Iwan Sunito: Diaspora Aset Nasional

diaspora-business-forum-jkt

ARCOM.CO.ID ,Jakarta. Pemenang penghargaan Property Person of The Year Iwan Sunito mengatakan, Patriotisme sudah tidak bisa lagi diartikan “Harus Tinggal” di tempat di mana kita dilahirkan, dan berpindah ke negara lain tidak harus menjadikan Brain Drain, karena jika kita bisa jaga, maka hal ini akan menjadi ‘Brain Gain’ dan ‘Brain Exchange’.

Pendapat dan pemikiran CEO dan Founder Crown Group Iwan Sunito yang memperkuat eksistensi Diaspora diungkapkan dalam acara forum bisnis Diaspora Indonesia beberapa waktu lalu di Jakarta.

Turut hadir dalam pertemuan yang membahas peluang penguatan peran Diaspora Indonesia untuk Pemerintah Indonesia, Dino Patti Djalal, Edward Wanandi, dan Dirjen Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan Imam Pambagio.

“Harus ada perspektif baru tentang Diaspora, “kata CEO dan Founder Crown Group Iwan Sunito yang lahir di Surabaya dan besar di Pangkalan Bun Sulawesi Tengah di awal paparannya.

“Diaspora adalah aset nasional, Diaspora bukan hanya merupakan Diaspora Capital, tapi juga Financial, Human dan Social Capital,” kata Iwan, “Saya percaya tema ‘Pulang Kampung’ yang dicanangkan pada saat kongres Diaspora tahun 2012 di Jakarta bukanlah slogan semata, namun sebuah gerakan baru yang saat ini sedang terjadi secara global,” tegas Iwan.

“Peluang global membutuhkan jaringan global,” kata Iwan, hal ini dikatakannya melihat peran Diaspora dalam keberhasilan Vietnam, Tiongkok, India dan Meksiko dalam mengembangkan negara mereka.

“Kita harus terhubung dan berkolaborasi, bukan berkompetisi,” kata Iwan,  “Investasi Diaspora di negara asal mereka cenderung untuk meningkatkan kewirausahaan lokal, sehingga menciptakan lingkaran untuk pertumbuhan di masa depan,” ujarnya.

Lebih lanjut Iwan mengatakan, Investor tidak perlu harus membuat pilihan antara menetap di luar negeri atau pulang ke Negara asalnya, “Mereka dapat melakukan keduanya dan membantu negara-negara asal mereka selama masih terlibat dan terhubung di negara yang mereka tinggali saat ini,” ujarnya.

” Berpindah ke negara lain tidak harus menjadikan Brain Drain, karena jika kita jaga bisa menjadi ‘Brain Gain’ dan ‘Brain Exchange,” kata Iwan, “Kita bisa memasuki dunia baru yaitu ‘Dunia Global,” ujarnya.

Iwan mengungkapkan, saat ini dunia lebih mengglobal, saling berhubungan dan saling ketergantungan dari sebelumnya, “Sekarang adalah tentang bagaiman ‘menghubungkan ke dan ‘berkolaborasi dengan’, daripada ‘bersaing dengan’, dan ini merupakan peran kunci dari para anggota Diaspora,” tegas Iwan, “Diaspora adalah jembatan pengetahuan, keahlian, sumber daya dan pasar bagi Negara asal,”  ujarnya.

Iwan pun menambahkan pandangannya perihal eksistensi dan penguatan hubungan antara Diaspora dengan pemerintah Republik Indonesia,  selain itu Iwan  mengingatkan tentang pentingnya redefinisi konsep Patriotisme.

“Patriotisme sudah tidak bisa lagi disamakan dengan ‘harus tinggal’ di tempat di mana kita dilahirkan,” tegas Iwan, “Tempat dimana kita tinggal secara fisik tidak serta merta membuat justifikasi kadar komitmen dan rasa cinta kita terhadap negara asal,” ujarnya.

Iwan menegaskan, perbedaan geografi tidak sama dengan identitas, “Saya bahkan banyak melihat orang Indonesia di luar negeri yang lebih ‘Indonesia’ dibandingkan dengan mereka yang tinggal ataupun berada di Indonesia,” kata Iwan.

Iwan pun sempat mengutip kata-kata mantan Perdana Menteri Jamaika Portia Simpson Miller yang menyatakan, ”Kita harus meredifinisi konsep berbangsa, bangsa saat ini bukanlah bersifat territorial, tidak terikat dengan ruang fisik, bangsa adalah sebuah konstruksi sosial dan politik”.

Menutup pidato sambutannya dalam acara forum Bisnis Diaspora Indonesia, Iwan Sunito mengungkapkan keyakinannya tentang masa depan Indonesia, “Saya yakin, abad ini merupakan Abad- nya Indonesia,” ungkapnya, “Bersama kita bisa menjadi ‘Pemimpin’ dan bukan ‘Pengikut’, ‘Inovator’ dan bukan ‘Imitator’, Memimpin dan bukan mengikuti,” pungkas Iwan. (Bagoes Rinthoadi)

Comments are closed.