Rektor ITB Sampaikan Pentingnya Manajemen Resiko Bencana di Wisuda Kedua ITB Tahun Akademik 2017/2018

itb 1ARCOM.CO.ID ,Bandung. Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) Prof. Dr. Ir. Kadarsah Suryadi, DEA., berkesempatan menyampaikan pemikirannya tentang Disaster Risk Management (Manajemen Resiko Bencana), di acara Wisuda Kedua ITB Tahun Akademik 2017/2018, Sabtu, (7/4/2018), di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) jalan Taman Sari Bandung.

Rektor ITB dalam sambutannya di acara Wisuda Kedua ITB Tahun Akademik 2017/2018 mengatakan, bumi selalu mengalami perubahan, “Perubahan tidak selalu dirasakan secara langsung, kecuali saat perubahan berlangsung secara dahsyat dan berdampak besar terhadap manusia,” ujarnya.

Lebih lanjut Rektor ITB mengatakan, pergeseran lempeng bumi yang terjadi merupakan salah satu kekuatan yang mendorong proses transformasi secara menerus, “Pada beberapa kejadian, efek fenomena alam ini mengakibatkan dampak yang sangat besar bagi kehidupan manusia, misalnya gempa bumi dan tsunami,” ungkapnya.

“Indonesia dilewati tiga lempeng dunia, yaitu lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, dan lempeng Pasifik, sehingga Indonesia merupakan kawasan yang memiliki kerawananan yang tinggi terhadap kejadian gempa, tsunami, dan letusan gunung berapi,” kata Rektor ITB, “Maka tidak mengherankan jika Indonesia merupakan negara dengan peringkat atas di dunia sebagai negara yang menghadapi berbagai ancaman kerawanan bencana,” tegasnya.

“Dampak dari fenomena perubahan iklim yang paling dirasakan oleh masyarakat Indonesia adalah kekeringan, longsor, dan banjir,” ungkap Rektor ITB, “Pendangkalan sungai, penebangan hutan tanpa reboisasi, saluran air yang semakin tersumbat, dan daerah resapan air yang semakin terbatas merupakan penyebab timbulnya bencana banjir di berbagai wilayah di Indonesia,” tegas Rektor ITB.

“Menyadari potensi kerawanan bencana alam, maka Indonesia tidak tinggal diam, bersama dengan negara lain Indonesia telah menandatangani berbagai agenda internasional dalam usaha mengurangi risiko bencana di Indonesia,” ungkap Rektor ITB,

Rektor ITB mengatakan, profil wilayah Indonesia sebagai negara kepulauan yang terdiri dari sekitar 17.000 pulau, melahirkan tantangan tersendiri yang perlu kita sikapi dalam usaha mewujudkan pembangunan dan pengembangan wilayah yang aman dan berbasis manajemen mitigasi bencana yang baik.

“Kapasitas pemerintah daerah setempat dalam upaya mitigasi bencana menjadi hal yang penting untuk memperkuat kesiapsiagaan di tingkat daerah,” tegas Rektor ITB, “Namun peningkatan kesadaran dan pengetahuan masyarakat merupakan elemen penting dalam upaya mitigasi bencana,” tegasnya, “Kesadaran dan pengetahuan tentang kebencanaan dan upaya meminimalkan resikonya perlu ditanamkan kepada masyarakat sejak usia dini,” ujarnya.

itb 2“Untuk mendukung tercapainya kemandirian dalam upaya penanggulangan bencana di Indonesia ITB akan terus berupaya  mengembangkan pengetahuan, teknologi, serta rancangan kebijakan dalam rangka mengurangi risiko bencana,” tegas Rektor ITB, “Para  peneliti ITB telah banyak mengembangkan kerjasama dengan berbagai pihak baik tingkat nasional maupun internasional untuk terus mengkaji kebijakan, strategi, dan teknologi dalam upaya pengurangan risiko bencana,” ujarnya.

Rektor ITB mengungkapkan, ITB memiliki Pusat Penelitian Mitigasi Bencana dengan berbagai program penelitian terkait topik kebencanaan, “Program riset terkait mitigasi bencana yang telah dikembangkan oleh para peneliti ITB diantaranya, aplikasi bernama FEWEAS (Flood Early Warning and Early Action System), aplikasi berbasis web, android/iOS dan SMS (Short Message Service) ini untuk mengantisipasi bencana banjir di beberapa wilayah sekitar Daerah Aliran Sungai Citarum, dan juga Bengawan Solo,” ujarnya.

“FEWEAS merupakan hasil karya bersama para pakar ITB yang diketuai oleh Dr. Armi Susandi, dari Kelompok Keahlian Sains Atmosfer Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian dengan didukung oleh International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies (IFRC), Palang Merah Indonesia (PMI), Zurich Insurance Indonesia, Perum Jasa Tirta II, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Barat, Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air (PUSAIR) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum, serta Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR),” ungkap Rektor ITB.

“Program riset lainnya adalah Sistem Informasi Cuaca Eksperimental yang dikembangkan oleh Kelompok Keahlian Sains Atmosfer, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, yang dipimpin oleh Dr. Nurjanna Joko Trilaksono,” kata Rektor ITB, “Sistem Informasi Cuaca berupa portal weather-dot-meteo merupakan satu-satunya yang dibuat oleh Universitas di Asia Tenggara,” ungkap Rektor ITB, “Portal ini merupakan ‘etalase’ dari penerapan cuaca ‘state of the art’ yang memadukan komputasi kinerja tinggi dan model prediksi cuaca mutakhir, produk portal ini didukung oleh komunitas siaga banjir, TEIN2 Project, MAIPARK, dan Kyoto University,” ujarnya.

“Riset lainya dikembangkan oleh pakar ITB dari Kelompok Keahlian Sains dan Sistem Kerekayasaan Wilayah Pesisir dan Laut Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, di bawah coordinator Dr. Ir. Irdam Adil, M.T., adalah Protype Sistem Peringatan Dini Tanah Longsor,” ungkap Rektor ITB, “Sistem ini menggunakan sensor pendulum yang dipengaruhi oleh gaya tarik gravitasi, sehingga pendulum yang berubah akan memicu kontak untuk menyalakan sirine sebagai peringatan awal akan terjadinya bahaya tanah longsor kepada masyarakat,” ujarnya.

“Selain itu, Program Riset ITB mengembangkan peralatan pendeteksi petir yang disebut Early Warning Lighting Detection dari Kelompok Keahlian Ketenagalistrikan Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) di bawah pimpinan Ir. Syarif Hidayat MT,Ph.D.,” kata Rektor ITB, “Cara kerjanya, alarm akan muncul apabila awan berpotensi mengeluarkan petir dari pengukuran medan listrik statis dengan radius 2 Km,” ungkapnya.

“Kemudian ada Program riset Sistem Radar Cuaca Nasional yang dikembangkan Kelompok Keahlian Teknik Telekomunikasi STEI ITB, dipimpin oleh Dr. Ir. Muhammad Ridwan Effendi,MA. Sc., dkk, bersama PT. Inti dan BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika),” ungkap rektor ITB, “Sistem yang digunakan untuk mendeteksi karakteristik cuaca ini pada tahapan proses mendapatkan sertifikasi, dan bila berhasil, akan menjadi sistem radar cuaca yang pertama kali dibuat oleh anak bangsa Indonesia,” pungkas Rektor ITB.

Total wisudawan di Wisuda Kedua ITB Tahun Akademik 2017/2018 adalah sebanyak 567 wisudawan Program Sarjana, 793 wisudawan Program Magister dan 74 wisudawan Program Doktor. (Bagoes Rinthoadi)

Comments are closed.