Ego Syahrial: Masyarakat Jangan Terpancing Isu Gunung Dieng

20170704_091358

ARCOM.CO.ID ,Bandung. Kepala Badan Geologi Ego Syahrial menegaskan agar masyarakat tetap tenang dan tidak terpancing isu-isu terkait aktivitas Gunung Dieng di Jawa Tengah pasca letusan freatik kawah Sileri yang menyebabkan 12 orang luka ringan.

Hal ini ditegaskan Ego saat menggelar Press Conference perkembangan aktivitas vulkanik kawah Sileri-Pegunungan Dieng, Selasa, (4/7/2017), di Auditorium Badan Geologi jalan Diponegoro Bandung.

“Pada 2 Juli 2017 pukul 11.54 WIB terjadi letusan freatik kawah Sileri-G Dieng hingga mengeluarkan material lumpur dengan jarak lontaran 50 meter ke arah utara, selatan dan tempat wisata Waterboom,” kata Ego di awal paparannya.

“Dampak letusan tersebut menyebabkan 12 orang luka ringan diantaranya wisatawan yang sedang berwisata di kawasan Kawah Sileri pada jarak 20 meter,” kata Ego, “Wisatawan tersebut terkena dampak letusan akibat tidak mengikuti rekomendasi untuk tidak mendekati bibir kawah lebih kurang 100 meter,” ujarnya.

Lebih lanjut Ego mengungkapkan, Badan Geologi-KESDM sudah menyampaikan rekomendasi sejak April 2017, “Kami menyampaikan kepada pihak pengelola Waterboom, Camat di sekitar kawah Dieng, Bupati Banjarnegara, dan BPBD Banjarnegara agar menghimbau kepada masyarakat atau pengunjung untuk tidak mendekati bibir kawah Sileri lebih kurang 100 meter,” tegasnya.

“Sekalipun tingkat aktivitas Gunung Dieng Normal, Badan Geologi-Kementerian ESDM merekomendasikan agar masyarakat tidak melakukan aktivitas di Kawah Timbang, karena adanya ancaman bahaya gas CO2 dan H2S yang berbahaya bagi kehidupan,” tegas Ego.

“Selain itu masyarakat agar waspada jika melakukan penggalian tanah di sekitar Kawah Timbang dengan kedalaman lebih dari satu meter, karena masih berpotensi terancam bahaya gas CO2 dan H2S,” ungkap Ego.

20170704_084726

Lebih lanjut Ego berharap masyarakat selalu mengikuti arahan dari SATLAK PB dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Tengah.

“Bagi wisatawan yang mengunjungi kawasan wisata kawah disarankan tidak terlalu dekat, karena sehubungan adanya peningkatan aktivitas vulkanik di kawah Sileri, diharapkan masyarakat dan pengunjung meningkatkan kewaspadaan dengan tidak mendekati kawah Sileri pada jarak 100 meter dari bibir kawah,” tegas Ego.

Ego mengatakan, adapun upaya mitigasi yang dilakukan adalah melakukan monitoring dan evaluasi kawah-kawah di Gunung Dieng secara terus menerus selama 24 jam setiap harinya oleh Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi-KESDM.

“Upaya mitigasi lainnya adalah melakukan evakuasi para korban luka ke Puskesmas Batur 1, menutup sementara waktu Kawah Sileri oleh Polres dan Kodim dengan Police Line,” kata Ego.

“Selain itu BPBD dan Pos Pengamanan gunung api Dieng melakukan pengamatan visual dan melakukan pengukuran dari area kawah Sileri,” ungkap Ego, “Tim Reaksi Cepat BPBD Banjarnegara membuka Posko Aju di Desa Kepakisan, dan membuat jalur evakuasi khusus yang selama ini tidak ada,” ujarnya.

Di akhir paparannya Ego mengatakan, selain gunung Dieng ada gunung yang kondisinya mirip, yaitu Gunung Tangkuban Perahu, Kawah Ijen, dan Kawah Batur, “Suatu gunung walaupun normal ada batas radius yang tidak boleh didekati pengunjung dan masyarakat,” tegas Ego.

“Saat ini terdapat 4,5juta orang yang tinggal di dekat gunung rawan bencana, oleh karenanya, seluruh kegiatan yang dilakukan Pemda harus mengacu peta kerawanan bencana,” pungkas Ego. (Bagoes Rinthoadi)

Comments are closed.