Selasar Sunaryo Gelar Pameran Sound Art BNE Volume 6

img_20161120_225400

ARCOM.CO.ID ,Bandung. Selasar Sunaryo Art Space (SSAS) kembali menggagas dan menyelenggarakan pameran reguler dua tahunan Bandung New Emergence (BNE) mulai 18 November hingga 11 Desember 2016.

Hal ini terungkap saat Press Conference Bandung New Emergence (BNE) Volume 6 bertajuk “Listen”, Kamis, (17/11/2016), di Bale Tonggoh Selasar Sunaryo Art Space jalan Bukit Pakar Timur No.100 Bandung.

Turut hadir kurator BNE Volume 6 Bob Edrian Triadi, dan para seniman Sound Art seperti, Abshar Platisza, Abbyzar Raffi, dan Karina Sokowati.

“Karya-karya yang ditampilkan di BNE Volume 6 menekankan elemen bunyi-bunyian,” kata Bob di awal paparannya, “Medium yang dikenal dengan istilah Sound Art dielaborasi oleh seniman-seniman terpilih,” ujarnya.

Lebih lanjut Bob mengatakan, pameran Sound Art BNE Volume 6 di Selasar Sunaryo dibagi menjadi tiga area bunyi, “Ada bunyi esensial, bunyi subversif, dan bunyi keseharian,” ungkap Bob, “Dipastikan bunyi subversif sangat mengganggu dan bernuansa politis,” pungkasnya.

img_20161120_225403

Seniman Abshar Platisza yang memamerkan karyanya yang berjudul, “Deram Presensi Subtil” mengatakan, dirinya menggunakan inokulasi bakteri, film seluloid dan komponen elektronik untuk menghasilkan bunyi-bunyian, “Suara dihasilkan gelatin dan selulosa,” kata Abshar, “Saya mengerjakan karya ini selama dua bulan,” ungkapnya.

Sedangkan seniman Abbyzar Raffi dengan karyanya yang berjudul Recall mengatakan, dirinya menggunakan bahan kayu jati, kayu pinus, kertas sonogram, dan speaker untuk mencoba mengundang burung datang, “Dengan alat ini saya mencoba memberi makan burung-burung yang berdatangan,” ujarnya.

“Rekaman suara burung yang totalnya 3 jam diambil dengan bantuan sarang palsu yang berisi makanan, dan di dalam sarang ada perekam suara,” ungkap Raffi, “Kebanyakan yang datang burung sirip kuncung atau biasa disebut burung kematian,” ujarnya, “Menurut kepercayaan, bila burung ini berbunyi maka akan ada orang yang mati,” kata Raffi.

Lain halnya dengan seniman Karina Sokowati, ia memberi karyanya dengan judul Asphyxiate Recessive, “Saya menggunakan empat tempat sampah alumunium setinggi 50 cm dan didalamnya terdapat speaker,” kata Karina.

Karina mengungkapkan suara yang keluar dari tempat sampah adalah hasil wawancara dirinya dengan anak berumur empat tahun yang sejak kecil sudah merokok dan selalu mengambil rokok milik ayahnya, “Saya mengambil rekaman anak tersebut di sekitar kampus saya di kawasan Jatinangor,” pungkasnya.

img_20161120_225408

Kajian dan perhelatan Sound Art secara global intensitasnya semakin tinggi dalam kurun waktu dua dekade terakhir, hal inilah yang memicu diangkatnya medium ini sebagai titik fokus kekaryaan BNE Volume 6 “Listen”.

Perhelatan BNE Volume 6 diharapkan dapat memetakan sejauh mana eksplorasi elemen dan gagasan bunyi dalam medan seni Bandung.

Kurator Bob Edrian Triadi sendiri terpilih berdasarkan mekanisme Hibah Riset Kuratorial Selasar Sunaryo Art Space (SSAS) 2016.

Hibah yang diberikan SSAS bertujuan memfasilitasi para kurator Indonesia untuk melakukan riset yang menjadi pijakan pemikiran untuk realisasi pameran seni rupa.

Berikut seniman-seniman yang terlibat dan memamerkan karya-karyanya di Perhelatan BNE Volume 6 di Selasar Sunaryo Art Space:

Abbyzar Raffi (Recall), Abshar Platisza (Deram Presensi Subtil), Bandu Darmawan (Memory Collider), Bottlesmoker (Repetition Flux), Etza Meisyara (Dengarlah), Hajar Asyura (Whispering Shout), Karina Sokowati (Asphyxiate Recessive), Mira Rizki Kurnia (Monolog Tiga Belas Ribu Kilometer), Mohamad Haikal Azizi (Mimetic Voices), Opikobra (Dengekeun Aing), Tomy Herseta (Consuming/Consumed), Ramaputratantra (Anti Industrial Industrial Sounds), Riar Rizaldi (On Our Own Heterotopia), dan Benny Apriariska (Five Elemetary School Soundscape). (Bagoes Rinthoadi)