Deklarasi Forkom Imunisasi Jabar Wujudkan Generasi Emas

Forkom

ARCOM.CO.ID ,Bandung. Koesmayadi Tatang Padmadinata selaku Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Daerah  Provinsi  Jawa Barat (Asda 1), secara resmi membuka acara “Deklarasi, Launching Logo dan Seminar Forum Komunikasi Imunisasi Tingkat Provinsi Jawa Barat 2017”, Senin, (19/6/2017), di Hotel Harris jalan  Ciumbuleuit Bandung.

Turut hadir, Perwakilan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia,  Ketua MUI Provinsi Jawa Barat,  Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, Pengurus Forum Komunikasi Imunisasi Jawa Barat, Tim PKK, Muslimat NU, Aisyah, Perdhaki, CSO / Organisasi masyarakat, Perwakilan 31 Kabupaten /Kota di Wilayah Provinsi Jawa Barat, dan perwakilan Fakultas Ilmu Komunikasi dari Universitas.

Ketua Forkom Imunisasi Jawa Barat Ella M. Girikomala dalam sambutannya mengatakan, berawal dari perkembangan, hasil imunisasi di Jawa Barat sudah mencakup 93%, akan tetapi ditingkat bawah masih belum merata, sehingga dibutuhkan peningkatan.

“Dengan terbentuknya Forkom Imunisasi Jawa Barat, maka sekarang terdapat sebuah  wadah untuk berkomunikasi dan memberikan informasi kepada masyarakat tentang pentingnya arti imunisasi, dan pentingnya memberikan imunisasi kepada putra-putrinya dengan tujuan membantu pemerintah dan seluruh masyarakat agar bisa tercapai cakupan imunisasi di Jabar secara khusus, dengan cara menjalin komunikasi, mengembangkan informasi, mengembangkan program imunisasi, menyebarluaskan informasi melalui media dan memperkuat komunikasi,” kata Ella.

Lebih lanjut Ella mengungkapkan, Forkom Imunisasi Jawa Barat sudah terbentuk dua tahun yang lalu, namun mengalami revitalisasi oleh Kemenkes pada  5 Juni 2017 hingga sekarang ini, “Tujuan dideklarasikan Forkom Imunisasi Jawa Barat, diantaranya ingin membantu dan mengupayakan sosialisasi pentingnya memberikan imunisasi kepada anak demi tercapainya generasi emas Jawa Barat,” tegas Ella.

“Pada masyarakat, pemahaman tentang imunisasi ada yang berbeda, bahkan menolak, karena isu negatif dan belum paham,” ungkap Ella, “Selain itu masyarakat belum sepaham tetang pentingnya arti dan manfaat imunisasi,” ujarnya, “Dengan adanya kesepahaman pada masyarakan, merupakan tantangan bagi Forkom untuk mengupayakannya,” tegasnya.

Pada sesi seminar, Narasumber dari Kementerian Kesehatan yaitu Kepala Seksi Advokasi Direktorat Kesehatan dr. Muhani,Skm,M.Kes mengatakan, Pemerintah  wajib melindungi anak termasuk didalamnya kesehatan, “Salah satu diantaranya dengan Imunisasi berdasarkan  UU 23/Tahun 2002, dan cara pemberian imunisasi harus diawasi oleh Pemerintah dan masyarakat,” tegas Muhani, “Maka imunisasi merupakan tanggung jawab bersama,” tegasnya, “Jawa Barat sendiri merupakan pilot project diantara provinsi lain, yaitu Sulawesi Selatan dan Sumatera Barat,” ungkap Muhani.

Narasumber lainnya yaitu Rachmat Syafei selaku Ketua Majelis Ulama Indonesia Jawa Barat memberikan penjelasan tentang imunisasi menurut pandangan Agama Islam berdasarkan Undang-Undang RI Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal.

Hal tersebut untuk menepis keraguaan tentang imunisasi , sehingga MUI mengeluarkan Fatwa bahwa Imunisasi itu ”Halal”, dan hukumya wajib dengan ikhtiar bertujuan menjaga kesehatan.

Sedangkan Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jawa Barat Rodman Tarigan mengatakan, kewajiban negara adalah melindungi anak, salah satunya wajib memberikan imunisasi untuk anak, dengan tujuan Eradikasi Penyakit (Final Goal) menjadi bebas penyakit.

Salah satunya penyakit yang dapat terjadi pada anak adalah difteri yang bisa menyebabkan kematian, namun gagal pernafasan dapat dicegah dengan memberikan imunisasi lengkap.

“Anak yang diimunisasi disertai gizi dan pola asuh yang baik, maka anak akan tumbuh dan berkembang menjadi individu yang sehat,” kata Rodman, “ Untuk itu dibutuhkan cakupan yang lebih luas coverage-nya, sehingga Forkom Imunisasi Jawa Barat dapat melaksanakan  tugasnya sesuai tujuan, yaitu menciptakan generasi emas dapat tercapai, serta sepenuhnya didukung oleh IDAI,” ujarnya.

Kadis Kesehatan Jawa Barat Dodo Suhendar mengatakan, untuk daerah yang terpencil seperti Jawa Barat bagian Selatan, akan di prioritaskan dalam pemberian imunisasi, “Bahkan bila diperlukan Dinas Kesehatan Jawa Barat akan jemput bola ke lokasi, walaupun infrastruktur daerah terpencil tidak mendukung bahkan sulit dijangkau, “Pemberian imunisasi tetap akan kita salurkan, dan cakupan imunisasi akan sampai kepada anak-anak Pedesaan,” tegasnya, “Maka oleh karenanya, dibutuhkan partisipasi dan peran serta seluruh elemen yang ada dimasyarakat untuk mensukseskannya,” pungkas Dodo.

Imunisasi merupakan investasi yang hemat, dan dapat menghindarkan dari penyakit, karena imunisasi bersifat preventif  bukan kuratif, selain itu imunisasi dapat mendukung tumbuh kembang anak, dan yang terpenting, Imunisasi memberikan hasil yang besar dengan investasi yang kecil. (RLS / BRH)

Comments are closed.