Sebanyak 138 Hacker Berkompetisi di Telkom University

20180303_130216-1

ARCOM.CO.ID ,Bandung. Sebanyak 138 Hacker (Peretas) mengikuti kompetisi bertajuk, Internet & Cyber Security Seminar and Competition (ICS2C 2018), selama dua hari, (2-3/3/2018), di Gedung Auditorium (Gedung K) Telkom University jalan Telekomunikasi Bandung.

Akhirnya 15 Hacker mampu menyisihkan para saingannya dan bertarung memperebutkan hadiah sebesar 72,5 juta rupiah yang disediakan untuk lima tim pemenang, pengumuman pemenang berlangsung, Sabtu, (3/3/2018), di Gedung Auditorium (Gedung K) Telkom University.

Rektor Telkom University Prof. Ir Mochamad Ashari, Ph. D ,ketika ditemui di acara Internet & Cyber Security Seminar and Competition (ICS2C 2018) mengatakan, nantinya pemenang ICS2C 2018 adalah Hacker yang mampu menjebol sistem yang berlapis-lapis, “Kompetisi ini merupakan simulasi, karena di Indonesia terdapat Gedung Negara dan aset negara yang memiliki Cyber Security,” ungkap Rektor.

Lebih lanjut Rektor mengatakan, anak-anak yang mengikuti kompetisi ICS2C 2018 merupakan anak-anak yang memiliki potensi dan energi yang besar, “Bahkan peserta ICS2C 2018 ada yang berasal dari SMK,” ungkapnya, “Pemenang kompetisi ini akan kita tawarkan untuk kuliah di Telkom University,” ujarnya.

Rektor menegaskan, Security merupakan poin yang sangat penting, “Saat ini sudah tidak ada batas negara, semua transaksi menggunakan Gadget, dan ke depan, Cyber Security akan semakin penting,” tegasnya.

“Pendaftar kompetisi ini 50 persen berasal dari Perguruan Tinggi mulai dari Jakarta hingga Medan, lalu ada pendaftar umum, bahkan ada pendaftar dari SMK, yang masuk 15 besar,” ungkap Rektor, “Telkom University juga mengirimkan 3 tim,” pungkasnya.

Indonesia Cyber Security Forum (ICSF) Ardi Sutedja mengatakan, Hacker adalah kemampuan melihat lubang sistem untuk dimasuki, kemampuan ini dapat digunakan untuk kriminalitas atau untuk membuat sistem pengamanan.

“Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) dan Polhukam sangat membutuhkan para Hacker, bahkan saat ini dibutuhkan 10.000 Hacker, namun sayang jumlah Hacker di Indonesia masih sangat minim,” ungkap Ardi Sutedja.

“Kami saat ini sedang memantau bakat para anak muda yang berpotensi menjadi Hacker, lalu kita harapkan yang berbakat menjadi Hacker mendapat beasiswa dari Telkom University,” kata Ardi Sutedja.

20180303_120914

Lebih lanjut Ardi Sutedja mengungkapkan, Hacker otodidak saat ini hidup di dunianya sendiri, “Kita tidak bisa memaksakan mereka untuk muncul, namun suatu saat para Hacker otodidak akan merasa teman-temannya sudah tidak ada, dan pada akhirnya Hacker tersebut akan muncul dengan sendirinya,” ungkapnya.

“Kita tinggal mencari pihak-pihak yang mau membiayai anak-anak yang berbakat menjadi Hacker untuk tujuan yang positif,” kata Ardi Sutedja, “Hacker selama ini berkonotasi negatif, sebenarnya tidak, Hacker itu disiplin ilmu untuk menguji sistem, untuk melihat kelemahan sistem, untuk melihat celah sistem dan bagaimana memperbaikinya,” tegasnya.

“Tetapi ada juga Hacker yang dijuluki Red Hat Hacker yang bertujuan negatif, sedangkan Hacker yang bertujuan positif disebut White Hat Hacker,” ungkap Ardi Sutedja.

Mengenai sistem infrastruktur, Ardi Sutedja mengungkapkan, saat ini yang mempunyai sistem infrastruktur bukan hanya di kota-kota besar saja, namun ada di daerah-daerah seperti Kelurahan, dan Kotamadya, “Belum lagi UKM, maka kita butuh 10.000 White Hat Hacker,” tegas Ardi Sutedja

“Untuk mendapatkan calon Hacker yang terlatih, maka kita akan meminta bantuan Kampus-Kampus, bahkan SMK-SMK akan kita dorong,” kata Ardi Sutedja.

“Kesempatan kerja bagi para Hacker sangat terbuka luas, dan jangan anggap para Hacker sebagai tukang semir sepatu, karena mereka merupakan orang-orang yang terlatih, maka kita akan dorong agar derajat Hacker meningkat,” kata Ardi Sutedja, “Maka para Hacker harus mampu memanfaatkan kemampuan mereka yang terselubung dan tersembunyi untuk tujuan-tujuan positif,” pungkas Ardi Sutedja.

SVP Financial Planning & Analysis PT Telkom Edi Witjara ditemui di lokasi kompetisi ICS2C 2018 mengatakan, Telkom melihat kegiatan ini sebagai portofolio, “Karena peluang Cyber Security sangat besar, dan ada energi positif yang harus dibangun,” ujarnya, “Kemampuan-kemampuan yang hebat ini harus dibina oleh negara, operator dan institusi pendidikan agar nantinya terarah,” tegasnya.

Edi Witjara menegaskan, bagi Telkom, para Hacker memiliki potensi besar, “Oleh karenanya Telkom melakukan perekrutan tidak hanya dari institusi pendidikan, tetapi melalui Inkubasi level yaitu teman-teman yang sudah memiliki aplikasi,” ungkapnya, “Pemenang kompetisi ICS2C 2018 berpeluang untuk kita ajak bergabung bersama Telkom,” tegasnya.

Di akhir paparannya Edi Witjara mengatakan, Security Sistem harus dijadikan solusi untuk Customer Telkom, “Kegiatan ini dilaksanakan karena kita melihat ada peluang bisnis, selain itu, kita ingin berkontribusi kepada negara,” pungkas Edi Witjara.

ICS2C 2018 yang diadakan setiap tahun oleh Telkom University merupakan kompetisi keamanan jaringan dan informasi berskala nasional yang mengangkat konsep Capture The Flag atau CTF. (Bagoes Rinthoadi)

Comments are closed.