Indo Barometer: Di Jabar Lapangan Pekerjaan Sulit dan Kebutuhan Pokok Mahal

20170606_123035

ARCOM.CO.ID ,Bandung. Direktur Eksekutif Indo Barometer M. Qodari menegaskan, pihaknya setelah melakukan survei mendapatkan temuan, saat ini di Jawa Barat masyarakat masih sulit mencari pekerjaan, harga kebutuhan pokok mahal, kondisi jalan buruk, banyak warga miskin, dan jalanan masih macet.

Hal ini ditegaskan Qodari saat Press Conference Ringkasan Survei Jawa Barat Indo Barometer bertajuk, “Permasalahan Jawa Barat dan Peluang Calon Gubernur 2018 Pasca Pilkada DKI Jakarta”, Selasa, (6/6/2017), di Hotel Bidakara Grand Savoy Homann jalan Asia Afrika Bandung.

Turut hadir, Sekjen DPP Partai Golkar Idrus Marham, Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra Ferry Juliantono, Pengamat Politik Tjetje Padmadinata, Anggota Komisi V DPR Fraksi PPP M. Arwani, dan Anggota DPR RI Fraksi PKB Maman Imanulhaq.

“Indo Barometer melaksanakan survei di 27 Kab/Kota pada 17 hingga 23 Mei 2017,” kata Direktur Eksekutif Indo Barometer M. Qodari di awal paparannya, “Indo Barometer menggunakan responden sebanyak 800 orang, dengan margin of error lebih kurang 3.46 persen, dan tingkat kepercayaan 95 persen,” ujarnya.

“Tujuan survei adalah untuk melihat dinamika permasalahan di Jawa Barat, pilihan calon Gubernur, pilihan Partai Politik, Dinamika calon Presiden, dan isu yang berkembang pasca Pilkada DKI,” ungkap Qodari.

Lebih lanjut Qodari mengatakan, lima permasalahan penting di tingkat Provinsi Jawa Barat menurut publik (pertanyaan terbuka) adalah, sulitnya lapangan pekerjaan (23,5%), mahalnya harga kebutuhan pokok (17,9%), kondisi jalan yang buruk (12,9%), banyaknya warga miskin (11,3%), dan kemacetan (5,3%), “Kondisi ini mirip survei Februari 2017, di mana sulitnya lapangan pekerjaan 18,5 persen atau naik 5 persen, dan mahalnya harga sembako 12,9 persen atau naik 5 persen,” ujarnya.

Mengenai pilihan calon Gubernur Jabar, Qodari mengungkapkan, untuk 16 nama calon Gubernur, Ridwan Kamil di posisi teratas dengan 28,6%, Deddy Mizwar 18,8%, dan Dedi Mulyadi 11,5%, “Bila dibandingkan survei Februari 2017, suara Ridwan Kamil naik 6,6 persen,” ungkap Qodari.

20170606_132754

“Lima alasan terbanyak memilih Gubernur Jawa Barat adalah berwibawa 13 persen, dekat dengan rakyat 12,3 persen, intelektual 11,5 persen, kinerja bagus 9,4 persen, dan berpengalaman 8,5 persen,” pungkas Qodari.

Sekjen DPP Partai Golkar Idrus Marham mengatakan, Pemilihan Gubernur Jawa Barat paling sexy, karena dekat dengan DKI Jakarta, “Siapapun yang memenangkan Pilgub Jabar akan diproyeksikan ke tingkat nasional,” tegas Idrus.

Ketua Umum DPP Partai Gerindra Ferry Juliantono menegaskan, Pilgub Jabar ibarat All Prabowo Final, “Di Pilgub Jabar ada nama Deddy Mizwar, Ridwan Kamil, dan Dedi Mulyadi,” ujarnya.

Lebih lanjut Ferry menegaskan Deddy Mizwar (Demiz) merupakan salah satu tokoh dari beberapa tokoh yang dipantau Partai Gerindra, “Demiz merupakan representasi dari semua partai, dan Demiz adalah Bapak dari semua partai,” ujarnya.

“Di Pilgub Jabar Gerindra akan bersama-sama PKS, dan Perindo,” ungkapnya, “Namun kami terbuka juga bila berkoalisi dengan Partai Golkar,” ujarnya.

Mengenai bergabungnya Ridwan Kamil dengan Partai Nasdem, Ferry menegaskan, alangkah baiknya sesuai fatsun dan etika, Ridwan Kamil sebelum bergabung dan deklarasi dengan Nasdem menghubungi Gerindra, “Bahkan Ridwan Kamil mengatakan dirinya akan mendukung Jokowi, padahal belum tentu Jokowi terpilih menjadi Presiden lagi,” tegasnya.

“Kami tahu, Ridwan Kamil bergabung dengan Nasdem karena ada tekanan atas kasus-kasus yang menimpanya, dan Ridwan Kamil juga di intimidasi oleh Kejaksaan Agung,” ungkap Ferry, “Intimidasi itu terang benderang,” tegasnya.

20170606_123113

“Masyarakat Bandung seharusnya berangkat ke Kejaksaan Agung dan menanyakan kasus Ridwan Kamil serta kasus intimidasi,” ujar Ferry.

“Kami dari Partai Gerindra akan jauh menghormati Ridwan Kamil apabila tidak tunduk kepada Kejaksaan,” tegas Ferry, “Kami berharap Ridwan Kamil datang menemui Prabowo dan menjelaskan semuanya,” pungkas Ferry.

Anggota DPR RI Fraksi PKB Maman Imanulhaq menegaskan, berkaca dari Pilgub Jabar sebelumnya, bakal calon Gubernur yang rajin di awal-awal, akan mati di akhir-akhir, “Ahmad Heryawan dulu muncul terakhir, namun akhirnya menang,” ujarnya.

“Yang pasti, Jabar akan diperhitungkan oleh Jokowi untuk menjadi Wapres,” kata Maman, “Jokowi butuh Jawa Barat karena ketika Pilpres, Jokowi kalah di Jawa Barat,” pungkasnya.

Pengamat Politik Tjetje Padmadinata mengungkapkan, Jawa barat tidak punya tokoh seperti Jusuf Kalla, “Karena Jawa Barat adalah tempat bermainnya orang-orang dari Jakarta,” ujarnya.

“Saya tidak percaya survei-survei, karena yang diwawancarai belum tentu paham politik, dan saya memprediksi, Joko Widodo tidak akan menang menjadi Presiden RI di Pilpres nanti,” pungkasnya. (Bagoes Rinthoadi)

Comments are closed.