Oknum Polisi Suruhan PLN Intimidasi Sulton dan Warga Desa Sukaresmi

20170810_173631-1

ARCOM.CO.ID ,Bandung. Roedy Wiranatakusumah S.H.,M.H.,MBA mengungkapkan, oknum Polisi diduga suruhan PT PLN Unit Induk Pembangunan Jawa Bagian Tengah I telah melakukan intimidasi dan mengancam akan membunuh Sulton (ahli waris tanah) dan warga Desa Sukaresmi.

Hal ini diungkapkan Roedy Wiranatakusumah selaku kuasa hukum Sulton dan warga Desa Sukaresmi saat menggelar Press Conference, Kamis, (10/8/2017), di Kantor Bakumham Kosgoro 1957 jalan Gitar Bandung.

Turut hadir, Ketua Bakumham Kosgoro 1957 Dr. H. Asep Sapsudin.,S.H.,M.H., MM., Anggota Bakumham Kosgoro 1957 Hotma Agus Sihombing S.H.,M.Hum., Ahli Waris Tanah seluas 5130 m2 Sulton, dan beberapa warga Kec.Rongga Desa Sukaresmi Kab.Bandung.

“Arogansi PT PLN Unit Induk Pembangunan Jawa Bagian Tengah I dipertontonkan kembali pada 9 Juli 2017 dengan mengirim oknum Brimob bersenjata api,” kata Roedy di awal paparannya, “Sebelumnya pernah terjadi kejadian yang sama di bulan Oktober 2016 namun menggunakan senjata laras panjang,” tegasnya.

“Oknum Polisi tersebut berusaha mengintimidasi dan mengancam keselamatan jiwa Sulton dan rekan-rekannya dengan cara mengeluarkan senjata api dan memaksa Sulton membuka portal,” kata Roedy.

Lebih lanjut Roedy menegaskan, dengan adanya tindak kekerasan yang dilakukan oknum Polisi, maka atensi sangat diperlukan, “Maka tindakan indisipliner oknum Polisi tersebut perlu ditindak lanjuti oleh Polda Jabar, dan saya bersama Bakumham Kosgoro 1957 telah membuat laporan beberapa hari yang lalu ke Propam Polda Jabar,” tegasnya.

“Sulton sudah di BAP oleh Polda Jabar, dan isi laporannya adalah pelanggaran profesi, karena Sulton sudah pernah diancam akan dibunuh oleh oknum Polisi tersebut di tahun 2016, dan terjadi lagi ancaman pembunuhan di tahun 2017,” kata Roedy, “Kami juga akan melapor ke LPSK,” tegasnya, “Jangan sampai kasus Kancil terulang di Jawa Barat,” ujarnya.

Roedy mengungkapkan, Sulton hingga saat ini terus berjuang menghadapi PT PLN Unit Induk Pembangunan Jawa Bagian Tengah I yang telah menyerobot tanah milik keluarganya.

“Walaupun putusan Mahkamah Agung RI telah memenangkan pihak Sulton, namun PT PLN menunjukkan sikap arogansinya dengan tidak memperdulikan dan tidak menghormati putusan Pengadilan Tata Usaha Negara yang telah berkekuatan hukum tetap,” tegas Roedy.

“Banding saat ini masih berlangsung di Pengadilan Tinggi Negeri Bandung antara Sulton dengan penggarap bernama Mumun cs yang telah menjual tanah milik keluarga Sulton kepada PT PLN,” ungkap Roedy.

“Bukti kepemilikan tanah yang menjadi obyek sengketa berupa SHM No. 1 Tahun 1982 atas nama Sanusi (ayah Sulton) yang sah dan masih berlaku saat ini dikuasai oleh Sulton,” tegas Roedy.

“Namun PT PLN Unit Induk Pembangunan Jawa Bagian Tengah I tidak mengindahkan bukti kepemilikan tersebut, dan tetap menggunakan tanah milik keluarga Sulton sebagai Acces Road untuk proyek PLTA Upper Cisokan,” kata Roedy, “Semestinya obyek sengketa tersebut status quo, namun PLN tidak menghormati proses hukum,” tegasnya.

IMG_20170811_092632

Roedy yang telah mendampingi Sulton dan warga Desa Sukaresmi selama 4 tahun mengungkapkan, proyek PLTA Upper Cisokan merupakan proyek fenomenal dan terbesar di ASEAN, “Nilai proyek tersebut adalah 13 triliun rupiah,” pungkas Roedy.

Ketua Bakumham Kosgoro 1957 Dr. H. Asep Sapsudin.,S.H.,M.H., MM., mengatakan, Sulton sudah menang di kasasi, tetapi ada oknum Polisi yang mengancam dan menunjukkan senjata api, “Bakumham Kosgoro 1957 melihat hal seperti ini salah,” tegasnya, “Seharusnya Polisi netral dan tidak berpihak,” ujarnya.

“Kami tertarik melihat kasus ini, dan Bakumham Kosgoro 1957 berharap agar Polda Jabar segera memproses laporan ini dengan baik,” ujarnya.

“Kami juga sudah menyampaikan hal ini kepada Komisi I DPRD Jabar, kami menempuh jalur ini untuk memohon keadilan agar DPRD Jabar bisa memperhatikan kasus ini,” ungkap Asep.

Lebih lanjut Asep mengungkapkan, setelah melakukan peninjauan ke lokasi, akhirnya Bakumham Kosgoro 1957 menerima permohonan bantuan perlindungan hukum yang diajukan Roedy Wiranatakusumah selaku kuasa hukum Sulton.

“Berdasarkan informasi yang kami dapat dan kami lihat, dalam proyek PLTA Upper Cisokan, memang ada indikasi ketidakadilan,” ungkap Asep, “Diantaranya,tanah Sulton terkena dampak proyek, dan ada kesalah proseduran pembayaran yang diberikan ke pihak lain, dan bukan kepada Sulton,” tegasnya.

“Sulton sebagai ahli waris sudah benar meminta keadilan, jadi bukan menghambat pembangunan,” kata Asep.

Anggota Bakumham Kosgoro 1957 Hotma Agus Sihombing S.H.,M.Hum., menegaskan, Bakumham Kosgoro 1957 telah membuat pengaduan ke Propam Polda Jabar atas kasus intimidasi dan pengancaman ini.

“Ada dugaan tindak pidana yang dilakukan oleh oknum Polisi di proyek Upper Cisokan pada 9 juli 2017,” tegas Agus, “Atas tindakan oknum Polisi tersebut Bakumham Kosgoro 1957 mendampingi Roedy Wiranatakusumah dan Sulton melaporkan oknum Polisi tersebut ke Propam Polda Jabar,” tegasnya.

“Kami dari Bakumham Kosgoro 1957 ingin suasana yang kondusif, maka kami mendesak Kapolda Jabar memproses laporan Sulton, yaitu tentang pelanggaran etika profesi yang dilakukan oknum Polisi tersebut,” kata Agus, “Yang pasti Bakumham Kosgoro 1957 akan mengawasi kasus ini,” tegasnya.

“Saat ini Polri sedang melakukan reformasi, tetapi kelakuan oknum Polisi tetap tidak berubah, yaitu masih mengancam dan mengintimidasi,” pungkas Agus.

Ahli Waris Tanah seluas 5130 m2 Sulton secara singkat mengatakan, dirinya mengucapkan terima kasih atas perlindungan yang diberikan oleh Bakumham Kosgoro 1957. (BRH )

Comments are closed.