P-P2Par ITB Gelar Seminar Internasional Pariwisata Halal

20160818_102338-1

ARCOM.CO.ID ,Bandung. Pusat Perencanaan dan Pengembangan Kepariwisataan (P-P2Par) Institut Teknologi Bandung (ITB) bekerja sama dengan Pusat Halal Salman ITB akan menggelar Seminar Internasional Pariwisata Halal, Kamis-Jumat, (1-2/9/2016), di Aula Barat ITB jalan Ganesha Bandung.

Hal ini terungkap dalam Konferensi Pers Seminar Internasional Pariwisata Halal, Kamis, (18/8/2016), di Gedung Serba Guna (GSG) Masjid Salman ITB Bandung.

Turut hadir, Kepala Pusat Perencanaan dan Pengembangan Kepariwisataan (P-P2Par) Institut Teknologi Bandung (ITB) Budi Faisal, Ketua Pusat Halal Salman dan Yayasan Pembina Masjid (YPM) Salman ITB Syarif Hidayat, serta Anggota Dewan Pembina Pusat Halal Salman ITB Nashir Budiman.

“Saat ini industri Pariwisata Halal menjadi salah satu industri di sektor kepariwisataan yang diperhitungkan,” kata Kepala P-P2Par ITB Budi Faisal di awal paparannya, “Namun pengetahuan dan wawasan akan konsep Pariwisata Halal belum menggaung di Indonesia,” ujarnya.

Lebih lanjut Budi mengungkapkan, akomodasi tempat wisata di Indonesia belum optimal mendukung nilai-nilai Islam, “Masih ada Mushola yang kotor, serta tempat yang menjual makanan dan minuman beralkohol,” ujarnya, “Padahal kosep Pariwisata Halal berarti segala sesuatu yang tidak membahayakan manusia dan lingkungan, yang sesuai dengan koridor aturan Islam,” ujarnya.

“Konsep halal sejatinya adalah konsep yang universal sehingga kebaikan prinsip halal menarik bagi turis,” kata Budi.

Budi mengatakan, jumlah turis muslim terbanyak dibandingkan turis-turis lain, “Mereka memiliki skala jumlah pengeluaran yang cukup besar, namun saat berwisata mereka mengharapkan fasilitas dan layanan yang tidak melanggar prinsip Islam,” ujarnya, “Saya harap konsep halal dapat diterapkan ke segala lini dalam destinasi wisata di Indonesia,” pungkasnya.

Ketua Pusat Halal Salman dan Yayasan Pembina Masjid (YPM) Salman ITB Syarif Hidayat mengatakan, mengembangkan ragam pariwisata halal di destinasi wisata Indonesia bukan sekedar soal bisnis, “Pariwisata halal adalah bentuk dakwah nilai-nilai Islam demi mewujudkan masyarakat Indonesia yang beradab,” kata Syarif.

“Indikator beradab adalah melayani serta menghargai sesama lingkungan,” kata Syarif, “Contohnya adalah masalah transaksi jual beli, halal dalam Islam didasari tiga hal yaitu substansi yang halal, adanya rasa kesetaraan, sukarela serta pasti, dan tidak mengandung unsur penipuan atau riba,” ujarnya.

“Membiasakan masyarakat dengan nilai Islam lewat konsep Pariwisata Halal merupakan bagian dari misi Salman untuk membawa Indonesia menuju negara paling beradab di Asia Tenggara,” pungkas Syarif.

Anggota Dewan Pembina Pusat Halal Salman ITB Nashir Budiman mengatakan, label Halal merupakan suatu keharusan, “Tingkat sosial-ekonomi umat Islam masa kini tinggi, otomatis kebutuhan berekreasi timbul, sayangnya Indonesia kurang menangkap peluang tersebut,” ujarnya.

“Sektor pariwisata Jepang akhirnya tumbuh ketika Jepang memberi layanan wisata halal untuk wisatawan muslim,” ungkap Nashir.

Lebih lanjut Nashir mengatakan, tujuan diadakannya Seminar Internasional Pariwisata Halal adalah untuk mengenalkan wisata halal sebagai peluang meningkatkan kesejahteraan masyarakat, “Ragam pariwisata halal memiliki potensi yang sangat besar dalam meningkatkan tingkat ekonomi, namun masih ada stigma proses mengurus sertifikasi halal rumit,” pungkasnya.

Hari pertama Seminar Internasional Pariwisata Halal bertajuk, “Anatomi Pariwisata Halal Global”, Kamis, (1/9/2016), akan berlangsung di Aula Barat ITB mulai pukul 08.00 hingga 21.00 WIB, diawali sambutan dari Ketua Pusat Halal Salman dan Yayasan Pembina Masjid (YPM) Salman ITB Syarif Hidayat, dan sambutan Rektor ITB Kadarsah Suryadi.

Para pembicara di hari pertama adalah Menteri Pariwisata RI Arief Yahya (Keynote Speaker), Associate Professor of Keio University Japan Yo Nonaka, Director of Belgium Halal Club Marc Deschamps, Penggagas Pariwisata Halal Indonesia Sapta Nirwandar, Ketua Bidang Bisnis dan Pariwisata Dewan Syariah Nasional Endy M. Astiwara, Sultan Sepuh XIV Kasepuhan Cirebon Arief Natadiningrat, dan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.

Hari kedua Seminar Internasional Pariwisata Halal bertajuk, Jumat, (2/9/2016), akan berlangsung di tempat yang sama mulai pukul 08.00 hingga 17.00 WIB, diawali sambutan dari Kepala Pusat Perencanaan dan Pengembangan Kepariwisataan (P-P2Par) Institut Teknologi Bandung (ITB) Budi Faisal.

Para pembicara di hari kedua adalah Gubernur Nusa Tenggara Barat M. Zainul Majdi, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, Wakil Ketua Tim Percepatan Pengembangan Pariwisata Halal Kementerian Pariwisata Hafizuddin Ahmad, dan Direktur Pelaksanan Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-Obatan, dan Kosmetik MUI Lukmanul Hakim.

Selain Seminar Internasional Pariwisata Halal, Pusat Halal Salman ITB dan LPPOM MUI akan menggelar Olimpiade Halal 2016, Kamis, (1/9/2016), di Masjid Salman ITB mulai pukul 07.00 Hingga 17.00 WIB.

Olimpiade Halal dibuka untuk 1000 pelajar SMA/sederajat se-Jawa Barat, pendaftaran dimulai tanggal 1 hingga 23 Agustus 2016 secara online di: www.halalmui.org dan pendaftaran tidak dikenakan biaya.

Materi yang akan diuji adalah, pengetahuan tentang halal dan haram sesuai dengan AlQuran dan Hadits, prosedur sertifikasi halal dan sistem jaminan halal, pengetahuan mengenai studi Islam, serta pengetahuan umum.

Olimpiade Halal 2016 diadakan dalam upaya meningkatkan kesadaran halal dan mewujudkan penerapan gaya hidup halal bagi remaja, olimpiade ini bertujuan mengedukasi masyarakat agar senantiasa mengonsumsi produk halal dan bersertifikat halal MUI. (Bagoes Rinthoadi)

Comments are closed.