Fapsi Unpad Hadirkan Panglima TNI Bahas Proxy War

img_20161112_081011

ARCOM.CO.ID ,Bandung. Fakultas Psikologi (Fapsi) Universitas Padjadjaran (Unpad) akan menghadirkan Panglima TNI Jend. Gatot Nurmantyo pada Seminar Nasional membahas Proxy War, Rabu pagi, (23/11/2016), di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad jalan Dipati Ukur Bandung.

Hal ini terungkap dalam Press Conference “Seminar Nasional Peningkatan Ketahanan Bangsa untuk Menjaga Keutuhan NKRI”, Kamis, (10/11/2016), di Executive Lounge Gedung Rektorat Unpad jalan Dipati Ukur Bandung, turut hadir Pakar Psikologi Sosial Unpad Prof. Dr. Tb. Zulrizka Iskandar.

“Mengapa Fakultas Psikologi (Fapsi) Unpad menggelar seminar dan menghadirkan pembicara dari kalangan militer, karena pendiri Fapsi Unpad adalah Dinas Psikologi Angkatan Darat (AD),” kata Zulrizka di awal paparannya, “Saat itu Angkatan Darat membutuhkan banyak Psikolog, maka Fapsi didirikan untuk kaderisasi,” ujarnya.

Lebih lanjut Zulrizka mengatakan, Seminar Nasional Peningkatan Ketahanan Bangsa untuk Menjaga Keutuhan NKRI diadakan karena Indonesia makin lama tidak bisa mencapai masyarakat adil dan makmur, “Ilegal Loging dan llegal Fishing terjadi di depan mata kita,” tegasnya, “Ada hal yang keliru, mengapa masyarakat tidak melaporkan hal ini kepada aparat keamanan,” ujarnya.

“Sebagai contoh, rumah kita kemasukan maling, pasti kita berusaha mengusirnya, tetapi ini tidak,” kata Zulrizka, “Tidak ada rasa ini negara dan teritorial kami,” ujarnya.

img_20161112_081016

“Seminar ini diadakan karena banyaknya korupsi dan munculnya tingkah laku yang tidak baik dan merugikan bangsa,” kata Zulrizka, “Ada proses pelemahan kepada bangsa, salah satunya narkoba,” ujarnya.

“Sedangkan konflik dan teror yang terjadi di Indonesia serta LGBT adalah upaya untuk melemahkan sendi sendi kebangsaan,” ungkap Zulrizka

“Hal ini erat kaitannya dengan Proxy War atau upaya pelemahan terhadap bangsa Indonesia,” kata Zulrizka, “Kami mengetahui hal tersebut karena Fakultas Psikologi mempelajari tingkah laku,” ujarnya, “Maka pendidikan keluarga dan sekolah sangat penting,” tegasnya, “Di negara maju, tingkah laku berawal dari keluarga yang mengajarkan disiplin, kejujuran, dan keterbukaan,” kata Zulrizka.

Zulrizka mengatakan sejak 1998 orang-orang alergi terhadap Pancasila, karena beranggapan Pancasila peninggalan Orde Baru, “Kalau kita kaji, nilai Pancasila sangat baik karena mengajarkan agar kita mencintai bangsa,” tegasnya.

Mengenai kepemimpinan di Indonesia, Zulrizka mengungkapkan, kebanyakan pemimpin di Indonesia dimensinya Personal power, “Salah satu contohnya adalah Bung Karno,” ungkapnya, “Bung Karno sangat senang bila disebut Paduka yang mulia (PDM), dan Panglima Besar Revolusi (PBR),” kata Zulrizka.

img_20161112_081019

“Contoh pemimpin Personal power saat ini diantaranya, pemimpin yang tasnya selalu ingin dibawakan oleh ajudan,” kata Zulrizka, “Pemimpin seperti itu ingin dihormat-hormat,” ujarnya.

“Bila Bangsa Indonesia ingin cepat maju, kita harus mendidik pemimpin seperti Bung Hatta, karena ia pemimpin berdimensi Institutional Power” kata Zulrizka, “Hal ini ditunjukkan ketika Bung Hatta mau mengundurkan diri dari jabatan Wakil Presiden RI,” pungkasnya.

Seminar Nasional “Peningkatan Ketahanan Bangsa untuk Menjaga Keutuhan NKRI” yang akan berlangsung Rabu pagi, (23/11/2016), di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad jalan Dipati Ukur Bandung, diadakan dalam rangka kegiatan memperingati Dies Natalis Fakultas Psikologi Unpad ke 55 (Lustrum XI).

Beberapa pembicara yang akan hadir diantaranya, Jend. TNI Gatot Nurmantyo (Key Note Speaker), Letjen TNI Agus Sutomo, Tb. Zulrizka Iskandar, Ida Nurlinda, Anies Baswedan, Juke R. Siregar, Deddy Mulyana, Armida S. Alisjahbana, Zainal Abidin, dan Mayjen Witjaksono.

Seminar Nasional ini akan diikuti oleh mahasiswa, dosen, umum (TNI, partai politik, LSM, dan Ormas) yang peduli mengenai ketahanan bangsa.

Pemilihan tema “Peningkatan Ketahanan Bangsa untuk Menjaga Keutuhan NKRI” dipilih sebagai bentuk keprihatinan terhadap perkembangan bangsa Indonesia saat ini. (Bagoes Rinthoadi)

Comments are closed.