Selasar Sunaryo Hadirkan 30 Seniman di Pameran re: emergence

20170913_155708-1

ARCOM.CO.ID ,Bandung. Selasar Sunaryo Art Space (SSAS) menggelar pameran bertajuk, “re: emergence” mulai 16 September hingga 22 Oktober 2017 di Selasar Sunaryo Art Space jalan Bukit Pakar Timur 100 Bandung.

Pameran re: emergence bisa dikatakan pameran reuni karena menghadirkan kembali 30 seniman yang pernah mengikuti pameran dua tahunan “Bandung New Emergence (BNE) di SSAS.

Pemilik SSAS Sunaryo dalam sesi Press Conference, Rabu, (13/9/2017), di Selasar Sunaryo mengatakan, pameran re: emergence merupakan embrio yang dibangun oleh pihak Selasar Sunaryo, “Pameran ini masih relevan dihadirkan pada saat ini, walaupun perubahan terus terjadi,” ujarnya.

Lebih lanjut Sunaryo mengatakan, dirinya setelah sekian tahun menggelar pameran di SSAS ingin melihat apa yang dilakukan para seniman saat ini, “Saya ingin melihat perkembangan seniman-seniman terdahulu,” tegasnya.

“Apakah para seniman di masa belantara informasi, terombang-ambing atau masih tetap tegak sebagai seniman,” kata Sunaryo.

Terkait pameran re: emergence, Sunaryo mengungkapkan, seniman alumni Bandung New Emergence (BNE) telah mencapai 100 orang, “Di pameran re: emergence terjaring 30 seniman yang masih terus eksis dan bersemangat mendukung pameran ini,” ujarnya.

“Setelah enam tahun, akhirnya pameran re: emergence didengar dan diperhatikan banyak orang, bahkan para alumninya mendapat akses pekerjaan seni di Hongkong, Jepang, dan Singapura,” ungkap Sunaryo, “Akhirnya jerih payah pihak Selasar Sunaryo tidak sia-sia,” ujarnya.

“Mudah mudahan pameran-pameran di SSAS menjadi suatu hal yang lebih difokuskan, dan saya ingin ke depannya re: emergence bukan untuk seniman Bandung saja,tetapi untuk seniman dari mana saja, untuk siapa saja, dan menjadi batu loncatan ke kancah internasional,” tegas Sunaryo.

20170913_153911-1

“Seperti kita ketahui,dalam event seni nasional, banyak seniman Bandung yang tampil, dan selalu hadir,” ungkap Sunaryo, “Bahkan yang hadir di event seni nasional kebanyakan alumni Bandung New Emergence (BNE), sehingga saya semakin penasaran kepada para seniman Bandung tersebut,” ujarnya.

Di akhir paparannya, Sunaryo berharap kepada mahasiswa jurusan seni yang baru lulus harus bertanya kepada diri sendiri, ‘Saya nantinya bekerja apa, bukan bekerja di mana’.

Kurator Pameran re: emergence Agung Hujatnikajennong mengatakan, pameran re: emergence merupakan pameran terbesar yang pernah diadakan di Selasar Sunaryo, “Pameran re: emergence bisa dikatakan semacam perayaan khusus menyambut ulang tahun Selasar Sunaryo,” ungkapnya.

“Sebelumnya pameran seperti ini diadakan tahun 2006 dan digelar sederhana,” ungkap Agung, “Waktu itu kota Bandung tidak punya event regular seni rupa, padahal sejak tahun 1980-an Yogyakarta mempunyai event seni rupa tahunan yaitu Biennale Jogja,” tegasnya, “Akhirnya Sunaryo memberi masukan kepada kita untuk membuat event reguler untuk seniman-seniman muda di kota Bandung,” ungkapnya.

“Pameran re: emergence merupakan wahana seniman muda dan kurator muda untuk tampil,” kata Agung.

“Sebelum pameran berlangsung di SSAS, biasanya pihak penyelenggara mengadakan panggilan terbuka sejak tahun 2015 untuk ratusan seniman-seniman muda,” ungkap Agung, “Seniman muda harus melakukan presentasi di depan publik,dan kriteria seniman yaitu usia di bawah 30 tahun, tinggal dan bekerja di kota Bandung,” ungkapnya.

Lebih lanjut Agung mengatakan, pihak penyelenggara menyeleksi ratusan seniman yang ingin tampil di pameran re: emergence, “Akhirnya terpilih 30 seniman dengan karya-karya baru, dan mereka percaya dengan karir ke-senimanannya, serta yakin seniman bisa dijadikan pegangan untuk hidup,” tegasnya.

Berikut nama-nama 30 seniman yang ikut pameran di re: emergence, Agugn, Bagus Pandega, Bandu Darmawan, Banung Grahita, Cinanti Astria Johansjah, Duto Hardono, Eldwin Pradipta, Erik Pauhrizi dan Erika Ernawan, Erwin Windu Pranata, Fajar Abadi, Guntur Timur, Haikal Azizi, J.A. Pramuhendra, Maharani Mancanagara, Michael Binuko, Muhammad Akbar, Muhammad Zico Albaiquni, Mufti Priyanka, Nurrachmat Widyasena, Patricia Untario, Radi Arwinda, Riar Rizaldi, Sekarputri Sidhiawati, Syaiful Aulia Garibaldi, Theo Frids Hutabarat, Tromarama, Wiyoga Muhardanto, Yogie Achmad Ginanjar, R. Yuki Agriardi, dan Yusuf Ismail. (Bagoes Rinthoadi)

Comments are closed.