Iwan Sunito: Jumlah Permintaan Hunian Di Indonesia Melebihi Pasokan

Iwan_Sunito_2015

ARCOM.CO.ID ,Jakarta, (16/10/2017). CEO dan Pendiri Crown Group Iwan Sunito mengatakan, jumlah permintaan hunian di Indonesia masih melebihi kapasitas pasokan, selain itu kebijakan pemerintah serta keseimbangan antara harga dan daya beli memegang peranan penting dalam menstimulasi pertumbuhan dunia properti di Indonesia.

Perihal situasi terkini dunia properti Indonesia dikemukakan Iwan Sunito di sela-sela kunjungan singkatnya di Pangkalan Bun Kalimantan Tengah beberapa waktu yang lalu.

Iwan Sunito mengungkapkan, dengan besaran jumlah permintaan yang ada, dapat dikatakan pasar properti Indonesia merupakan yang terbesar di kawasan Asia Tenggara.

“Sempat ada kekhawatiran pasar properti Indonesia akan mengalami ‘Bubble’, namun saya tidak melihat Indonesia akan mengalami hal tersebut,” tegas Iwan Sunito.

“Jumlah permintaan hunian di Indonesia masih jauh di atas kemampuan para pengembang dalam menyediakan pasokan,” kata Iwan Sunito.

“Memang sempat terjadi ‘slowing down’ pasca Tax Amnesty, namun kalau kita perhatikan, saat ini sudah mulai merangkak naik,” ungkap Iwan Sunito.

“Apalagi pemerintah Indonesia saat ini berusaha mendorong pertumbuhan sektor properti dengan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan yang akan semakin memudahkan masyarakat untuk memiliki hunian,” kata Iwan Sunito, “Ditambah dengan kebijakan hunian yang berorientasi kepada transportasi masal akan membuat pasar properti Indonesia, khususnya di Jakarta menjadi lebih berwarna dengan berbagai macam pilihan,” tegasnya.

Lebih lanjut Iwan Sunito mengatakan, yang perlu dicermati yaitu harga hunian yang ditawarkan harus berbanding lurus dengan tingkat pendapatan dan kemampuan daya beli masyarakat saat ini, agar tercipta keseimbangan yang sempurna.

Menurut data dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, saat ini ‘Backlog’ mencapai 13,5 juta unit, sementara kebutuhan rumah baru yang bersumber dari pertumbuhan penduduk dan urbanisasi setiap tahunnya mencapai sekitar 800 ribu unit.

“Kondisi ‘Backlog’ juga dialami oleh Australia, khususnya Sydney, dimana jumlah pasokan tidak bisa mengimbangi jumlah permintaan,” ungkap Iwan Sunito, “Bahkan ‘Backlog’ yang dialami oleh Indonesia jauh lebih tinggi dari yang dihadapi Australia, yaitu sekitar 50,000 hunian per tahunnya,” tegasnya.

“Yang perlu diingat, harga yang ditawarkan kepada konsumen di Australia sesuai dengan daya beli masyarakatnya, sehingga keseimbangan terjadi, yang pada akhirnya membuat pasar Australia menjadi salah satu yang terbaik untuk investasi properti di kawasan Asia,” ungkap Iwan Sunito.

“Selama titik keseimbangan itu tercipta, saya yakin pasar properti di Indonesia dapat menjadi salah satu yang terkuat di kawasan Asia dalam beberapa tahun mendatang,” pungkas Iwan Sunito. (RLS / BRH)

Comments are closed.