Diah Pitaloka Sesalkan Insiden di Sabuga Bandung

img_20161209_165127

ARCOM.CO.ID ,Bandung. Anggota Komisi VIII DPR RI yang juga Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Diah Pitaloka menyesalkan sekaligus prihatin atas insiden pembubaran Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) oleh sekelompok massa yang mengatas namakan Pembela Ahlu Sunnah (PAS) dan Dewan Dakwah Islamiah Indonesia (DDII) Jawa Barat di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) Bandung pada Selasa malam, (7/12/2016).

“Tindakan menghalang-halangi peribadatan merupakan tindakan kelewat batas dan tidak wajar,” kata Diah, Kamis sore, (8/12/2016), di Angkringan Dago jalan Ir.H.Djuanda Bandung.

“Kalau kita menganggap hal tersebut wajar, maka kitalah yang kelewatan,” ujar Diah di hadapan puluhan wartawan baik cetak, elektronik, maupun Online.

“Tindakan menghalang-halangi peribadatan melanggar aturan konstitusi, padahal negara menjamin setiap warga negara untuk melakukan peribadatan sesuai keyakinan agamanya masing-masing,” tegas Diah.

Lebih lanjut Diah mengatakan, setiap warga negara Indonesia berhak menjalankan aktifitas keagamaannya, “Melarang menjalankan ibadah sangat tidak mendasar, dan sangat tidak sesuai dengan konstitusi,” kata Diah.

img_20161209_165131

“Saya merasa heran dengan kejadian ini, padahal selama ini masyarakat Jawa Barat dikenal ramah tamah dan sopan santun,” ujar Diah.

“Saya berharap aparat kepolisian mengusut tuntas pihak-pihak yang intimidatif, pihak kepolisian harus bergerak cepat untuk memproses perkara tersebut,” tegasnya, “Harus ada sanksi yang tegas dari pihak kepolisian, agar yang kuat dan berkuasa, tidak menekan yang lemah,” ujarnya.

Diah mengatakan kejadian ini mencoreng toleransi beragama di Indonesia, “Saya harap situasi ini tidak menjadi panjang dan harus diselesaikan dengan semua pihak termasuk tokoh-tokoh Jawa Barat,” tegasnya.

“Negara harus melindungi seluruh umat beragama dan harus berada di tengah-tengah masyarakat,” kata Diah, “Bila ada masyarakat dari golongan minoritas tertindas, negara harus hadir,” pungkasnya. (Bagoes Rinthoadi)