Eka Santosa: PON XIX Jawa Barat Amburadul

img_20160924_075332

ARCOM.CO.ID ,Bandung. Ketua Forum Penyelamat Olahraga Jawa Barat (FPOJB) Eka Santosa secara tegas menyatakan penyelenggaraan PON XIX di Jawa Barat amburadul dan semrawut.

Hal ini ditegaskan Eka dalam Press Conference FPOJB, Jumat, (23/9/2016), di Little White Restro jalan Lodaya Bandung, turut hadir, para tokoh Jawa Barat, Memet Hamdan, Abah Landoeng, Bob Gunawan, Abu Bakar, dan Kol. Purn. Sopyan Yusuf.

Eka Santosa yang juga pernah menjabat sebagai Ketua KONI Jabar mengungkapkan, sebenarnya Jawa Barat diberi waktu 5 tahun lebih untuk mempersiapkan penyelenggaraan PON XIX, “Surat penunjukan sebagai tuan rumah PON XIX sudah ada sejak 2010,” kata Eka, “Ada waktu 5 tahun bagi Gubernur Jabar untuk konsolidasi,” ujarnya.

Lebih lanjut Eka mengatakan, pada kenyataannya beberapa Venue seperti di Arcamanik Bandung masih terlihat atlet PON XIX berlomba dengan latar alat berat, konstruksi yang belum jadi dan besi-besi beton, “Hal ini sudah kami prediksi sebelumnya,” ujar Eka.

Eka pun menyoroti penjualan tiket di beberapa arena PON XIX, “Masih ada tiket PON XIX yang dijual kepada masyarakat, hal ini sungguh memalukan,” kata Eka, “Penjualan tiket PON XIX harus diusut atas inisiatif siapa, dan dananya untuk siapa,” ujarnya.

img_20160924_075337

Mengenai baligo PON XIX yang bertebaran di jalan-jalan, Eka mengkritisi mengapa baligo PON XIX banyak foto Gubernur dan Wagub Jabar, “Seharusnya baligo PON XIX ada foto atlet berprestasi seperti Susi Susanti dan jangan foto Gubernur dan Wagub Jabar,” tegasnya.

Mengenai suporter, Eka menyoroti banyaknya suporter yang mengaku dari kontingen Jabar mengancam suporter kontingen lain, “Suporter ini kiriman dari mana dan disuruh oleh siapa untuk mengintimidasi,” ujar Eka, “Hal ini menodai budaya Jabar,” tegasnya.

“Yang paling aktual adalah adanya intimidasi oleh para preman terhadap jurnalis Tribun Jabar Zezen Zainal Muttaqin akibat memberitakan tentang anggaran PON XIX,” ungkap Eka.

“Hal Ini memalukan bagi kita, karena perhelatan nasional di tanah Pasundan dicemari premanisme, dan paling menyedihan keluarga Zezen didatangi preman,” kata Eka, “Saya dan para Olot yang tergabung dalam BOMA Jabar siap melindungi keluarga Zezen,” tegas Eka.

Lebih lanjut Eka mengatakan, PON XIX bukan ajang untuk mengumpulkan kepingan medali, “Kalau mau medali banyak di Pasar Baru Bandung,” sindir Eka, “Apakah benar medali emas dikumpulkan oleh Atlet asal Jabar, nyatanya banyak Atlet binaan Jabar malah mewakili daerah lain,” ungkapnya. “KONI Jabar tidak jujur terhadap masyarakat Jabar terkait mutasi Atlet, selain itu KONI Jabar harus mengatur wasit secara benar, Wasit yang tidak jujur jangan dipakai,” tegasnya, “Pastinya KONI Jabar harus direformasi,” tegasnya.

Mengenai dana penyelenggaraan PON XIX di Jabar, Eka mengungkapkan, sebanyak Rp.2 triliun dana bantuan desa di Jabar ditunda untuk penyelenggaraan PON XIX, “Belum lagi uang sebanyak Rp.549 miliar untuk KONI untuk mewujudkan Jabar Kahiji,” ungkap Eka, “Seusai penyelenggaraan PON XIX, KPK dan Komisi X DPR RI harus turun tangan,” pungkasnya. (Bagoes Rinthoadi)

Comments are closed.