KPPU: Kompetisi Munculkan Pelaku Usaha Baru

20170602_185017

ARCOM.CO.ID ,Bandung. Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Syarkawi Rauf menegaskan, kompetisi akan mendorong efisiensi, sehingga pelaku-pelaku usaha baru akan terus bermunculan.

Hal ini ditegaskan Syarkawi di acara Dialog Persaingan bersama Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) bertajuk, “Mendorong Tumbuhnya Wirausaha Muda Melalui Persaingan Usaha Sehat”, Jumat, (2/6/2017), di El Royale Hotel jalan Merdeka Bandung, turut hadir Komisioner KPPU Muhammad Nawir Messi.

“Saat ini jumlah pelaku usaha di Indonesia hanya 1,8 persen dari jumlah penduduk Indonesia,” kata Syarkawi di awal paparannya, “Oleh karena itu KPPU hadir sebagai sarana bagi pelaku-pelaku usaha baru,” ujarnya.

Lebih lanjut Syarkawi mengungkapkan, visi Indonesia di tahun 2025 adalah Indonesia yang mandiri, maju, adil, dan makmur, “Dalam RPJM 2015-2019 ditegaskan, Indonesia harus memantapkan pembangunan secara menyeluruh dengan menekankan pembangunan keunggulan kompetitif perekonomian yang berbasis Sumber Daya Alam,” kata Syarkawi.

“Kata kunci di semua level pemerintahan adalah menetapkan kompetisi Value dan prinsip persaingan secara benar,” tegas Syarkawi, “Saat ini terlalu banyak hambatan untuk menumbuhkan pelaku usaha baru,” ungkapnya.

Syarkawi mengatakan, seharusnya ekonomi Indonesia harus tumbuh 8 persen setiap tahun, “Saat ini pertumbuhan ekonomi di Indonesia setiap tahunnya baru 5 persen, maka perlu usaha ekstra untuk meningkatkannya,” ujarnya. “Yang pasti ekonomi kita harus berbasis industri,” tegasnya.

Syarkawi menegaskan, kompetisi adalah kata kunci, “Kompetisi harus menjadi instrumen dalam pertumbuhan ekonomi,” pungkasnya.

Komisioner KPPU Muhammad Nawir Messi dalam paparannya mengatakan, perusahaan-perusahaan yang tidak inovatif akan tersingkir dari pasar dan akan digantikan pelaku-pelaku usaha baru.

“Namun jumlah perusahaan baru di Indonesia yang muncul di tahun 2006 hingga 2016 baru 1,7 persen, padahal di Inggris perusahaan baru yang muncul di tahun 2000 hingga 2007 sudah 17 persen,” ungkap Nawir Messi.

“Seperti kita ketahui, di masa lalu, pemerintah Indonesia mengeluarkan ijin melebihi kapasitas pasar, situasi itu merupakan penghambat bisnis baru,” ungkap Nawir Messi.

20170602_163549

“Memang saat ini banyak Fighting Brand untuk mengusir merek-merek baru, namun KPPU menetralkan hal seperti ini,” tegas Nawir Messi.

“Yang bisa dilakukan KPPU adalah mendorong efisiensi, sehingga bisnis yang tidak efisien akan keluar digantikan oleh bisnis-bisnis baru yang biasanya dijalankan oleh anak-anak muda,” ujar Nawir Messi.

“KPPU juga mencegah monopoli,” tegas Nawir Messi, “Dahulu maskapai di Indonesia hanya ada tiga, yaitu Garuda, Garuda dan Garuda,” ujarnya, “Sekarang banyak operator penerbangan baru sehingga masyarakat bisa membeli tiket pesawat seharga 400 ribu rupiah, padahal di masa lalu harga tiket pesawat bisa mencapai jutaan,” tegas Nawir Messi.

Mengenai kasus monopoli di Indonesia, Nawir Messi mengungkapkan, saat ini Indonesia mengimpor gula dan daging yang nilainya puluhan triliun, “Yang menikmati hanya dua hingga tiga orang, seharusnya ada persaingan sehingga muncul pelaku importir baru,” tegasnya.

“Bahkan sebagian industri besar di Indonesia pelakunya hanya dua sampai tiga orang seperti industri minyak goreng,” pungkas Nawir Messi.

Saat ini yang terjadi adalah skala ekonomi besar mengancam skala menengah dan kecil, sehingga produktivitas belum mengalami perbaikan, sedangkan bimbingan dan arahan dari institusi masih minim.

Indonesia sampai detik ini tidak bisa berdaya saing karena banyak mengimpor bahan baku, maka yang harus dilakukan adalah terus berinovasi dan berkreasi.

Memang menjadi pengusaha di Indonesia berat dan banyak tantangannya, selain monopoli, kendala lainnya adalah sulitnya mengurus perijinan.

Saat ini pengusaha besar yang ada di Indonesia hanya itu-itu saja, bahkan organisasi seperti HIPMI sulit mengakses permodalan dan melebarkan sayapnya.

Akhirnya banyak warga Indonesia yang bekerja di luar negeri, karena memang di dalam negeri tidak ada kesempatan. (Bagoes Rinthoadi)

Comments are closed.