BPS dan BEKRAF Kembangkan Big Data Ekonomi Kreatif

Bekraf2ARCOM.CO.ID ,Bandung. Badan Pusat Statistik (BPS) dan Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) menggelar Rapat Koordinasi Teknis (Rakortek) Penyusunan Data Statistik Ekonomi Kreatif Tahun 2017, Kamis, (6/7/2017), di The Papandayan jalan Gatot Subroto Bandung, turut hadir, Kepala BPS Kecuk Suhariyanto dan Kepala BEKRAF Triawan Munaf.

“Walaupun BEKRAF telah membangun data yang begitu rapi ditahun lalu, namun masih cukup banyak data ekonomi kreatif (ekraf) yang perlu digali lebih lanjut,” kata Kepala BEKRAF Triawan Munaf saat Press Conference Launching Kerjasama Penyusunan Data Statistik Ekonomi Kreatif (Ekraf) antara BEKRAF dan BPS Tahun 2017.

“Melalui perluasan cakupan dalam penyusunan data ekraf, kami berharap dapat membantu para pemangku kepentingan dalam memajukan ekraf, baik bagi BEKRAF, Kementerian, Lembaga, pelaku kreatif, akademisi, dan masyarakat,” kata Triawan.

Lebih lanjut Triawan mengatakan, BEKRAF ke depannya akan mengembangkan Dana Ekonom Kreatif (dekraf), “Dekraf merupakan permodalan gaya baru, karena  gagasan dapat dihargai dan diagunkan ke Bank,” ungkap Triawan.

Mengenai perhatian BEKRAF terhadap Developer lokal, Triawan menegaskan, pihaknya selalu mengingatkan Developer dan Startup lokal tentang Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI), “BEKRAF juga rutin melakukan Capacity Building kepada para Developer lokal,” ujarnya.

“Seperti kita ketahui saat ini ada tiga Startup besar di Indonesia, yaitu Go-Jek, Traveloka, dan Tokopedia, bahkan nilai Go-Jek 25 triliun lebih besar daripada maskapai Garuda,” ungkap Triawan.

BekrafTriawan mengungkapkan potensi Ekonomi Kreatif mencakup 16 sub sektor, “Tiga besar potensi terebut adalah Fashion, Kuliner, dan Kriya (Craft),” ungkap Triawan, “Sedangkan tiga prioritas adalah Musik, Film, dan Apps,” pungkasnya.

Kepala BPS Kecuk Suhariyanto mengatakan, ekonomi kreatif memiliki potensi besar untuk meningkatkan daya saing perusahaan, “Kehadiran ekonomi kreatif menciptakan iklim bisnis yang positif, membangun citra dan identitas bangsa, serta meningkatkan keunggulan kompetitif,” tegas Kecuk.

Lebih lanjut Kecuk mengungkapkan saat ini terdapat lima provinsi yang memiliki peranan besar dalam ekonomi kreatif di Indonesia, “Provinsi tersebut adalah Sumatera Utara, Jawa Barat, Yogyakarta, Jawa Timur, dan Bali,” ujarnya.

Mengenai kendala dalam penyusunan data ekonomi kreatif (ekraf) Kecuk mengungkapkan, kendala di lapangan adalah pelaku ekonomi kreatif kebanyakan anak-anak muda, “Anak muda biasanya tidak punya kantor fisik dan melakukan kegiatan ekonomi kreatif di dalam kamar,” ungkap Kecuk, “Oleh karena itu BPS dan BEKRAF dalam melakukan wawancara harus teliti,” pungkasnya.

Sektor ekraf di tahun 2015 berkontribusi 7,38 persen terhadap total perekonomian nasional, PDB ekonomi kreatif yang tercipta di tahun 2015 sebesar 852 triliun rupiah, dari sisi ketenagakerjaan sektor ekraf mampu menyerap 15,9 juta tenaga kerja atau 13,90 persen dari total tenaga kerja pada tahun 2015, sedangkan ekspor barang-barang ekraf senilai US$ 19,4 miliar atau 12,88 persen dari total ekspor Indonesia di tahun 2015. (Bagoes Rinthoadi)

 

Comments are closed.