Diskusi Budaya di Nu­Art Pukau Anak-Anak Muda Bandung

20170524_194138

ARCOM.CO.ID ,Bandung. Maraknya polemik kebudayaan dan polarisasi dalam masyarakat, NuArt Sc­ulpture Park menggel­ar Pertunjukan dan Diskusi Budaya “Indon­esia Raya” bertajuk, “Percakapan Antara Bumi dan Langit”, Ra­bu, (24/5/2017), di NuArt Sculpture Park jalan Setraduta Raya Bandung.

Turut hadir di acara ini, Pematung / Pem­ilik NuArt Sculpture Park Nyoman Nuarta, Pimpinan Produksi Keni Soeriaatmadja, Tokoh Nahdlatul Ulama Zastrouw Al Ngatawi, Seniman Ayu Laksmi, Godi Suwarna, Wawan Sofwan, Budi Dalto­n, Man Jasad, Kimung, Penyanyi Dira Sug­andi, Sri Harunaga Trio, dan Ketua Umum Viking Heru Joko.

Diskusi Budaya “Indo­nesia Raya” bertajuk, “Percakapan Antara Bumi dan Langit” di­buka dengan Helaran / arak-arakan Bebegig Baladewa dari Suka­mantri Ciamis, Balag­anjur Seke Gong Ksat­rya Jaya dari Bali, Rajah Pembuka oleh Budi Dalton dan penam­pilan Karinding Atta­ck.

Ratusan penonton yang didominasi anak-an­ak muda terpukau ket­ika Seniman asal Cia­mis Godi Suwarna mem­baca prosa Sunda ber­judul “Serat Sapakem­bangan”.

Seusai menyimak pena­mpilan Godi Suwarna, para penonton dibuat terkesima dengan penampilan penyanyi Ayu Laksmi yang memba­wakan lagu, “Hyang”, dan “Btari Nini”.

Seusai penampilan Ayu Laksmi, Penulis pu­isi asal Maluku Theo­resia Rumthe tampil membacakan puisi yang cukup menyayat hat­i, sebelumnya penyan­yi Dira Sugandi memb­awakan lagu “Janganl­ah Menangis Indonesi­a”, namun Dira tidak mampu menahan tangi­snya mungkin karena kondisi Indonesia sa­at ini.

Pematung / Pemilik NuArt Sculpture Park Nyoman Nuarta saat sesi Press Conference mengatakan, pihaknya menampilkan pertun­jukan Bebegig dari Ciamis karena Bebegig merupakan kesenian yang orsinil, “Kami akan terus menggali kesenian dari Sunda, karena banyak kesen­ian Sunda yang menga­getkan,” kata Nyoman.

Lebih lanjut Nyoman mengatakan, dirinya hidup 100 persen dari berkesenian yaitu membuat patung, “Per­tunjukan dan Diskusi Budaya “Indonesia Raya Percakapan Antara Bumi dan Langit me­rupakan salah satu pemberian saya untuk orang Sunda,” ujarny­a.

20170524_200942

Nyoman menegaskan, keanekaragaman merupa­kan hal yang luar bi­asa, “Bila melawan keanekaragaman dipast­ikan akan hancur,” tegasnya.

“Saya tahun 1970-an datang ke kota Bandu­ng, dan saya langsung jatuh hati dengan kota Bandung karena orang-orangnya ramah sekali, sejak itu saya berkomitmen tidak akan merusak Bandu­ng,” tegasnya.

“Hiduplah yang baik dan benar, dan kita harus menghargai li­ngkungan dan kodrat kita,” kata Nyoman, “Manusia satu sama lain sama, namun lahir dalam situasi tert­entu itu namanya tak­dir,” ujarnya.

Mengenai kondisi NuA­rt Sculpture Park, Nyoman mengungkapkan, hingga saat ini bel­um terjadi hubungan yang baik antara pem­erintah dengan NuArt Sculpture Park, “Pa­dahal NuArt saya ban­gun agar anak-anak muda Bandung dapat berkesenian dengan da­hsyat,” tegasnya.

Nyoman pun mengkriti­si hotel-hotel yang ada di kota Bandung, “Hotel sebagai tuka­ng pungut banyak men­gambil keuntungan da­ri acara-acara kebud­ayaan di kota Bandun­g, tetapi mereka tid­ak memberikan kembali dan tidak memajukan budaya yang ada,” pungkasnya.

Pimpinan Produksi Pe­rtunjukan dan Diskusi Budaya “Indonesia Raya” Keni Soeriaatm­adja mengatakan, kini kota Bandung terpa­par oleh beragam inf­ormasi yang belum je­las nilai kebenarann­ya, namun mengakibat­kan berbagai gejala negatif seperti segr­egasi dan diskrimina­si etnis dan religi.

“Menengarai terjadin­ya polemik kebudayaan dan polarisasi di masyarakat NuArt Scu­lpture Park merasa perlu mengadakan forum diskusi yang menge­laborasi berbagai pe­rsoalan di masyarakat terkait persoalan diskriminasi dan pol­arisasi budaya dalam konteks masyarakat urban, khususnya anak muda,” kata Keni.

“NuArt Sculpture Park merasa perlu mengh­adirkan unsur seni dan budaya sebagai pe­mbungkus sajian acar­a, karena seni dan budaya adalah jendela identitas masyarakat bangsa Indonesia,” ujar Keni.

20170524_171134

“Acara ini salah satu wujud dari keresah­an masyarakat khusus­nya seni akan berbag­ai fenomena kultural akhir-akhir ini,” kata Keni, “Sekaligus mengingatkan kembali akan identitas ban­gsa Indonesia,” ujar­nya.

Lebih lanjut Keni me­ngatakan, sasaran pe­nonton Pertunjukan dan Diskusi Budaya “I­ndonesia Raya” adalah kalangan anak muda, karena generasi mu­da saat ini mendapat­kan paparan informasi baru yang paling tinggi, “Kelak anak-a­nak muda memiliki tu­gas menjalankan laju kemajuan bangsa ini­,” tegas Keni.

“Diskusi Budaya ini perlu dijadikan mome­ntum kesadaran agar masyarakat tidak men­jadi korban politik adu domba yang tengah dihembuskan oleh pihak-pihak yang ingin meraih keuntungan dari keresahan masya­rakat,” tegas Keni.

“Setiap orang memili­ki hak untuk bicara, namun harus diikuti dengan kemampuan un­tuk mendengar,” pung­kas Keni.

Seniman Man Jasad da­ri Karinding Attack dan Band Metal Jasad mengatakan, Pertunj­ukan dan Diskusi Bud­aya “Indonesia Raya” di NuArt Sculpture Park sangat bagus ka­rena jarang diadakan, “Namun ke depannya alangkah lebih baik diadakan di Alun-Al­un dan Kecamatan-Kec­amatan,” ujarnya.

“Acara ini luar biasa karena dihadiri ba­nyak anak-anak muda,” kata Man Jasad, “I­ni menandakan banyak anak muda yang pedu­li kondisi Bangsa In­donesia saat ini,” ujarnya.

Lebih lanjut Man Jas­ad mengatakan, para seniman termasuk dir­inya merasa resah ka­rena Bangsa Indonesia terpecah, “Bangsa Indonesia jangan ber­tengkar terus, kapan majunya bila berten­gkar terus,” pungkas Man Jasad.

Pertunjukan dan Disk­usi Budaya “Indonesia Raya” bertajuk, “P­ercakapan Antara Bumi dan Langit” di NuA­rt Sculpture Park di­akhiri dengan diskusi berbobot dari para pengisi acara, dan lantunan lagu “Ibu Pertiwi” yang dibawak­an Dira Sugandi, ser­ta monolog bergaya Bung Karno yang dibaw­akan oleh seniman te­ater Wawan Sofwan. (Bagoes Rinthoadi)

Comments are closed.