Kyai Matdon: Birahi Kekuasaan Berakibat Fatal

20170830_091204-1

ARCOM.CO.ID ,Bandung. Bakal Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat Kyai Matdon dan Taufik (KYAMAT) menggelar Performance Art bertajuk, “Deklarasi KYAMAT”, Rabu, (30/8/2017), di depan Gedung Sate jalan Diponegoro Bandung.

Deklarasi di depan Gedung Sate diawali pernyataan sikap Kyai Matdon dan Taufik (KYAMAT) tentang politik di Indonesia sambil menyanyikan lagu Indonesia Pusaka, seusai menyatakan sikapnya, Kyai Matdon dan Taufik mengguyur sekujur tubuhnya dengan air kembang.

Dalam wawancara, Kyai Matdon yang merupakan seniman mengatakan, politik selalu membuat ‘riweuh’, “Biasanya rakyat yang tak berdosa menjadi korban,” ujarnya, “Saat ini banyak spanduk yang berkeliaran di jalanan dan menyebarkan kampanye bohong,” ujarnya.

“Para calon peserta pilkada biasanya turun ke pasar dan berpura-pura baik kepada rakyat, serta memberikan janji-janji politik,” kata Kyai Matdon, “Seolah-olah bohong itu wajib atau sunnah muakkad bagi para politisi,” tegasnya.

Lebih lanjut Kyai Matdon mengatakan, melalui Deklarasi KYAMAT, Kyai Matdon dan Taufik mengajak para politisi dan rakyat berpikir jernih menjelang Pilkada Jawa Barat, “Ulah bohong wae ka rakyat, rakyat sudah minum air mata berabad-abad,” tegasnya.

“Delarasi KYAMAT hanyalah Performance Art, kami tidak mencalonkan serius untuk Jawa Barat,” kata Kyai Matdon, “KYAMAT hanya mengingatkan, birahi kekuasan berakibat fatal dan berbahaya bagi rakyat,” ujarnya.

“Jika politik kotor dilakukan terus menerus, maka jangan salahkan rakyat jika suatu saat mereka memilih golput, dan jika rakyat golput semua, maka negara terancam bubar,” tegas Kyai Matdon.

20170830_091233-1

Kyai Matdon menegaskan, memilih pemimpin itu gambling bagi rakyat, karena setelah terpilih, rakyat tidak tahu apakah pemimpin itu baik untuk lima tahun ke depan atau hanya Gimmick saja.

“Rakyat sekarang sudah mulai tahu dan melihat akhlak calon pemimpin, apakah mereka terlibat kriminal, korupsi, atau cabul,” kata Kyai Matdon, “Memilih pemimpin itu sama halnya dengan memilih batu akik, yaitu memilih dengan hati,” ujarnya.

“Untuk membangun rezim demokratis yang kuat dan melembaga setelah runtuhnya rezim otoriter dan situasi politik tidak menentu, perlu dijalankan konsolidasi demokrasi sebagai upaya merawat stabilitas dan persistensi demokrasi,” tegas Kyai Matdon.

“Demokrasi bisa terkonsolidasi bila aktor-aktor politik, partai politik, kelompok kepentingan, dan elemen masyarakat menganggap tindakan demokratis sebagai alternatif utama untuk meraih kekuasaan,” tegas Kyai Matdon, “Tidak ada aktor atau kelompok yang mempunyai klaim veto terhadap tindakan pembuat keputusan yang sudah terpilih secara demokratis,” tegasnya.

“Rakyat sudah lama menderita, maka politik itu harus bergembira, dan rakyat harus digembirakan, jangan calon politisi dan partai saja yang bergembira,” kata Kyai Matdon.

“Rakyat jangan dibebani dengan hal-hal yang tidak pasti, rakyat harus sudah mulai paham demokrasi itu milik rakyat,” tegas Kyai Matdon.

“Berpolitiklah dengan gembira, jangan pilih pasangan KYAMAT, karena tidak akan mencalonkan diri sebagai apapun,” kata Kyai Matdon, “Aksi KYAMAT ditujukan untuk partai politik, Calon Gubernur, dan Calon Walikota,” pungkas Kyai Matdon. (Bagoes Rinthoadi)