Mayjen TNI Doni Monardo Tiga Kali Menahan Tangis di Hadapan Para Jurnalis

IMG-20180321-WA0048

ARCOM.CO.ID ,Bandung. Mayjen TNI Doni Monardo yang setelah Sertijab akan meninggalkan jabatan lama Pangdam III/Siliwangi dan mendapat jabatan baru sebagai Sesjen Wantanas, tidak kuasa menahan tangis di hadapan para Jurnalis yang biasa bertugas meliput kegiatan Pangdam III/Siliwangi dan Kodam III/Siliwangi.

Kejadian mengharukan ini terjadi ketika Mayjen TNI Doni Monardo memberikan kata sambutan di acara “Penghargaan Kepada Tokoh Masyarakat dan Media yang Berdedikasi dalam Program Citarum Harum”, Selasa, (20/3/2018), di Makodam III/Siliwangi jalan Aceh Bandung.

Turut hadir di acara ini, Mayjen TNI Besar Harto Karyawan, S.H., M. Tr.(Han) yang setelah Sertijab akan menjabat sebagai Pangdam III/Siliwangi, Para Pemimpin Redaksi baik cetak, radio, televisi, maupun Online, Tokoh Masyarakat, Pegiat Lingkungan, Budayawan, dan para Jurnalis.

“Saya mohon pamit,” kata Mayjen TNI Doni Monardo dengan mata berkaca-kaca seraya menahan tangis, sambutan pun terhenti sekitar 10 detik, dan suasana Aula Makodam pun hening, “Saya pamit karena ada surat perintah, dan sebagai prajurit, saya tidak mungkin menolak, ujarnya.

Mayjen TNI Doni Monardo yang berbadan tinggi besar kemudian melanjutkan sambutannya di hadapan tamu undangan yang sebagian besar matanya berkaca-kaca menahan haru, “Hingga saat ini masih banyak pertanyaan yang diajukan kepada saya, yaitu mengapa tentara khususnya Kodam III/Siliwangi mengurusi sampah dan Sungai Citarum,” ungkapnya.

Lebih lanjut Mayjen TNI Doni Monardo mengungkapkan dirinya sempat berbincang dengan Pangdam III/Siliwangi sebelumnya yaitu Mayjen TNI Muhamad Herindra yang sekarang menjadi Irjen TNI, dalam perbincangan tersebut ternyata ada kerjasama antara Kodam III/Siliwangi dengan pihak Pemprov Jawa Barat selama dua tahun.

“Maka pada tanggal 20 November 2017 saya mengundang 250 orang aktivis lingkungan dari Bogor, Cirebon, Bandung, Cimahi, dan beberapa daerah lainnya,” ungkap Mayjen TNI Doni Monardo, “Di acara diskusi tersebut, saya berdialog dan berdiskusi dengan para aktivis lingkungan sejak pukul 12 siang hingga pukul 20.30 malam, walaupun pada akhirnya dari 250 orang yang tinggal hanya 1/3 nya,” ungkapnya.

“Dari dialog tersebut saya mendapatkan data, ternyata dari 30 persen, Daerah Aliran Sungai Citarum tinggal 8,9 persen,” ungkap Mayjen TNI Doni Monardo, “Sungai Citarum sepanjang 300 km limbah industrinya sangat luar biasa dan ikan yang mampu bertahan hidup di sungai Citarum hanya ikan sapu-sapu,” ujarnya, “Akhirnya tanggal 21 November saya bertemu dengan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan untuk menyampaikan rencana ke depan terkait sungai Citarum,” kata Mayjen TNI Doni Monardo.

20180320_171734

“Ternyata masalah Citarum bukan hanya tentang membersihkan Sungai, tetapi membersihkan perilaku masyarakat,” kata Mayjen TNI Doni Monardo, “Maka akhirnya saya membagi Sungai Citarum menjadi 20 sektor dengan dipimpin 30 Kolonel,” ungkapnya.

“Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan bahkan menanyakan kepada saya, kenapa baru sekarang mengurusi Sungai Citarum,” ungkap Mayjen TNI Doni Monardo, “Saya menjawab paling bagus mengurus sungai Citarum adalah 20 tahun yang lalu, tetapi walaupun baru sekarang, tidak ada kata terlambat,” tegasnya.

“Ketika saya diundang sebagai pembicara di acara Loka Karya yang dihadiri Menko Maritim, saya mengatakan, yang kurang dalam mengurus Sungai Citarum adalah tidak adanya kesamaan komando,” tegas Mayjen TNI Doni Monardo, “Akhirnya saya meminta payung hukum untuk mengurus sungai Citarum agar tidak ada pihak-pihak yang terambil porsinya oleh tentara,” ujarnya.

“Masa depan Indonesia ada di Jawa Barat,” kata Mayjen TNI Doni Monardo, yang kembali matanya berkaca-kaca menahan tangis, dan sambutan pun terhenti selama 15 detik, dan suasana kembali hening, dan tentu saja sebagian tamu undangan turut menahan tangis melihat kejadian ini.

Mayjen TNI Doni Monardo kemudian kembali meneruskan sambutannya, “Sebanyak 27 juta jiwa terdampak oleh sampah dan limbah yang mengotori sungai Citarum, dan sebanyak 35 juta jiwa tergantung dari sungai Citarum,” tegasnya, “Bahkan sebanyak 80 persen warga DKI Jakarta tergantung kepada Sungai Citarum,” ungkapnya.

“Saat ini sudah ada masyarakat yang tidak mendapatkan air bersih, dan harus membeli air untuk minum,” ungkap Mayjen TNI Doni Monardo, “Ketika harga BBM naik kita teriak, tetapi ketika masyarakat kekurangan air bersih kita diam saja,” ujarnya geram, “Jangan mencari siapa yang salah, karena tidak ada gunanya,” tegasnya.

Lebih lanjut Mayjen TNI Doni Monardo mengatakan, Sungai Citarum sudah lama terkenal sebagai sungai terkotor di dunia, “Coba lihat saja sungai Citarum dengan mata telanjang,” ujarnya.

“Sungai Citarum begitu banyak persoalan, karena sebanyak 1900 industri di sekitar Sungai Citarum banyak IPAL-nya tidak sesuai,” tegas Mayjen TNI Doni Monardo, “Padahal ketika air di Sungai Citarum berkurang, maka pasokan listrik ke Pulau Jawa dan Bali akan terhenti, dan hal ini menyangkut ketahanan nasional dan stabilitas nasional, serta kualitas hidup menurun bila listrik terhenti,” ujarnya.

IMG-20180321-WA0050-1

Mengenai ikan yang ada di tiga Waduk yang dialiri sungai Citarum, Mayjen TNI Doni Monardo mengungkapkan, penjaga Waduk saja tidak ada yang berani makan ikan dari sungai Citarum, “Karena memang kualitas ikannya tidak bagus, tetapi tetap saja di jual kepada masyarakat,” ungkapnya.

Mengenai program Citarum Harum, Mayjen TNI Doni Monardo mengungkapkan, hal ini baru pertama terjadi yaitu konsep Militer dan Sipil bersatu, “Semua pihak punya peran penting masing-masing,” ujarnya.

“Perilaku masyarakat terhadap sungai Citarum harus kita ubah, dan kami para tentara bertempur dengan akal dan hati,” kata Mayjen TNI Doni Monardo.

“Dahulu pada masa darurat tentara membawa masalah bagi penduduk, namun saat ini saat program Citarum Harum, tentara datang ke rumah penduduk dengan membawa rejeki, karena uang makan dan saku dibelanjakan kepada penduduk sekitar,” ungkap Mayjen TNI Doni Monardo.

Mengenai harapan Presiden Joko Widodo yang menargetkan 7 tahun Sungai Citarum bersih, Mayjen TNI Doni Monardo berharap tidak perlu selama itu untuk membersihkan sungai Citarum.

“Kita memang harus sabar mengurus sungai Citarum, karena ketika di daerah Bojongsoang dan Cijagra, sungai disana sudah bersih, dalam waktu tiga hari sudah penuh sampah lagi,” ujarnya.

“Memang perlu waktu yang panjang mengurus sungai Citarum, maka Kodam III/Siliwangi akan bekerjasama dengan Kementerian Agama RI mengadakan Ustadz keliling dan menyampaikan pesan keagamaan tentang menjaga kebersihan,” kata Mayjen TNI Doni Monardo, “Islam menegaskan harus menjaga kebersihan, dan membuang sampah dan kotoran ke sungai adalah perbuatan dosa,” tegasnya

“Pendekatan berbagai sisi dalam mengurus sungai Citarum harus kita ikut sertakan, dan walaupun Pangdam III/Siliwangi berganti tiap hari, Program Citarum Harum akan tetap berjalan, karena mengurus sungai Citarum tidak tergantung pada figur,” pungkasnya, dan Mayjen TNI Doni Monardo ketika selesai memberi sambutan matanya kembali berkaca-kaca dan menahan haru karena harus meninggalkan sahabat-sahabat Jurnalis yang gencar memberitakan sungai Citarum dan memberitakan program Citarum Harum. (Bagoes Rinthoadi)

Comments are closed.