Petani Kopi Jawa Barat Belajar Mengenal Mutu Kopi

IMG-20171014-WA0038

ARCOM.CO.ID ,Bandung. Hari kedua Pelatihan Kewirausahaan Kopi yang diikuti oleh para Petani Kopi Jawa Barat, Sabtu, (14/10/2017), di Preanger Point Coffee Shop jalan Trunojoyo No.58 Bandung diisi dengan pembelajaran mengenai pengenalan uji mutu dan cita rasa kopi, serta pengembangan kelembagaan sumber pembiayaan dan pola perdagangan kopi.

Petani kopi yang mengikuti pelatihan kewirausahaan ini sangat antusias ketika belajar mengenai pengenalan uji mutu dan cita rasa kopi.

“Saya dapat ilmu baru tentang menilai cita rasa kopi, bagaimana menggiling kopi, menyeduhnya, hingga mencicip kopi,” kata Petani Kopi asal Sukajaya Lembang Dedi Priyadi (38 thn).

Menurut Dedi Priyadi, pelatihan yang baru pertama kali diikuti ini, sangat bermanfaat karena dirinya dapat mengetahui bagaimana cara menanam kopi dengan baik, mengolah hasil panen dengan benar, dan menyeduh kopi.

“Tentang cita rasa kopi dan ilmu barista sedikitnya bisa saya kuasai, setelah saya ikut pelatihan ini,” pungkas Dedi Priyadi.

Q Graider Kopi Indonesia Adi Taroepratjeka mengatakan, belajar mengenal cita rasa kopi, baik dilakukan secara kelompok agar terjadi diskusi, dan tentunya harus ada pengajarnya untuk mengarahkan bagaimana memberi nilai pada kopi.

Menurut Adi Taroepratjeka, kopi berkualitas adalah kopi yang ditanam dengan baik, pengolahan pasca panen dengan baik, dan biji kopi yang disortir secara baik.

“Kalau petani kita kan kopi yang sudah disortir dijual, sedangkan yang sudah patah-patah dan disapu itu yang diminum, jadi bagaimana bisa mengetahui kopi yang memiliki cita rasa bagus, kalau yang diminum kopi yang cacat,” kata Adi Taroepratjeka yang juga Direktur 5758 Coffee Lab.

Adi Taroepratjeka mengatakan, sudah saatnya petani kopi Indonesia dapat mengetahui cita rasa kopi dengan baik agar mereka dapat dengan mudah berkomunikasi dengan siapapun, meski bahasanya berbeda.

“Caranya kami bagikan lembar pencatatan kopi, lalu mereka diajari bagaimana mencium aroma biji kopi, mencium aroma kopi yang sudah digiling, dan mencium aroma kopi yang sudah diseduh, serta bagaimana cara menyeduh kopi,” ungkap Adi Taroepratjeka.

“Saat mereka mencium aroma kopi, hingga mencicip kopi, cita rasa yang mereka rasakan ditulis di lembar pencatatan cita rasa,” kata Adi Taroepratjeka.

“Melalui lembar pendaftaran kopi, kita menyamakan persepsi tentang nilai 7 untuk kopi seperti apa, nilai 7,5 seperti apa, sehingga mereka bisa berkomunikasi tentang kopi dengan hanya menggunakan lembar pencatatan kopi,” tegas Adi Taroepratjeka.

IMG-20171014-WA0030

Adi Taroepratjeka mengatakan, kalau ada kopi dicampur jagung, beras, kedelai, beras ketan hitam, itu awalnya terjadi karena petani hanya menjual hasil panen yang bagus.

“Sisanya kopi cacat atau pecah digiling, dan supaya banyak, mereka campur jagung, beras, atau kedelai,” ungkap
Adi Taroepratjeka.

“Dicampur tidak apa-apa, karena tidak ketahuan, tapi ketika petani tidak pernah minum kopi hasil sortiran yang bagus, mereka tidak akan pernah tahu cita rasa kopi enak,” ujar Adi Taroepratjeka.

Menurut Adi Taroepratjeka, tidak ada yang salah mencampur kopi dengan komoditas lain, “Di Lombok, mereka minum kopi dengan kayu manis atau kelapa sangria untuk menambah cita rasa, tapi yang dipakainya adalah kopi terbaiknya,” tegas Adi Taroepratjeka.

“Jangan dibiasakan minum kopi cacat, tapi coba minum kopi yang bagus,” kata Adi Taroepratjeka, “Cara menyeduh kopi jangan menyeduh dengan air mendidih, tapi gunakan air panas 85 hingga 95 derajat, setelah diseduh dengan air panas, biarkan 4 menit, lalu ambil ampasnya, cium lagi aromanya, pasti aromanya berubah, dibandingkan dengan aroma kopi yang baru diseduh,” pungkasnya.

Pelatihan kewirausahaan bagi petani kopi ini digelar oleh Kementerian LHK bekerja sama dengan SCAI (Specialty Coffee Association of Indonesia).

Pesertanya adalah 50 petani kopi yang tergabung dalam LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan) di Jawa Barat.

Ketua LMDH Lereoy Matita mengatakan, pihaknya sangat berterima kasih atas terselenggaranya kegiatan ini.

“Petani dapat wawasan baru tentang kewirausahaan kopi,” kata Lereoy Matita, “Ini awal kerja sama yang baik untuk meneruskan tradisi pelatihan kewirausahaan kopi secara berkesinambungan,” ujarnya.

“Petani kopi membutuhkan wawasan tentang cara menanam kopi yang baik, mengolah hasil panen, dan memprosesnya menjadi powder, sampai tata niaga kopi,” pungkas Lareoy Matita.

Direktur Jenderal Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Hadi Daryanto mengatakan, pihaknya berterima kasih kepada para petani kopi yang sudah sangat antusias mengikuti kegiatan kewirausahaan ini.

“Dengan mengikuti pelatihan ini, mereka sudah menjadi bagian dari petani agro forestry, tahu menanam kopi yang benar, mengolahnya, dan sekaligus mengetahui tata niaga kopi serta industri kopi secara umum,” kata Hadi Daryanto.

“Mereka bisa mengetahui kualitas kopi yang bagus dan mengenal cita rasa kopi dengan baik,” kata Hadi Daryanto, “Kegiatan ini tidak boleh selesai sampai disini, tapi harus dilakukan secara berkelanjutan,” pungkasnya. (RLS / Lucky Ronaldi)

Comments are closed.