PN Niaga Jakarta Pusat Harus Menolak Gugatan Pailit Terhadap PT Kagum Lokasi Emas

yan 1ARCOM.CO.ID ,Bandung. Ketua DPW Perwiranusa Jawa Barat Ir. Yan Permana MM., menegaskan PN Niaga Jakarta Pusat harus menolak gugatan pailit terhadap PT Kagum Lokasi Emas (KLE) sebagai developer Grand Asia Afrika Residence  (GAAR) Bandung, dan dirinya selaku pemilik unit B 388 Grand Asia Afrika Residence Bandung memohon kepada Presiden Joko Widodo, DPR RI, Gubernur Jabar, dan Walikota Bandung untuk ikut terlibat dalam upaya menghentikan proses pailit yang  kini  tengah dihadapi PT Kagum Lokasi Emas (KLE) sebagai developer  GAAR.

Hal ini diungkapkan Yan Permana yang juga merupakan Dewan Pengawas Koperasi GAA Mandiri kepada para awak media, Sabtu, (4/8/2018), di Dakken Restaurant jalan RE Martadinata Bandung, turut hadir Direktur Utama PT Kagum Lokasi Emas Nugroho Tjondrojono, dan Pengacara Paguyuban Konsumen Grand Asia Afrika Residence Agung Subagiono.

“Gugatan pailit yang tengah bergulir di PN Niaga Jakarta Pusat dirasakan sangat tidak beralasan dan tidak masuk diakal, karena permohonan pailit yang dilayangkan dua orang konsumen dilatarbelakangi unsur rekayasa dari pihak-pihak tertentu,” kata Yan Permana di awal paparannya.

Lebih lanjut Yan Permana mengatakan, berdasarkan hasil penyelidikan, kedua konsumen yang mengajukan gugatan pailit sebenarnya tidak sungguh-sungguh berniat untuk menggugat ke pengadilan, “Meski mereka merasa kecewa atas keterlambatan serah terima apartemen, mereka hanya menginginkan pihak developer  mengembalikan uang atau melakukan pergantian unit di tower yang sudah selesai dibangun,” ujarnya.

yan 2“Namun kekecewaan mereka dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang ingin mengail di air keruh,” ungkap Yan Permana, “Faktanya proses negosiasi damai yang diinginkan kedua konsumen tidak dapat dilaksanakan, karena adanya keterlibatan pihak lain yang seolah-olah menghalangi proses damai tersebut, akibatnya muncul gugatan pailit yang kini menyeret sebanyak 1756 pembeli unit di Grand Asia Afrika Residence  (GAAR) Bandung,” tegasnya.

Yan Permana mengatakan, indikasi rekayasa semakin tampak ketika kedua konsumen pada akhirnya mencabut gugatannya di pengadilan, “Namun lagi-lagi proses damai yang diupayakan antara penggugat dan seluruh pemilik apartemen GAAR menemui jalan buntu, sebab meskipun mereka sudah mencabut gugatannya, Hakim PN Niaga ternyata tidak mengakomodir proses damai tersebut dengan alasan pihak tergugat tidak mengajukan  proposal perdamaian,” ujarnya.

“Sungguh ironis, sebanyak 1756 konsumen yang membeli unit sarusun dengan cara menyicil kini nasibnya diujung tanduk,” ungkap Yan Permana, “Meski  dalam proses voting mayoritas kreditur menyatakan dukungan untuk tolak pailit, tetapi hal itu tidak memberi jaminan unit yang dimiliki benar-benar aman dari kemungkinan pailit,” ujarnya, “Sebabnya persidangan yang  semula berawal dari kekecewaan konsumen, kemudian menyeret dua bank besar yang memberi  jaminan pembiayaan kepada developer, yaitu Bank Bukopin dan Bank ICBC,” ungkapnya.

“Inilah pangkal persoalan yang sesungguhnya,” kata Yan Permana, “Salah satu bank pemberi kredit yaitu Bank ICBC menolak menyetujui  proposal perdamaian dengan alasan developer sebagai debitur  tidak mentaati perjanjian  kredit, artinya proses pembayaran cicilan sering diabaikan pihak developer, sehingga bank merasa dirugikan,” ungkapnya.

yan 3Yan Permana mengungkapkan, berbagai upaya telah dilakukan agar negosiasi damai berhasil dilaksanakan, “Pihak developer menawarkan untuk menjual aset-aset yang diagunkan agar hutang-hutang  developer bisa  terbayar,” kata Yan Permana, “Namun lagi-lagi proses perdamaian terbentur berbagai kendala, antara lain aset yang dijaminkan tidak kunjung terjual, sehingga developer tidak bisa secepat mungkin memenuhi kewajibannya, sementara permohonan perpanjangan waktu dalam pembayaran hutang juga tidak disetujui oleh pihak ICBC,” ungkapnya.

“Akibatnya sudah bisa ditebak, sidang pembacaan putusan yang rencananya akan digelar Senin, 6 Agustus 2018 menimbulkan kekhawatiran dari para pemilik unit GAAR,” kata Yan Permana, “Meski kenyataannya sebagian besar kreditor termasuk pihak dari Bank Bukopin menyatakan dukungan untuk tercapainya perdamaian, namun palu hakim tentu tak bisa ditebak,” ujarnya.

“Ada banyak kekhawatiran putusan yang nanti dibacakan hakim tidak akan berpihak kepada para pemilik unit,” ungkap Yan Permana, “Ada kekhawatiran juga tangan-tangan jahil ikut berperan dalam pembacaan putusan nanti,” tegasnya, “Tentu saja hal itu cukup beralasan bila merujuk pada sidang-sidang sebelumnya, dimana proses perdamaian yang diajukan penggugat ternyata tidak diindahkan majelis hakim,” ujarnya.

Yan Permana mengatakan, kekhawatiran tersebut tentu sangat beralasan, meskipun  berdasarkan hasil voting sebesar 99,79% kreditur konkuren menyetujui proposal  perdamaian, namun dari pihak kreditur separatis yang menyetujui hanya satu bank, yaitu Bank Bukopin sebesar 69,17%, “Menurut  pasal 281 ayat (1) UU KPKPU Bab III tentang  Penundaan Pembayaran Kewajiban Utang, syarat perdamaian dapat diterima bila ½  dari jumlah kreditor konkuren dan mewakili 2/3 tagihan yang diakui, mengakui dan menyetujui perdamaian, dan ½+1 dari kreditur separatis yang mewakili 2/3 tagihan kreditor menyetujui  perdamaian,” ungkap Yan Permana.

yan 6“Permasalahannya dalam voting tersebut  syarat ½+1 belum terpenuhi karena jumlah kreditor separatis hanya ada dua, jadi khusus untuk kreditur separatis posisinya masih  fifty-fifty, celah inilah yang dikhawatirkan akan digunakan pihak ICBC untuk  men-drive hakim,” tegas Yan Permana.

“Saya tidak bermaksud berprasangka buruk terharap aparat penegak hukum, namun semua kemungkinan bisa terjadi, termasuk diantaranya kemungkinan hakim justru berpihak kepada bank pemberi kredit yaitu Bank ICBC,” kata Yan Permana, “Jika demikian yang terjadi, maka ujung-ujungnya bisa ditebak yaitu sebanyak 1756 konsumen pembeli unit sarusun GAAR nasib kepemilikannya akan semakin suram,” tegasnya, “Karena jika putusan pailit dijatuhkan hakim, secara otomatis  tanah dan bangunan GAAR akan jatuh ke tangan kurator yang kemudian akan  masuk dalam proses lelang,” ungkapnya.

“Lantas bagaimana hak-hak  1756 konsumen yang telah membeli unit di GAAR? Ya entahlah, yang pasti bercermin pada berbagai kasus yang pernah muncul di republik ini, jika putusan sampai pada kata ‘pailit’, maka yang paling  banyak menelan pil pahit adalah para pembeli unit, dan itu bukan lagi menjadi rahasia umum,” ujarnya.

Di akhir paparannya Yan Permana mengatakan, para pemilik unit di Grand Asia Afrika Residence memohon dengan sangat kepada pihak-pihak terkait agar turut memikirkan nasib para pemilik yang tengah dihadapkan pada masalah yang jelas sangat merugikan, dan tidak adil.

yan 5Pengacara Paguyuban Konsumen Grand Asia Afrika Residence Agung Subagiono mengatakan, permasalahan ini bermula dari dua orang pemilik GAAR yaitu Donny Prattiwa dan Ariyanti Primawati yang merasa kecewa kepada pihak developer KLE, karena unit milik mereka belum diserahterimakan sebagaimana yang yang dijanjikan, “Kemudian Donny Prattiwa dan Ariyanti Primawati dihubungi oleh Zaenudin yang mengaku sebagai pengacara dan bersedia membantu permasalahan tersebut agar Donny Prattiwa dan Ariyanti Primawati dapat segera menempati unit yang sudah dibelinya, “Layaknya klien dan pengacara akhirnya mereka bersepakat membuat surat kuasa hokum,” ungkapnya.

“Hal seperti ini tidak logis, biasanya yang mencari pengacara itu klien, tetapi ini sebaliknya, mengapa pengacara yang mencari klien, oleh karena itu saya menduga sejak awal ada unsur rekayasa hukum,” tegas Agung Subagiono.

“Setelah Zaenudin ditunjuk sebagai kuasa hukum, Zaenudin melakukan serangkaian tindakan hukum berupa somasi kepada KLE, akhirnya pihak KLE menawarkan kepada Donny Prattiwa dan Ariyanti Primawati untuk pindah unit yang telah siap huni, namun surat jawaban dari KLE tidak disampaikan kepada kliennya,” ungkap Agung Subagiono.

Agung Subagiono mengungkapkan, Zaenudin akhirnya melayangkan kembali surat somasi kedua kepada pihak KLE, yang kemudian dijawab oleh KLE dengan nomor surat: 056/II/18/JCI-MMF/TS, tanggal 14 Februari 2018, yang isinya menawarkan kepada Donny Prattiwa dan Ariyanti Primawati untuk pindah unit yang telah siap huni, dan atau pembatalan unit disertai refund.

yan4“Anehnya surat tanggapan kedua atau jawaban kedua dari KLE tidak pernah disampaikan oleh Zaenudin kepada kliennya, dan sejak ditandatanganinya surat kuasa hukum antara pengacara Zaenudin dan kliennya yaitu Donny Prattiwa dan Ariyanti Primawati, mereka tidak pernah berkomunikasi,” ungkapnya.

Agung Subagiono mengatakan, para pemilik GAAR Bandung baru mengetahui perkara ini setelah masuk di Pengadilan Niaga pada bulan Mei 2018, “Sehingga kami harus mencari tahu dan mengumpulkan para penghuni GAAR termasuk para pihak yang terkait perkara ini, dan kami mencoba menghubungi Zaenudin, namun hingga saat ini nomor telepon Zaenudin tidak bisa dihubungi, dan keberadaannnya tidak diketahui,” ujarnya.

Lebih lanjut Agung Subagiono mengatakan, atas dasar agenda voting, maka pada 6 Agustus 2018 akan diputuskan oleh majelis hakim, PT KLE akan dilakukan Homologasi atau bahkan dinyatakan pailit, “Jika putusan pailit yang dijatuhkan hakim otomatis tanah dan bangunan GAAR akan jatuh ke tangan kurator yang kemudian akan masuk dalam proses lelang,” pungkasnya.

Direktur Utama PT Kagum Lokasi Emas Nugroho Tjondrojono mengungkapkan, sebenarnya Donny Prattiwa dan Ariyanti Primawati telah menyatakan berdamai dengan PT KLE, yaitu pembatalan unit, serta menerima haknya kembali (Refund) dan juga telah membuat serta melayangkan surat kepada Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, tanggal 11 Mei 2018, terkait pencabutan perkara nomor: 36/PDT.Sus-PKPU/2018/PN.Niaga.Jkt.Jkt.Pst yang disertai bukti-bukti pendukung.

“Selain itu, perkara gugatan pailit telah diputus dalam PKPUS, dan pada 1 Agustus 2018 telah dilakukan voting yang menghasilkan antara lain, Kreditur separatis Bank Bukopin menyetujui proposal perdamaian yang diajukan oleh debitur PT KLE, Kreditur separatis Bank ICBC menolak perdamaian yang diajukan oleh debitur PT KLE, Kreditur konkuren sebanyak 99% menyetujui proposal perdamaian yang diajukan oleh debitur PT KLE,” pungkas Nugroho Tjondrojono. (BRH)

Comments are closed.