K2P Gelar Seminar Kesetaraan Perempuan di Kota Bandung

20170408_121258

ARCOM.CO.ID ,Bandung. Komunitas Kesetaraan Perempuan (K2P) menggelar Seminar bertajuk, “Kesetaraan Peran Perempuan di Era Milenia”, Sabtu, (8/4/2017), di Hotel Grand Tjokro jalan Cihampelas Bandung.

Turut hadir Ketua Pelaksana Sonny Mariana, Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan KB Provinsi Jawa Barat Dewi Sartika, dan Psikolog Chaerini.

“Salah satu terjadinya kekerasan dalam rumah tangga adalah kurang komunikasi dan faktor ekonomi yang kurang mapan,” kata Ketua Pelaksana yang juga Ketua LSM Bunga Bangsa Sonny Mariana saat sesi Press Conference, “Ekonomi yang labil akan menimbulkan perselisihan dalam rumah tangga,” ujarnya.

Lebih lanjut Sonny mengatakan, kekerasan terhadap perempuan sering terjadi di Indonesia, “Padahal Indonesia telah menetapkan berbagai undang-undang untuk melindungi perempuan dari kekerasan fisik,” ujarnya.

“Selain itu kasus kekerasan rumah tangga, dan penjualan anak banyak terjadi di Jawa Barat,” ungkap Sonny.

IMG-20170408-WA0026

“Untuk itu kami dari Komunitas Kesetaraan Perempuan (K2P) menggelar Seminar bertajuk Kesetaraan Peran Perempuan di Era Milenia untuk menyentuh masyarakat bahwa perempuan bisa berkarya namun tidak keluar dari kodratnya, dan bisa memberikan sesuatu untuk keluarga, suami, dan anak-anaknya,” kata Sonny.

“Seminar ini digelar untuk memperkokoh posisi perempuan di berbagai bidang,” tegas Sonny, “Isu yang diangkat dalam seminar ini adalah peran perempuan dalam bela negara, perekonomian, serta pendidikan keluarga,” ujarnya.

Di akhir paparannya Sonny mengatakan, Komite Kesetaraan Perempuan (K2P) akan mengadakan Roadshow ke berbagai tempat di Jawa Barat, “K2P akan terus berkoordinasi dengan Kemenkumham dalam kegiatan bela negara untuk perempuan,” pungkas Sonny.

Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan KB Provinsi Jawa Barat Dewi Sartika mengatakan, penyebab rendahnya peran perempuan di Jabar karena tingkat pendidikan yang rendah, “Rata-rata lama sekolah bagi perempuan di Jabar 7,4 tahun, sedangkan rata-rata lama belajar laki-laki 8,4 tahun,” ungkap Dewi.

“Jika saja perempuan pendidikannya tinggi, pasti mereka ingin memiliki tingkat perekonomian yang tinggi dengan berusaha,” kata Dewi, “Apabila ekonomi perempuan mantap, mereka akan peduli kesehatan, dan kesejahteraan dirinya dan keluarganya,” ujarnya.

20170408_125740-1

“Pemerintah Provinsi Jawa Barat hingga saat ini terus memberdayakan perempuan dengan pembinaan UMKM dan berbagai pelatihan,” tegas Dewi.

Dewi mengungkapkan hal krusial yang masih dihadapi perempuan di Jabar adalah tingkat pernikahan anak yang tinggi, “Kasus yang kami temukan adalah perempuan menikah saat masih anak, memiliki anak dalam usia anak-anak, dan bercerai pula di usia anak,” ungkapnya, “Akhirnya yang terjadi anak-anaknya cenderung kurang terurus,” ujar Dewi.

“Namun apabila perempuan berekonomi rendah kemudian bercerai, akhirnya ia harus bekerja dengan penghasilan rendah,” ungkap Dewi, “Yang terjadi anak-anaknya mengalami gizi buruk dan pendidikan anak tidak terurus,” ujarnya.

Lebih lanjut Dewi mengatakan, kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak terus meningkat setiap tahun, terutama kekerasan seksual terhadap anak, “Sejak Januari hingga April 2017, terdapat 200 anak dan perempuan korban kekerasan seksual di Jabar,” tegas Dewi.

“Yang menyebabkan hal ini karena kemiskinan dan pendidikan yang rendah,” pungkas Dewi.

Seminar Kesetaraan Peran Perempuan di Era Milenia diikuti 500 peserta perempuan dari 27 Kabupaten dan Kota se-Jawa Barat. (Bagoes Rinthoadi)