Pengusaha Ujang Koswara Perkenalkan Hawuko Pada Siswa SMAN 10 Bandung

ujang 1ARCOM.CO.ID ,Bandung. Pengusaha Ujang Koswara atau biasa disapa Uko akhirnya kembali ke almamaternya di SMA Negeri 10 Bandung untuk membagikan ilmunya kepada ratusan siswa kelas 12 yang terlihat sangat antusias menyambut kedatangan Ujang Koswara yang merupakan angkatan 1988.

Kedatangan Ujang Koswara, Jumat pagi, (3/11/2017), di SMA Negeri 10 Bandung jalan Cikutra Bandung adalah dalam rangka  Alumni Berbagi  bertajuk, “Implementasi KWU: Rekayasa Listrik Dalam Bentuk Teknologi Tepat Guna Limar (Listrik Mandiri Rakyat)”.

Selain menjelaskan tentang Listrik Mandiri Rakyat (Limar) kepada ratusan  siswa-siswi SMAN 10 Bandung, Ujang Koswara yang wajahnya bertebaran di beberapa titik Billboard di penjuru kota Bandung menjelaskan tentang inovasi “Hawuko” yaitu kompor yang bisa menghasilkan listrik, Hawuko sendiri singkatan dari Hawu Ujang Koswara.

“Hawuko akan sangat bermanfaat bukan hanya untuk warga Bandung namun berguna untuk masyarakat Indonesia bahkan masyarakat dunia,” kata Ujang Koswara saat diwawancara oleh media televisi, cetak maupun Online di lapangan SMA Negeri 10 Bandung, “Dengan Hawuko nasi dan masakan matang, sampahnya habis, serta listriknya dapat,” ujarnya.

Lebih lanjut Ujang Koswara mengatakan, kota Bandung saat ini melakukan pendekatan terhadap masalah sampah lebih cenderung ke arah incinerator untuk membakar sampah di kota Bandung, “Incinerator harganya350 miliar rupiah dan diimpor dari luar negeri,” ungkap Ujang Koswara, “Menurut saya memakai Incenerator kurang elok selagi Hawuko bisa dikerjakan oleh masyarakat sendiri,” tegasnya.

ujang 3“Apabila Hawuko dibagikan kepada pedagang-pedagang makanan dan masyarakat marjinal, maka sampah di kota Bandung akan habis dengan sendirinya,” tegasnya, “Hal ini dapat menghemat pengeluaran masyarakat yang  yang biasanya beli gas LPG, menjadi menggunakan Hawuko, sehingga uangnya bisa dipakai untuk keperluan lainnya,” tegasnya.

“Hawuko nantinya dapat diproduksi secara massal oleh masyarakat dan tidak  dikomersialkan oleh saya sebagai pembuat Hawuko pertama,” ungkap Ujang Koswara, “Tetapi cara pembuatan Hawuko diajarkan kepada masyarakat, dan masyarakat boleh menjual dan memproduksi massal Hawuko, karena target saya adalah pertumbuhan kewirausahaan baru dan kemandirian masyarakat,” tegasnya, “Hal ini saya lakukan supaya pertumbuhan ekonomi di Bandung lebih baik, karena seperti diketahui pertumbuhan ekonomi di Bandung tinggi tapi daya beli kurang,” ungkapnya.

Ujang Koswara mengungkapkan, Hawuko  yang mampu menghasilkan listrik sebesar 5 watt biasa dipakai oleh tentara di dapur-dapur umum, “Bisa saja Hawuko diproduksi massal, tapi rasanya kurang elok bila dipasarkan oleh satu perusahaan saja,” ungkapnya, “Lebih baik pembuatan Hawuko dibuat menjadi kegiatan makro, sehingga masyarakat tidak hanya jadi penonton tetapi menjadi pemain,” tegasnya.

“Saat ini Hawuko diproduksi di berbagai komunitas, dan kebanyakan  diproduksi di pasantren-pasantren dan markas tentara,” ungkap Ujang Koswara, “Hawuko sangat aman,  tetapi lebih baik jangan menggunakan bahan sampah basah,” ujarnya, “Sampah basah bisa jadi pupuk, maka sampah kering digunakan untuk bahan bakar Hawuko, karena sampah kering saat ini belum banyak dimanfaatkan oleh masyarakat,” ungkapnya.

“Besar api Hawuko tergantung ukuran, karena bisa juga memakai bahan drum, namun untuk Hawuko skala rumah tangga, api bisa bertahan 3 jam untuk sampah ukuran kaleng cat,” ungkap Ujang Koswara.

ujang 4“Saat ini saya dikait-kaitkan ke ranah politik hanyalah dampak saja, ketika gambar wajah saya ada di banyak baligo, maksud saya hanya ingin membuat standar bagi Calon Walikota Bandung agar jangan hanya punya nafsu politik tetapi tidak punya strategi,” tegasnya.

“Kedatangan saya ke SMAN 10 Bandung bukan safari politik, tapi untuk MoU pemberdayaan kewirausahaan, saya hadir untuk safari ibadah, dan saya juga mendatangi SMA –SMA di Kuningan,Garut, dan Subang,” ungkap Ujang Koswara.

Di akhir paparannya Ujang Koswara mengatakan, orang yang ber-value bukanlah orang kaya, karena sekaya-kayanya orang kaya makan tidak lebih dari tiga kali, jadi sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat untuk orang lain,” pungkasnya.

Kepala Sekolah SMA Negeri 10 Bandung Ade Suryaman mengatakan, kehadiran Ujang Koswara atau biasa disapa Uko di sekolahnya adalah untuk memberikan motivasi kepada anak didik khususnya kelas 12 agar mampu membuat karya karya seperti Uko, “Semoga siswa-siswi nanti setelah lulus dari SMA maupun Pergurun Tinggi dapat mandiri  dan menghasilkan sesuatu yang baik,” ujarnya, “Saya juga menyampaikan kepada Uko agar menceritakan semua pengalamannya kepada siswa-siswi SMA Negeri 10 Bandung,” ungkapnya.

“Kedatangan Ujang Koswara dalam rangka acara Alumni Berbagi dan MoU serta pelatihan Listrik Mandiri Rakyat atau Limar,” ungkap Ade Suryaman, “MoU targetnya satu tahun tapi sebetulnya tidak berbatas,” ujarnya. Ade Suryaman

“Kami bangga dengan kedatangan Ujang Koswara ke SMA Negeri 10 Bandung, karena seperti diketahui Uko sangat gigih, mandiri dan memiliki mental baja,” kata Ade Suryaman, “SMA Negeri 10 Bandung di acara Alumni Berbagi tidak hanya mendatangkan Ujang Koswara, tetapi kami juga akan memanggil alumni SMA Negeri 10 Bandung lainnya,” pungkas Ade Suryaman. (Bagoes Rinthoadi)

Comments are closed.