Ananda Ramarth­a Luncurkan Novel Melodi Damarabika

img_20161117_114045

ARCOM.CO.ID ,Bandung. Penulis asal Bali kelahiran Bandung Ananda Ramarth­a akhirnya meluncurkan Novel pertamanya yang berjudul “Melodi Damarabika”, Rabu, (16/11/2016), di Spasial Warehouse jalan Gudang Selatan No. 22 Bandung.

“Saya memang hobi menulis sejak umur 13 tahun, dan usia saya saat ini 31 tahun,” kata Ananda yang biasa disapa Nanda di awal paparannya.

“Novel Melodi Damarabika terinspirasi dari kisah cinta saya dengan almarhum suami yang meninggal di usia satu tahun pernikahan karena sakit meningitis,” kata Nanda yang juga seorang penderita Lupus (Autoimun).

Lebih lanjut Nanda mengatakan, dirinya pernah didera kelainan darah akut ITP (Ideophatic Thrombocytopenic Purpura), “Saya kala itu mengalami pendarahan hidung hampir setiap hari, tidak bisa tidur selama tiga bulan, dan sempat lumpuh sementara,” ujarnya.

img_20161117_114103

“Kekuatan tubuh saya hampir mencapai batasnya pada Maret 2015,” kata Nanda, “Saya pasrah dan ikhlas jika harus pergi dari dunia,” ujarnya, “Namun saya merasa bersyukur dan diberkati selamat dari panggilan maut,” ungkapnya.

“Saya membuat novel Melodi Damarabika karena nurani saya terpanggil untuk berbuat sesuatu bagi para penderita Lupus, atau saya memanggilnya teman-teman Lupie,” kata Nanda.

“Setiap 500 buku yang terjual, uangnya akan dialokasikan bagi penyandang Lupus yang tidak mampu dan tidak memungkinkan bekerja,” kata Nanda, “Saya dan penerbit Pru Maharam bekerja sama dengan Life Transformation Center juga membuka jalur konseling bagi para penyandang Lupus yang membutuhkan konsultasi kewirausahaan,” ujarnya.

Di akhir paparannya, Nanda yang juga seorang penyanyi dan pencipta lagu mengungkapkan, N­ovel Melodi Damarabika ditulis selama tiga bulan ­di tahun 2008, “Novel ini sempat direvisi, dan akhirnya diluncurkan di Bandung malam ini,” pungkasnya.

img_20161117_114056

Novel Melodi Damarabika dengan tebal 316 halaman menceritakan seorang musisi jenius dan tampan bernama Tyo Damar, walaupun memiliki karir cemerlang di Asia namun Tyo memutuskan mengasingkan diri.

Di tempat persembunyiannya di Yogyakarta Tyo bertemu sahabatnya yang telah berpisah selama 12 tahun bernama Rara Hanum, dan Tyo teringat dirinya pernah melakukan kesalahan terhadap Rara di masa SMA, dan sejak pertemuan itu Tyo bertekad mendapatkan kembali kepercayaan Rara.

Berawal dari secangkir kopi Damarabika dan setangkai mawar kuning yang diberikan Tyo kepada Rara setiap pagi, akhirnya pintu maaf Rara perlahan mulai terbuka.

Namun persahabatan Tyo dan Rara menghadapi ujian ketika Tyo ketakutan seluruh rahasianya terungkap di hadapan Rara.

Tyo harus mengambil keputusan, apakah tetap tinggal atau pergi seperti dulu, padahal Tyo mulai menyadari hal yang dicarinya selama ini sudah berada tepat di samping pintu rumahnya sendiri. (Bagoes Rinthoadi)

Comments are closed.