriksa kandungan bakteri.

Ke depannya warga diharapkan mampu mengoperasikan dan menjaga alat pemurni air “You”secara mandiri, dan secara sukarela menjalani dan merawat program serta mesin yang telah dipasang. (Bagoes Rinthoadi)