Indo Barometer: Pilkada Jawa Barat Masih Dinamis

20170323_130848

ARCOM.CO.ID ,Bandung. Indo Barometer telah melaksanakan survei permasalahan serta peluang calon Gubernur Jawa Barat sejak, (27/2-7/3/2017), hasilnya Pilkada di Jawa Barat masih dinamis mengingat pelaksanaan Pilkada Jabar akan berlangsung Juni 2018.

Hal ini terungkap saat Press Conference Indo Barometer Survei Jawa Barat bertajuk, “Permasalahan Jawa Barat dan Peluang Cagub 2018, Kamis, (23/3/2017), di Hotel Bidakara Grand Savoy Homann jalan Asia Afrika Bandung.

Turut hadir Direktur Eksekutif Indo Barometer M. Qodari, Anggota DPR Fraksi Golkar Agun Gunandjar Sudarsa, Ketua DPP PDIP Jabar Andreas Hugo Pareira, Sekjen PKB Jabar Abdul Kadir Karding, Sekjen PPP Jabar Dony Ahmad Munir, Pengamat Politik Asep Warlan Yusuf, dan Politikus Nasional Tjetje Hidayat Padmadinata.

“Indo Barometer melaksanakan survei di 27 kabupaten/kota di Jawa Barat dengan jumlah responden 800 orang,” kata Direktur Eksekutif Indo Barometer M. Qodari di awal paparannya, “Margin error sebesar 3,46 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen,” ujarnya.

Lebih lanjut Qodari mengatakan, lima permasalahan terpenting di tingkat provinsi adalah sulitnya lapangan pekerjaan (18,5%), mahalnya kebutuhan pokok (12,9%), sulitnya kondisi ekonomi rakyat (11,6%), kondisi jalan buruk dan belum diaspal (10,4%), dan sering terjadi bencana alam (6,5%).

“Sedangkan lima prioritas pembenahan untuk Gubernur periode 2018 hingga 2023 adalah menciptakan lapangan kerja yang luas (19%), pembangunan infrastruktur (14,4%), pendidikan murah/gratis (6,8%), mengentaskan kemiskinan (6%), serta mengendalikan harga kebutuhan pokok (5,4%),” kata Qodari.

Mengenai pilihan Calon Gubernur untuk 14 nama, Qodari mengungkapkan, Ridwan Kamil diurutan pertama dengan 22%, “Disusul Deddy Mizwar (14,1%), Dede Yusuf (11,8%), Dedi Mulyadi (7.3%), Rieke Diah Pitaloka (2,4%), dan masyarakat yang tidak menjawab 34,6%,” kata Qodari.

20170323_130921

“Sedangkan lima Calon Gubernur dengan tingkat pengenalan tertinggi adalah Deddy Mizwar diurutan pertama dengan 97,8%, disusul Desy Ratnasari (92,1%), Dede Yusuf (91,3%), dan Rieke Diah Pitaloka (72,5%),” kata Qodari, “Ridwan Kamil ada diurutan terbawah dengan 65,4%,” ujarnya.

“Untuk 5 Calon Gubernur dengan tingkat kesukaan tertinggi, Ridwan Kamil ada diurutan pertama dengan 93,9%, disusul Celicca Nurrachadiana (90,6%), Dede Yusuf (85,2%), Netty Prasetiyani Heryawan (83,8%), dan Rieke Diah Pitaloka (83,1%),” ungkap Qodari.

Lebih lanjut Qodari mengatakan, lima alasan terbanyak dalam memilih Gubernur adalah, dekat dengan rakyat, kinerjanya bagus, pintar/intelektual, orangnya tegas, dan berwibawa.

“Di Jawa Barat, partai politik dengan pilihan tertinggi jika Pileg dilaksanakan saat ini adalah PDIP dengan 18,3% suara, disusul Golkar (14,2%), Gerindra (7,2%), dan PKS (4,9%),” tegas Qodari.

“Berdasarkan data-data, Calon Gubernur dengan peluang menang terbesar adalah Ridwan Kamil, karena dengan tingkat pengenalan 65% sudah menjadi Calon Gubernur dengan elektabilitas tertinggi,” kata Qodari, “Peluang Ridwan Kamil makin besar mengingat kepuasan kepada Wakil Gubernur incumbent Deddy Mizwar hanya 42%,” ujarnya, “Biasanya jika kepuasan incumbent di bawah 50%, maka kecenderungannya akan kalah,” pungkas Qodari.

Pengamat Politik Asep Warlan Yusuf mengatakan, Pilgub Jabar merupakan peristiwa budaya dan akademik.

“Calon Gubernur Jabar track recordnya harus baik, Cageur, Bener, Pinter, Nyakola dan Nyantri,” kata Asep Warlan, Cagub Jabar harus punya pengaruh, wibawa, dan punya ketokohan,” ujarnya, “Jadi tidak ujug-ujug jadi Gubernur karena hanya punya uang, punya massa dan dekat dengan tokoh politik,” tegasnya.

20170323_130748

Asep mengatakan, ada beberapa pesan dari masyarakat Jabar untuk Pilgub Jabar, “Jangan Top Down, semata mata pusat lebih tahu apa yang Jabar mau, dan calon Gubernur Jabar jangan mutlak karena penentuan dari Ketua Umum partai politik,” tegasnya, “Mari bersinergi, Pusat Jangan terlalu mendikte dan memaksa hanya dengan survei, rapat umum, dan keputusan Ketua Umum,” ujar Asep Warlan.

“Jangan menganggap masyarakat hanya penonton, jangan ada money politik, jangan ada konflik, dan masyarakat Jabar jangan dipecah belah karena pilkada,” kata Asep Warlan.

“Coba munculkan dan perhitungkan tokoh-tokoh lain seperti Aa Gym, mantan Rektor Unpad Ganjar Kurnia, dan Ketua Kadin Jabar Agung Suryamal,” pungkas Asep Warlan.

Politikus Nasional Tjetje Hidayat Padmadinata, mengatakan, saat ini masih banyak orang-orang berkualitas yang belum bicara, “Namun saya tidak menyalahkan lembaga survei manapun,” kata Tjetje.

Lebih lanjut Tjetje mengatakan, nama-nama Calon Gubernur Jabar saat ini hanyalah produk pencitraan, “Sekarang banyak pemburu-pemburu jabatan, dan Pilgub adalah lakonnya,” ujarnya.

“Sekarang banyak yang cari muka kepada orang pusat, cari kursi, cari rejeki, dan cari selamat masing-masing,” ungkap Tjetje, “Coba kita lihat 6 bulan yang akan datang, karena peta politik akan berubah,” pungkas Tjetje. (Bagoes Rinthoadi)

Comments are closed.