Asep Warlan: Ridwan Kamil Buat Demokrasi Tidak Sehat

20170417_132922

ARCOM.CO.ID ,Bandung. Pengamat Ilmu Politik dan Pemerintahan Universitas Katolik Parahyangan Asep Warlan Yusuf menegaskan, keberadaan Ridwan Kamil (Emil) di kota Bandung membuat demokrasi tidak sehat, karena Emil tidak mempunyai rival yang kuat bila ikut kembali di Pilkada Kota Bandung 2018.

Hal ini ditegaskan Asep Warlan saat Press Conference Indonesia Strategic Institute (Instrat) bertajuk, “Persepsi Warga Kota Bandung terkait Masalah Kota Bandung dan Suksesi Kepemimpinan Kota Bandung tahun 2018, Senin, (17/4/2017), di Hotel Mitra jalan WR. Supratman Bandung.

Turut hadir Direktur Eksekutif Instrat Jalu Pradhono Priambodo, Social Analyst Instrat Adi Nugroho, dan Wakil Ketua Dewan Penasehat Partai Gerindra Jawa Barat Radhar Tri Baskoro.

“Ukuran Walikota Bandung mendatang minimal masih seperti Ridwan Kamil,” kata Pengamat Ilmu Politik dan Pemerintahan Universitas Katolik Parahyangan Asep Warlan Yusuf di awal paparannya, “Namun Ridwan Kamil bukan segala-galanya untuk Kota Bandung maupun Jawa Barat, karena masih banyak tokoh tokoh lain,” tegasnya.

Lebih lanjut Asep Warlan mengatakan, jangan sampai segala sesuatunya berpatokan kepada Ridwan Kamil, “Walikota Bandung Oded M. Danial dan Sekda Kota Bandung Yossi Irianto bisa menjadi contoh untuk menggantikan Ridwan Kamil,” ujarnya, “Namun Oded dan Yossi tetap saja kalah bila dibanding-bandingkan dengan Ridwan Kamil,” kata Asep Warlan.

Asep Warlan menegaskan survei yang dilakukan Instrat menunjukkan seolah-olah Ridwan Kamil adalah perangkap, “Tapi kita jangan provokatif dengan mencari-cari kesalahan dan keburukan Ridwan Kamil,” tegasnya.

“Saat ini yang sedang terjadi adalah Emil Syndrom dan Emil Effect,” kata Asep Warlan, “Emil Effect membuat tokoh-tokoh lain tidak bersinar, padahal tokoh-tokoh lain selain Ridwan Kamil harus diangkat,” ujarnya.

“Sebaiknya publik bisa mengeksplor tokoh-tokoh lain ketika nama Ridwan Kamil tidak dimunculkan,” kata Asep Warlan, “Janganlah Ridwan Kamil menutupi tokoh yang lain, padahal masih ada kebaikan dari calon-calon lain,” tegasnya.

Asep Warlan menegaskan Kota Bandung berhasil bukan karena hasil kerja Ridwan Kamil seorang, “Banyak komponen-komponen lain yang ikut dalam pembangunan kota Bandung,” tegas Asep.

Di akhir paparannya Asep Warlan menyoroti kinerja Partai, “Partai Politik harus bisa menciptakan kader yang kompeten dan populer, sangat aneh apabila Partai tidak punya kader yang populer,” pungkasnya.

Wakil Ketua Dewan Penasehat Partai Gerindra Jawa Barat Radhar Tri Baskoro mengatakan, masyarakat kota Bandung dan Jawa Barat jangan fokus Ridwan Kamil melulu, “Karena Jawa Barat memiliki penduduk lebih dari 50 juta orang, bahkan penduduk Jawa Barat setara dengan Thailand, dua kali lipat penduduk Malaysia, lebih banyak dari Indochina, dan sama dengan Prancis, maka Jawa Barat tidak hanya Ridwan Kamil,” tegas Radhar.

“Pasti ada tokoh yang lain, tapi mereka masih tertutup dan masih dalam bayang-bayang Ridwan Kamil,” ungkap Radhar, “Kita harus berani memberikan kesempatan terhadap wajah-wajah baru,” tegasnya.

Mengenai peran Partai di Pilkada, Radhar mengungkapkan, proses pemilihan Calon Gubernur dan Walikota oleh Partai masih bisik-bisik, “Partai Politik seharusnya terbuka, itulah sebabnya Partai terkenal paling tidak demokratis, karena Partai belum pernah direformasi dan belum pernah ada kaderisasi,” tegasnya, “Harus kaderisasi masif di tubuh Partai, dan hal ini harus jadi agenda nasional,” kata Radhar.

Mengenai sistem politik di Indonesia Radhar mengungkapkan, saat ini sistem politik di Indonesia sedang diarahkan untuk lebih sederhana, “Undang-Undang Politik dan Pemilu menjadikan Partai Politik melakukan penyederhanaan,” ungkap Radhar, “Hal ini sudah mulai terjadi di Jakarta saat Persaingan Pilgub DKI, dimana muncul para tokoh nasional seperti Megawati, Prabowo, dan SBY,” ujarnya.

“Nantinya semua Pilgub di Indonesia akan di desain seperti Pilgub di Jakarta, dan koalisi permanen akan diterjemahkan di tingkat kab/ kota,” kata Radhar, “Demokrasi berkaki tiga saat ini sedang berproses dan berjalan,” ujarnya.

Di akhir paparannya, Radhar mengkritisi Survei yang dilakukan Instrat, “Calon-calon Walikota Bandung yang muncul pada survei Instrat ternyata masih keluarga Partai Keadilan Sejahtera (PKS),” pungkas Radhar.

Social Analyst Instrat Adi Nugroho mengatakan, Instrat merupakan sebuah lembaga kajian pada isu-isu strategis politik dan sosial humaniora, “Instrat telah melakukan survei untuk memotret persepsi warga terkait masalah dan suksesi kepemimpinan jelang Pilkada kota Bandung 2018,” kata Adi.

“Pengumpulan data yang dilakukan Instrat berbasis wawancara terstruktur face to face ke responden dengan usia minimal responden 17 tahun atau sudah menikah,” ungkap Adi, “Rentang pengambilan data 21 hingga 24 Maret 2017, menggunakan Multistage Random Sampling meliputi 151 Kelurahan dan 30 Kecamatan di Kota Bandung,” kata Adi, “Jumlah responden sebanyak 500 orang dengan Margin of Error lebih kurang 4 persen,” ujarnya.

“Hasilnya kepuasan publik tertinggi pada pembangunan bidang infrastruktur sebesar 62 persen, sedangkan terendah pada isu kemacetan dengan tingkat kepuasan 30 persen,” ungkap Adi.

“Publik masih melontarkan kritik terhadap Walikota Ridwan Kamil terkait isu kemacetan, banjir, dan sampah,” kata Adi, “Namun publik mengapresiasi prestasi Ridwan Kamil yaitu, taman, pembangunan infrastruktur, trotoar, jalan bagus, tata kota, alun-alun, Fly Over Antapani, dan kebersihan,” ujar Adi.

Di akhir paparannya, Adi mengatakan berdasarkan survei Instrat, tiga urutan teratas popularitas setelah Ridwan Kamil adalah Oded M.Danial (83,2%), Atalia Praratya (72%), M.Farhan (55,8%).

Sedangkan tokoh baru yang dimunculkan survei Instrat adalah, Fiki Satari (25%), Arfi Rafnialdi (26,6%), dan Yossi Irianto (28,6%).

“Dengan memperhatikan masih ada waktu lebih dari satu tahun menuju Pilkada Kota Bandung 2018, masih sangat memungkinkan bagi bakal calon berkompetisi menaikkan tingkat popularitas dan potensi elektabilitas masing-masing,” pungkas Adi. (Bagoes Rinthoadi)

Comments are closed.